Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 82 : Monster Yang Terbangun


__ADS_3

Salju telah berhenti berjatuhan saat Souma baru saja sampai di rumah tujuannya, ia menepuk-nepuk pakaiannya yang tertutup salju sebelum mengetuk pintu depan dengan ketukan pelan.


Yang menyambutnya seorang wanita yang mengikat rambutnya ke belakang, menatapnya penuh khawatir.


"Tuan Souma."


"Sepertinya kau hendak pergi ke tokoku."


"Um, aku menunggu salju berhenti dan sekarang aku hendak pergi."


Wanita itu melihat keranjang obat yang dibawa Souma hingga dia membisu di tempat.


"Salju mungkin akan turun lagi jadi aku datang mengantarkan obatnya, kurasa cukup sampai dua Minggu lebih."


"Ini... terima kasih banyak."


"Kalau begitu aku permisi, semoga putrimu cepat sembuh."


"Aku belum membayarnya."


"Yang itu gratis."


Putrinya memiliki penyakit yang cukup sulit disembuhkan hanya dengan rutin meminum obat ia akan sembuh secara bertahap, Souma meregangkan tangannya kemudian memunculkan sebuah katana di tangan kirinya sebelum menghembuskan nafas panjang.


"Mereka semua mengincar desa ini juga, benar-benar membuatku tidak bisa bersantai di hari seperti ini."


Souma menghilang dan muncul di atas pohon di mana dia bisa melihat empat orang sedang mengendap-endap di antara salju putih. Ketika mereka merasakan kehadiran Souma tubuh mereka tertebas dengan cepat hingga menyemburkan darah ke udara.


"Kerajaan Alman kah."


Tanpa menunggu lagi Souma melompat ke dahan pohon lainnya dan membunuh siapapun yang ia temui, itu hampir sekitar 200 orang yang Souma bunuh dalam waktu singkat, seorang pria dengan sebelah penutup mata berhasil menghindari tebasan Souma sebelum melompat ke belakang menjaga jarak.

__ADS_1


Dia mungkin pemimpin dari pasukan kecil ini.


"Siapa kau?"


"Aku jenderal baru dari kerajaan Alman."


"Baru, dengan kata lain yang lama telah mati."


"Dia mengundurkan diri."


"Berarti orang itu lebih pintar dari kalian."


Pria itu menjatuhkan dirinya ke tanah sementara pohon di sekelilingnya berjatuhan.


Keringat dingin mengalir di wajah pria itu dibarengi ketakutan intens yang menjalar melewati punggungnya.


"Aku menyerah, kami akan segera mundur."


"Bagaimana bisa kau?"


"Kalian telah menginjakkan kaki kalian di desa ini maka dari itu kalian harus membayar, ah benar... lebih baik aku hancurkan kerajaan kalian sebagai pembayaran."


"Mustahil."


"Tadinya aku tidak ingin terlibat dalam perang namun karena kalian mencoba menghancurkan desa ini maka terimalah akibatnya."


"Tolong jangan lak.."


Sebelum pria itu menyelesaikan perkataannya, Souma telah menusuk tubuh pria itu hingga darah menyembur dari mulutnya.


"Kau pasti orang yang bernama Souma."

__ADS_1


Saat pedang dicabut tubuh pria itu jatuh tanpa daya, Souma menggunakan sihir telepatinya di mana Law yang sedang berperang tampak terkejut dengan hal itu.


"So-Souma, aku sedang sibuk bisakah kau nanti saja menghubungiku."


"Apa maksudnya ini? Ada pasukan kerajaan lain yang mengincar desa Huruhara."


"Ah maafkan aku, keempat kerajaan menyerang secara serempak jadi beberapa bisa keluar dari pengawasan kami."


Souma menghela nafas panjang.


"Setelah kalian selesai di sana pergilah ke kerajaan Alman, aku akan menyerang negara itu sendirian."


"Oi, oi tunggu sebentar... aku pemimpinnya di sini."


"Ini perintah khusus."


Sambungan telepati putus dalam sekejap dan tanpa pembicaraan lagi Souma berjalan pergi setelah mengatakan pada Anna bahwa dia tidak akan pulang hari ini.


Sementara Souma berjalan santai Law yang mendengar perkataannya hanya merinding setelah menjatuhkan beberapa pasukan di dekatnya, Kasman yang memperhatikan keanehan itu bertanya ke arahnya.


"Ada apa komandan, pak tua ini melihatmu tampak khawatir."


"Mereka semua telah menginjak ranjau."


"Maksudmu musuh?"


"Monster yang selama ini tertidur kini telah terbangun."


"Ya ampun pak tua ini tidak mengerti apa yang anda katakan, memang ada monster apa di desa Huruhara, mungkinkah ada naga?"


"Naga pala lu. Cepat selesaikan perang ini gajimu akan dinaikkan."

__ADS_1


"Pak tua ini harus bergegas kalau begitu."


__ADS_2