
Beberapa orang yang tampak mengenakan pakaian lusuh serta borgol di tangannya tampak melirik ke arah Souma dengan penuh harapan.
"Aku datang kemari untuk menyelamatkan semua orang di sini, ngomong-ngomong kota ini sebentar lagi akan dihancurkan"
Tentu tidak ada yang menganggap perkataannya serius, para musuh dengan senang menertawakannya selagi mengangkat senjata mereka yang terdiri dari pedang dan cambuk.
"Tangkap dia, pasti tuan Horden akan memberikan hadiah pada kita semua."
"Benar sekali."
Souma hanya berjalan saat mereka semua berhenti secara tiba-tiba, dia kemudian berjongkok untuk membebaskan borgol salah satu wanita.
"Tuan kesatria, mereka semua?"
"Mereka sudah mati," tepat saat Souma mengatakan demikian tubuh mereka terpotong-potong ke udara bersamaan darah yang menyembur dan berjatuhan.
Satu persatu para tahanan telah dibebaskan.
"Masih banyak orang yang bernasib seperti kami di kota ini."
"Aku tahu, untuk sekarang kalian keluar saja dan tunggu di luar kota."
Souma menarik pedangnya dan sebuah tebasan cahaya menghancurkan apapun di depannya termasuk tembok yang menghalanginya sejak lama.
"Pergilah."
__ADS_1
"Ba-baik."
"Mereka tampak senang, benarkan Souma?"
"Ah ya."
Souma berbalik dan menemukan seorang pria bertelanjang dada berdiri di depannya dengan sebuah sabit kecil yang terikat dengan sebuah rantai.
Souma jelas pernah melihat senjata itu di masa lalu yang mana membuatnya terlihat sedikit bernostalgia.
"Kau memiliki senjata yang bagus di sana?" katanya demikian."
"Haha benar kan, tak hanya bagus senjata ini juga bisa memotongmu dengan rapih."
Pria itu melemparkan sabit ke depan dan ke belakang untuk menyerang, dengan rantai membuat jangkauannya begitu jauh dan saat ditahan sabit itu berpindah untuk melukai musuhnya dari sisi berbeda.
"Tak kusangka ada orang yang sudah terbiasa dengan senjata milikku."
"Ini bukan pertama kalinya aku melihatnya."
"Jadi begitu, ada yang memiliki ide yang sama membuat senjata seperti ini."
Sabit mulai bergulir dari samping, jika Souma menahannya maka pedangnya akan terlilit dan terambil, jalan satu-satunya yang dia miliki adalah menghindarinya kemudian mempersempit jarak.
Dia menundukkan kepalanya sesaat sebelum melesat maju. Di hadapan pria itu dia mengayunkan pedangnya hingga darah terciprat ke udara.
__ADS_1
"A-apa?"
Ujung tajam menembusnya tepat di jantung sampai roboh.
"Mungkin dia yang dimaksud kepala penjaga distrik seperti yang dikatakan Dorothy."
"Kurasa bukan Souma, walau di sini banyak diisi manusia aku yakin bahwa penjaga utamanya tetap dilakukan oleh iblis, misalkan seseorang yang diharuskan untuk melapor ke iblis."
"Maksudmu seperti iblis di sana."
Souma menunjuk ke arah gumpalan hitam yang mulai tercipta sebagai bentuk manusia kemudian tercipta satu mata, hidung, mulut dan juga otot dari tangan yang kekar.
"Sungguh berani membuat kekacauan dia kota yang kujaga, aku akan menghancurkanmu... eh?"
Sebuah pedang telah terayun di depan wajahnya, sebelum dia bereaksi tebasan itu membelahnya menjadi dua dengan kecepatan luar biasa.
Tubuh yang telah berbentuk manusia tersebut mulai bergerak mundur kemudian menyatu kembali.
"Haha bercanda, tubuhku tidak bisa ditebas oleh senjata apapun.. kau benar-benar kejam, padahal aku belum menyelesaikan perkataanku."
"Jadi begitu, kau seperti slime hanya saja kau keluar dari got atau semacamnya."
Lugunica tertawa.
"Got haha memang benar, dia hitam, jelek dan hidup lagi."
__ADS_1
"Kalian benar-benar membuatku marah, rasakan ini Ultimate Beem."
Dari mulutnya dia menembakan semacam laser yang mengenai Souma termasuk kotanya sendiri.