
Dia mengarahkan ujung senjatanya ke kepalanya selagi menyeringai dengan penuh kegilaan.
"Sekarang terimalah kematian kalian."
Tepat saat dia akan menarik pelatuknya seorang pria tiba-tiba muncul dari atasnya memukulnya dengan tangan hingga dia tidak bergeming.
Pria itu mengenakan pakaian seperti pedagang dengan rambut emas sebahu acak-acakan.
"Kenapa kau memukul kepalaku Jerald?"
"Sudah jelas kan, membunuh musuh yang sudah babak belur benar-benar tindakan pengecut."
"Kau berada di sisi jahat, kau benar-benar mengatakan itu," balas Fram memegangi kepalanya yang benjol.
Bagaimana pun pukulan barusan tidak sepantasnya diterima seorang wanita.
Souma yang telah menyatukan kembali tangannya segera mencoba bangkit untuk berdiri di dekat Shiji.
"Kita penjahat yang berbudaya, yah aku tidak tahu denganmu Fram tapi aku tidak mengizinkanmu untuk menghabisi mereka."
Shiji menatap sosok keduanya tanpa menghilang kewaspadaannya, sudah jelas bahwa mereka kini sudah tidak berdaya namun pria itu malah memilih membiarkannya begitu saja.
Terlebih bagaimana bisa penyihir itu menuruti pria ini padahal dia tidak memiliki mana sedikit pun.
Ketika pikiran Shiji dipenuhi pemikiran tersebut pria bernama Jerald telah berada di depannya selagi menyentuh bahunya, dia juga menyentuh Souma selagi berkata.
"Kuharap kalian tidak menyalahkan penyihir, mereka perlu sesuatu untuk menghilangkan kegilaan."
"Apa tujuan kalian?" tanya Souma.
"Tujuanku, hanya satu... mengalahkan orang yang telah merubah kami jadi penyihir."
Ketika Shiji dan Souma melirik ke arah pria tersebut, wajahnya telah menyisakan tengkorak.
Itu hanya sesaat sebelum kembali sedia kala.
__ADS_1
"Kalau begitu kami permisi, maaf atas keributannya, ayo kembali Fram."
"Jika kau mengatakan itu, apa boleh buat.. pulang nanti tolong buatkan aku makanan lezat."
"Baik, baik."
Pria misterius muncul di tengah pertarungan adalah sesuatu yang terduga, entah Shiji atau Souma menjatuhkan dirinya ke bawah dengan perasaan lega.
Sejujurnya mereka sudah kehilangan kekuatan mereka.
"Kau terluka parah," kata Souma.
"Berkat pedangmu."
"Maaf soal itu."
Souma menebaskan kembali pedangnya dan kutukan di tubuh Shiji telah diambil, dia melemparkan potion padanya.
"Kalau sekarang kurasa itu akan bekerja."
"Fuwaah, aku merasa sehat kembali... obatmu benar-benar ampuh."
"Tentu saja, aku kan seorang alkemis."
"Begitukah."
Keduanya tertawa lepas saat sosok Lilith muncul dengan Aileen yang memegangi lengannya.
Lilith memeluk Souma erat sembari menangis.
"Tuan Souma, syukurlah Anda selamat."
"Maaf membuatmu khawatir Lilith."
"Tidak apa."
__ADS_1
Shiji tersenyum hangat di sebelahnya hingga Aileen membungkukan badan ke arah mereka.
"Aku minta maaf, aku sudah mendengar keseluruhan kejadiannya. Aku memang membenci manusia tapi aku tidak pernah meminta bahwa mereka harus membunuh sesama ras iblis."
"Dengan kata lain penyihir barusan yang melakukannya, kurasa dia bisa menyamar jadi sepertimu," kata Shiji.
Souma lalu menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku juga, sepertinya aku juga membunuh seluruh prajurit ras iblis di benua ini termasuk anggota Six Seven Heaven Fall."
Souma berdeham sekali selagi menggaruk kepalanya.
"Soal itu, aku menghidupkan seluruh orang yang berada di benua barat. Aku pikir itu akan membebani semua orang jika mereka mati."
Souma tampak terkejut atas pernyataan Shiji.
"Bukannya itu mustahil dilakukan?"
"Bagaimana mengatakannya, anggap saja sebuah pengecualian dan katakan bahwa kejadian barusan tidak pernah terjadi."
"Shiji, siapa kau sebenarnya?"
"Aku pernah menyelamatkan alam dewi jadi bisa dikatakan mereka akan mengizinkannya."
Entah Souma atau Aileen membungkukan badan padanya.
"Kalian terlalu berlebihan."
Di saat yang sama anggota Six Seven muncul melakukan hal sama.
"Kami juga minta maaf, kami."
"Sudahlah jangan dipikirkan lagi, aku bilang mari lupakan semuanya, kuharap kalian mulai dari sekarang mencoba memperbaiki semuanya."
Mereka menatap Shiji dengan wajah kagum bahkan semua orang bisa melihat bagaimana tubuh Shiji bersinar terang. Tentu itu hanya halusinasi mereka saja.
__ADS_1