Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 132 : Dibalik Kematian


__ADS_3

Jangan pernah menilai buku dari sampulnya adalah hal yang digantungkan Law dalam pertarungan ini.


Walau wanita di depannya terlihat tidak serius sihirnya mampu memotong apapun yang menghalanginya hanya dengan mengayunkan dua jarinya.


Law bersembunyi di balik pilar dan sebuah tebasan angin tepat memotong sedikit rambutnya.


"Imutnya, kau bersembunyi seperti seekor tikus... apa kau yakin tidak ingin menjadi budakku, kita bisa melakukan hal menyenangkan di atas ranjang dan aku bisa merubahmu menjadi vampir juga."


"Maaf saja aku tidak tertarik."


Law menyentuhkan tangan kiri ke permukaan tanah untuk menciptakan dua dirinya yang lain berupa golem, sebelum masuk ia melihat bagaimana Souma melakukannya dan itu bisa digunakan baik olehnya juga.


"Dua golem tidak akan bisa mengalahkanku loh.. Eeeeiaa."


Wanita berpayung itu mengayunkan bilah angin, tepat saat itu memotong targetnya ledakan asap terjadi.


"Apa?"


Law buru-buru menerjang maju, menggunakan celah yang dia buatnya dia melompat ke udara mengangkangi tubuh wanita itu hingga jatuh dia mendorong dadanya ke bawah dengan satu tangan sementara tangan lain mengarahkan ujung pedang ke kepalanya.


"Ini benar-benar erotis."


"Menyerahlah atau aku akan membunuhmu."


"Sebagai kesatria jangan pernah ragu, cepat tusuk aku."


"Kenapa kau begitu senang?"


"Yah dipojokkan seperti ini sangat menyenangkan... lihat tanganmu berada di dadaku apa kau mencoba memainkannya."


"Uwaah."


Law terkejut bagaimanapun posisinya jelas sangat berbahaya, berbeda darinya wanita di depannya tampak memerah selagi memilin-milin ujung rambutnya.


Sebagai kesatria beradab ini perbuatan yang tercela.


"Kenapa... cepat, mungkin ini pengalaman pertamamu apa kau masih perjaka."


"Berisik."


"Imutnya."


Law jelas tidak bisa menerima kebodohan ini, dia hendak menusukkan pedangnya namun wanita yang sejak tadi hanya mengeluarkan suara imut hanya tersenyum dengan mata basah.


Sungguh ini perbuatan yang merusak citra dari kesatria jadi pada akhirnya dia melepaskan tangannya lalu mundur tanpa menghilangkan kewaspadaan. Wanita yang sudah pasrah membetulkan pakaiannya lalu berdiri selagi membawa payung ke atas kepalanya.


"Tidak menarik, tapi Imutnya..."


"Pertarungan selanjutnya aku tidak akan menahan diri."

__ADS_1


"Aku mengharapkannya."


Tepat saat itu, seorang pria muncul dari sisi mereka berdua, dia adalah Dartan yang tampak kesal melihat pertarungan menyedihkan ini.


Dia berjalan dengan langkah kecil.


"Tunggu Dartan, dia mangsaku.. aku tidak akan membiarkanmu untuk..."


Sebelum wanita itu menyelesaikan perkataannya sesuatu melesat ke udara, Law yang memperhatikan tidak bisa mengatakan apapun lagi seolah dia baru saja melihat pertunjukan horor.


Kepala wanita itu telah dipenggal lewat cakar tangan Dartan sendiri.


"Kau sangat mengganggu."


"Apa yang kau lakukan? Bukannya dia rekanmu."


"Rekan Haha aku tidak pernah merasakan aku menjadi rekannya, dia menghalangi jadi aku menghabisinya."


"Kau."


Law berlari ke depan sambil mengayunkan pedangnya Dartan meluak-liuk tanpa kesulitan lalu membalas dengan cakarnya, serangannya cepat yang mana mampu mematahkan pedang Law tanpa kesulitan.


Karena dia membawa tiga pedang lain di pinggangnya itu bukan hal yang sulit diatasi, ia berterima kasih pada dirinya yang jenius yang telah mempersiapkan semua ini jauh hari.


