
Dan begitulah keduanya tiba di sebuah hutan yang seluruhnya bercahaya, walau siang hari hutan ini sangatlah gelap hampir cahaya tidak bisa masuk dari luar, meski demikian semua tanaman dan juga hewan masih bisa hidup di dalamnya dengan baik.
Sesuatu yang mungkin tidak kau temukan di dunia yang disebut bumi.
Jamur-jamur yang bersinar menerangi jalan mereka dan ada beberapa kunang-kunang yang berterbangan di sekitar keduanya. Namun jika memperhatikannya dari dekat itu bukanlah kunang-kunang, melainkan seorang peri. Wujud mereka seperti manusia berukuran 10-5 cm dengan sayap di punggungnya, mereka menggunakan kelopak bunga sebagai bahan pakaian dan itu terkesan seperti peri-peri yang semua orang ketahui dari buku atau sebagainya.
Peri memiliki wujud berbeda-beda ada yang berwujud manusia, tumbuhan, hewan maupun hal lainnya, tapi sebagai contoh yang paling umum adalah elf.
Penyihir rembulan duduk untuk memegang sebuah bunga lili di tangannya, ada larangan untuk memetik apapun dari hutan ini dan Souma jelas harus memperingatinya.
"Tempat ini sangat indah."
"Aku juga setuju, terkadang aku datang kemari dan rasanya aku tidak bosan untuk melihat semua ini."
Jika itu situasi normal dia tidak akan bisa masuk ke dalam hutan ini namun berkat keberadaan Souma di sampingnya itu sudah bisa dianggap sebagai izin untuk memperbolehkannya tetap berada di sana.
Souma bukanlah peri ataupun seseorang yang memiliki hubungan spesial dengan ratu peri yang mengelola hutan ini, hanya saja dulu saat hutan ini terbakar Souma adalah orang pertama yang menyelamatkan mereka dan saat itu dia dianggap sebagai bagian dari hutan ini walaupun di sisi lain ratu peri memang sangat menyukainya.
__ADS_1
Mereka melanjutkan perjalanan ke sebuah kolam yang di atas permukaannya dipenuhi teratai raksasa, di sana ada satu bunga indah dan saat bunga itu mekar seorang wanita muncul dari dalamnya, ia memiliki tubuh setinggi Souma dengan rambut pirang serta telinga runcing, dia mengenakan long dress panjang di mana bagian samping terbelah sampai pinggang menampilkan kaki jenjang yang putih indah, seluruh ornamen pakaiannya sendiri penuh dengan sulaman bunga dan jika melihat ke punggungnya ada sayap kupu-kupu transparan di sana.
Saat melihat Souma dia melompat untuk memeluknya, dada yang besar menempel, menekan Souma dengan kelembutan serta perasaan hangat yang cukup untuk membuat pria mana pun kehilangan kendali dengan mudahnya.
"Symponia, dadamu memukulku."
"Memang sengaja, bukannya ini hal biasa."
"Dengan ukuranmu itu sudah bukan biasa lagi."
Wanita berambut pirang bernama Symponia itu mengalihkan pandangan ke arah penyihir rembulan yang hanya terlihat kesal selagi menyangga dadanya.
Ada hati terluka di sana dan Souma tidak ingin membahasnya sedikitpun.
"Aku penyihir rembulan, aku datang bersama Souma."
"Jadi begitu, wajar jika hutan ini tidak menganggapmu musuh... para elf telah meninggalkan tempat ini, kupikir kau mungkin ingin pergi ke makam satu-satunya di tempat ini."
__ADS_1
"Itu makam ibuku."
"Aku mengerti, karena Souma yang membawamu kemari aku akan memberikan izin untukmu juga agar bisa datang kemari paling tidak satu kali selama sebulan."
"Terima kasih atas kerendahan hatinya, tapi kenapa kau begitu senang dan lega saat melihatku."
"Yah, aku merasa bahwa kau bukan ancaman untuk merebut Souma dariku."
"Kau sedang membicarakan dadaku."
"Ah salahku, aku seharusnya tidak menyinggungnya."
"Itu membuatku kesal meskipun aku sama sekali tidak tertarik dengan Souma."
"Hohoh."
Ratu peri tertawa layaknya bangsawan sombong dan Souma hanya berdiri di belakangnya dengan wajah kerepotan. Ia benar-benar ingin minta maaf pada penyihir rembulan tentang sikap ratu peri ini.
__ADS_1