Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 338 : Penyihir Pendosa Mikela


__ADS_3

Pada dasarnya manusia tidak pernah luput dari namanya dosa, manusia kerap melakukan hal yang mereka inginkan tanpa memikirkan apapun konsekuensinya, dan itu kini menjadi sebuah makanan bagi penyihir.


"Hentikan."


"Kau sudah aku beli sekarang kau sekarang harus melayaniku."


Di dalam kegelapan lampu kota yang remang-remang seorang pria tengah menyeret gadis budak ke dalam sebuah gang sepi, langkah mereka terhenti saat mendapati sebuah siluet hitam yang bersandar di tiang listrik.


Darimana pun kau melihatnya tidak ada keraguan bahwa itu memang siluet dari seorang gadis.


"Aku beruntung bahwa ada gadis lain di tempat ini."


Siluet itu berjalan mendekat sampai sosoknya terlihat jelas, ia adalah seorang gadis kecil dengan rambut merah muda bergaya twintail, mengenakan rok pendek serta t-shirt berlengan panjang.


"Kenapa kau ada di sini gadis kecil?"


Sementara gadis lain menggelengkan kepalanya agar dia melarikan diri, gadis kecil itu melepaskan pakaiannya.


"Ya ampun, jadi kau menunggu pria di sini maka dari itu aku tidak akan menahan diri."


Pria itu segera mendorong gadis tersebut ke tanah.


"Hentikan dia masih kecil," teriak gadis yang lain.


Pria itu tampak menunjukan senyuman di wajahnya namun sesaat itu berhenti saat melihat bagaimana gadis itu berubah menjadi lebih mengerikan, mulutnya robek sampai telinga dengan mata yang berwarna merah terang.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak memasukannya."


"Tidak, apa-apa kau?"


Mulut yang bagai gergaji itu menggigit bahu si pria, merobek dagingnya lalu mengunyahnya, Pria itu terhuyung ke belakang hingga darah berceceran.


"Menjauhlah, menjauhlah."


Tentu saja gadis kecil itu menyergapnya lalu melahapnya setelah mengigit lehernya bagaikan hewan liar. Melihat itu gadis yang lain hanya bisa terdiam dengan mulut membeku.


"Jangan bilang, kau penyihir pendosa."


"Terima kasih atas makanannya."


Penyihir pendosa mengenakan pakaiannya kembali sebelum berjalan melewati gadis yang hanya terduduk lemas.


"Kau tidak memakanku?"


"Aku hanya memakan orang-orang yang penuh dosa."


Hanya perkataan samar tersebut yang meninggalkan keheningan yang mencekam.


Souma, Pandora dan Marinna telah menyewa kamar di penginapan kota yang tengah mereka kunjungi, ada dua kamar di dalamnya yang mana satu akan digunakan Souma dan satu lagi digunakan keduanya.


Marinna memiliki dorongan sensual karena itulah dia sedang menindih Pandora selagi terus berciuman.

__ADS_1


"Kau tidak keberatan Pandora."


"Mau bagaimana lagi, Marinna mengambil buku yang menjijikan meski aku tidak melakukannya dia akan pergi ke tempat lain untuk menghilangkan nafsunya."


"Begitu."


Souma berbaring tanpa memperhatikan lagi dan membuka beberapa informasi dari lembaran kertas yang dibawanya.


Di sana tertulis banyak orang-orang telah menghilang secara misterius, adapula keanehan yang terjadi bahwa saat kehilangan mereka ditemukan noda darah di beberapa jalan kota.


Karena semua yang dibunuh adalah seorang kriminal banyak penduduk kota yang tidak memperdulikannya.


"Sudah jelas mereka dimakan oleh penyihir pendosa, semenjak dia menerima buku dari Fram dia sudah bukan lagi manusia, dia semacam iblis yang berasal dari dunia bawah," ucap Pandora sebelum menerima ciuman kembali.


"Begitu, meski aku menyerap kekuatannya dia kemungkinan besar tidak akan bisa kembali."


"Benar sekali, ia terus merasa lapar akan dosa-dosa manusia. jika adapun sesuatu yang bisa menyelamatkannya, itu hanya kematian."


Setelah lima jam Pandora akhirnya bisa bebas dari Marinna yang meringkuk di sebelahnya.


Dia mulai mengenakan pakaiannya kembali dan keluar untuk menemui Souma yang telah menunggunya di luar.


"Kau pasti kerepotan."


"Mau bagaimana lagi, mari pergi untuk berburu penyihir."

__ADS_1


"Bukannya kau juga penyihir?"


"Penyihir memburu penyihir, itu kedengaran bagus."


__ADS_2