Sampai dia bisa menggunakan pedang yang dibuatnya di perkampungan Dwarf, dia akan membawa pedang lebih banyak lagi ke depannya.


Dartan mengerenyitkan alisnya selagi menahan kekesalannya dan terus menyerang, kedua serangan itu menghasilkan suara gesekan memekikkan telinga yang dibumbui dengan luka dari kedua belah pihak.


"Kaum vampir memiliki banyak keuntungan meski kau memotong tubuhku aku akan dengan mudah menyatukannya kembali, hebat bukan."


"Heh, jadi begitu bagaimana jika seperti ini."


Suara itu tidak berasal dari Law melainkan seorang gadis pelayan berambut pirang yang sudah menusukan satu pisau menembus leher Dartan.


"Ke-kenapa."


"Barusan kau memenggal kepalaku dan sekarang giliranmu loh, sudah kukatakan pria itu mangsaku aku ingin x-x-x dengannya kau tahu."


Sebelum Dartan bereaksi pisau lain telah menyayat lehernya dari sisi berbeda hingga tubuh itu terpisah seutuhnya.


"Kematian yang bagus."


Law jelas tidak bisa mengolah dengan akal sehatnya, kenapa ada seorang pelayan yang repot-repot membantunya.


"Heh, kau takut... Imutnya."


Law akhirnya menegaskan kecurigaannya saat dia mendengar perkataan berulang tersebut.


"Siapa kau? Apa kau vampir."

__ADS_1


"Tentu saja tidak, wanita yang terbunuh di sana maupun wanita yang kupakai sekarang adalah sebuah wadah saja, aku tidak memiliki tubuh. Saat kecil aku mati karena kelaparan dan kakakku terus menggendongku ke dokter dan memeriksa apa aku masih hidup atau belum, ia sangat gigih, padahal aku sudah tidak bernafas."


"Dengan kata lain kau hanyalah jiwa yang merasuki tubuh itu."


"Benar sekali."


"Lalu siapa nama kakakmu?"


"Namanya Altina Testarosa."


"Aku belum pernah mendengarnya."


"Heh benarkah, mungkin kau akan tahu dengan julukannya dia adalah penyihir kematian."


Mendengar itu Law jelas sangat terkejut.


"Bagaimana bisa?"


"Yah aku belum memperkenalkan namaku, namaku Marinna Testarosa atau semua orang menyebutku penyihir kasih sayang."


Law mempertanyakan dirinya kenapa dia bisa menarik penyihir kepadanya setelah penyihir rembulan, ia ingin mengutuk takdir namun ia tidak bisa melakukannya, sementara dia berfikir Marinna tampak merangkul dirinya.


"Hey, cepat apa kau tidak mencoba menjatuhkanku lagi ke tanah, wanita ini masih perawan dan aku bisa pindah ke tubuh wanita lain dan kita akan melakukannya lagi."


"Diam kau penyihir."


"Ugh, baiklah."


Penyihir itu diam selagi memainkan jari tangannya.


"Penyihir kasih sayang apanya kau jauh dari kata itu."


"Karena aku menginginkan kasih sayang jadi aku menamai diriku seperti itu."


"Sungguh konyol."


"Jika kau tidur di pahaku, aku akan menceritakan kisahku.. mungkin kau penasaran denganku bukan."


"Aku lebih penasaran bagaimana kau bisa mengambil tubuh itu."


"Itu bisa kuceritakan nanti, kemarilah."


Atas Law yang tersenyum masam, Marinna menanggapinya dengan senyuman lalu ia duduk selagi melipat kakinya, dia menepuk-nepuk pahanya dan Law akhirnya mengikuti apa yang dia inginkan.


Bagaimanapun Law tidak berada dalam posisi bisa mengalahkan Penyihir di depannya, terlebih tidak ada niat permusuhan seperti sebelumnya.


Dengan mengatakan 'Permisi' ia berbaring di paha yang terasa seperti berada di surga walau sebenarnya yang menawarinya adalah iblis di dalamnya.


"Imutnya."

__ADS_1


Marinna lalu mulai bercerita.


__ADS_2