
Pertama Souma mengirim beberapa kotak sabun ke pemandian Luna. Karena tak ingin disebut madam jadi Souma memanggilnya demikian.
"Aku mengantarkan barang."
"Souma ikut aku "
Luna menarik tangan Souma ke dalam kamar.
"Karena sudah ada di sini, mari lakukan itu."
"Aku harus mengirimkan barang ke tempat lainnya."
"Cuma sebentar."
Setelah dua jam akhirnya Souma bisa terbebas dari Luna yang tersenyum puas di atas ranjangnya, ia merasa bersalah karena pengiriman sedikit terlambat kalau saja ada Arina ia mungkin akan terbantu.
Ketika dia melewati jalan, tampak seorang pria sedang memasang poster.
Souma meliriknya sesaat sebelum dia pikir untuk mengabaikannya.
"Jangan pura-pura tidak mengenaliku," teriak pria itu.
"Apa kita saling mengenal?"
"Akan kuhajar kau."
"Hentikan Law, apa yang kau mau dariku?" tanya Souma dengan wajah mengantuknya.
Pria dengan pakaian lusuh yang bekerja sebagai penempel poster itu adalah Lawyer von Hoster.
Dia seorang komandan kesatria, dan semenjak ibukota dipindahkan kemari dia juga berada di sini.
"Bantu aku menempelkan poster ini."
"Bukannya kau bisa meminta bawahanmu."
__ADS_1
"Semua orang sedang sibuk termasuk kedua penyihir itu, kini hanya aku yang bertugas untuk ini."
Souma ingin tertawa tapi dia memilih untuk menahannya, bisa dilihat poster itu tentang pencarian anggota kesatria baru dan juga pasukan penjaga.
"Jadi begitu, berjuanglah... aku juga sibuk."
"Kau?"
"Sialan."
Sejak kejadian peperangan melawan kerajaan, dia memang paling bekerja keras, Souma melempar botol potion untukmu.
"Ambilah, itu akan sedikit membantu."
Souma pergi begitu saja untuk mengantar kirimannya.
"Souma aku menyukaimu, kenapa dadaku dag-dig-dug."
"Akan kubunuh kau."
Candaan seperti itu membuat semua orang takut.
"Aku mengantarkan ini."
"Ah, tuan Souma harusnya kami saja yang mengambilnya," suara itu berasal dari Naysia.
"Tak apa, aku sekalian mengantarkan pada yang lainnya."
"Ngomong-ngomong tuan Souma kapan Anda akan tinggal?"
"Mungkin malam nanti."
"Kalau begitu kami akan melakukan terbaik nanti malam."
Souma pikir dia tidak ingin datang meski begitu akan jadi keributan jika dia tidak melakukannya, karena itu dia hanya mengangguk sebagai persetujuan.
__ADS_1
Souma memikirkan soal Shiji, awalnya dia pikir dia senasib dengannya tapi jika dihitung dengan pasti, Souma merasa kesulitannya lebih dari itu. Hanya dengan pelayannya Souma sudah terlibat dengan 300 wanita, itu sudah masuk sebuah rekor Harem yang tidak akan terpecahkan siapapun.
Ketika dia kembali ke toko dia dikejutkan dengan dua orang yang berdiri di depannya.
Masing-masing dari mereka mengenakan gaun pelayan dan membuat pose dengan lambang hati di dada selagi berkata padanya.
"Moe moe Kyun 🖤"
"Evangelista apa kau sakit, kurasa aku punya obat yang bisa membantu," ucap Souma meringis.
"Berisik, aku sedang dipaksa melakukan ini."
Wanita yang berada di sampingnya menjelaskan.
"Namaku Inoe Sakuya, kau pasti Souma... sebenarnya kami berduel dan aku menan hingga membuat Evangelista melakukan apapun yang kumau."
"Jadi begitu."
"Mari lupakan itu, kami datang untuk memberikan selembar promosi usaha kami."
"Kafe maid," ucap Souma lemas.
"Sekarang kesatria suci sudah tidak ada, kami memutuskan untuk memulai bisnis baru."
Dari kesatria ke kafe maid jelas sangat jauh.
"Kalau begitu itu saja, lain kali tolong datang untuk mencoba."
"Melihat Evangelista seperti ini cukup menghibur."
Evangelista tampak memerah selagi memalingkan wajahnya.
"Tak apa untuk meletakkan brosur kalian di sini, kami tidak keberatan."
"Ah, terima kasih.. aku harap nantinya akan ada beberapa wilayah seperti di Akihabara, ngomong-ngomong aku juga pernah bekerja di sana."
__ADS_1
"Ah ya."
Souma hanya membalas dengan senyuman ragu. Mereka berasal dari dunia sama dan kampung halaman yang sama, meski begitu zaman mereka jelas berbeda.