Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 86 : Serangan Ke Ibukota Alman


__ADS_3

Bonus Chapter.


Pelanggan x : Belakangan ini aku sulit tidur padahal selama ini aku bisa tidur lebih dari 12 jam, apakah ada obat yang bisa membuatku tidur lama.


Souma : Yang ini, poison 100 dengan ini kau bisa tidur selamanya.


Pelanggan x : Sialan, ngajak berantem.


-


Pelanggan y : Hari-hari ini aku sering melihat wanita-wanita di ibukota, mereka sangat cantik dan dada mereka besar-besar, aku juga melihat banyak model di majalah dewasa, apa menurutmu aku masih ada di jalan yang lurus?"


Souma : Kau masih di jalan yang lurus... lurus ke arah neraka.


Pelanggan y : Apa?


Souma : Ini bukan gereja ini toko obat, kau ingin kutendang keluar atau berdiri di sana tanpa membeli apapun, satu menit satu koin emas.


-


Pelanggan z : Aku tiba-tiba saja hilang ingatan dan tak tahu namaku, apa ada ramuan atau obat yang bisa membantuku."

__ADS_1


Souma : Ada, berapa kilogram?"


Pelanggan z : Berapa untuk apa?"


Souma : Hilang ingatan hanya bisa disembuhkan dengan benturan di kepala, aku sudah membuat palu besi seberat 20 kg juga.


Pelanggan z : Maafkan aku, aku cuma bercanda.


Undine : Toko ini sudah berada di lingkaran setan.


***


Souma terus berperang hingga pagi hari tiba, di depannya sekitar 10 penyihir atas telah mengangkat tongkatnya selagi melantunkan mantra panjang dan masing-masing dari mereka menembakan sihir api menerjang kepadanya.


"Mustahil, kenapa ada orang sepertinya? Dia tidak merapal sihir bahkan sihir api level atas tidak berpengaruh padanya."


"Jangan khawatir, dia sudah bertarung cukup lama ia juga pasti kehilangan banyak mana bukan."


Souma mendesah pelan lalu menjentikkan jarinya. Jika sihir hanya sebatas peringkat tidak akan ada kemajuan di antara mereka.


"Fire Bolt," gumamnya santai.

__ADS_1


Bola-bola api melesat pada mereka, menghempaskannya hingga terkirim jauh ke belakang dengan deburan debu ke udara. Sudah 24 jam Souma bertarung dan dia telah sampai di ibukota kerajaan Alman.


Ini jelas tidak masuk akal, Souma sebenarnya berlari dengan kecepatan 100 km/jam hingga tak perlu waktu lama baginya untuk sampai dari satu tempat ke tempat lainnya, ia juga mulai sedikit merasakan pasukan Law sedang menyusulnya dari kejauhan karena masih tertutup salju perjalanan mereka jelas akan lebih lambat dari seharusnya.


Tapi bagi Souma mereka hanya datang untuk meng-klaim kemenangan yang Souma akan buat sisa pertarungan dia akan menyelesaikannya seorang diri.


Para prajurit musuh tak membiarkan Souma semakin mendekat ke kerajaan, mereka memasang blokade dengan perisai besar dan di belakang mereka para pasukan pemanah mulai menembakinya namun, dalam sekejap tanpa menjatuhkan mereka Souma telah berdiri di belakang mereka seolah tak terjadi apapun.


Ketika mereka berbalik darah menyembur ke udara membuat semuanya tumbang dalam sekejap, akan jauh lebih mudah jika mereka bisa menyerah seutuhnya sayangnya empat orang telah menunggunya di depan gerbang istana.


Keempatnya terlihat seperti pembunuh elit yang sama-sama mengenakan pakaian kesatria, itu jelas tidak cocok untuk menggambarkan citra dari sebuah kerajaan.


"Iblis kematian kini perjalananmu sudah selesai, kami adalah pasukan elit yang akan mengalahkanmu di sini.. jadi jangan harap kau bisa mengalahkan kami."


Souma teringat dengan orang yang dikalahkan olehnya ketika di hutan desa tempat tinggalnya, mungkin mereka berada di satu grup.


"Benar sekali, kau beruntung hanya melawan makhluk lemah.. kami jelas lebih tangguh dari mereka."


"Aku juga berfikiran sama."


"Begitu denganku."

__ADS_1


"Jangan banyak bicara, serang aku sebisa yang kalian mampu," kata Souma datar.


__ADS_2