Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 113 : Taring Chimera


__ADS_3

Selepas mereka makan Pandora membawa Law untuk mengikutinya dari belakang, Law bertanya tentang kenapa dia harus mengikutinya kemari terlebih mereka harus melewati medan berlumpur serta akar pepohonan yang merambat yang senang menghalangi jalan mereka dan Pandora menjawab dengan santai.


"Kau mungkin memerlukan pedang baru, aku ingat sesuatu yang bagus yang bisa kau gunakan sebagai bahan membuat pedang."


Law bertanya-tanya benda apa itu sampai dia berhenti di ujung sebuah tebing di mana di bawahnya sebuah kota besar menyambutnya. Kota itu tidak hidup seperti gambaran orang-orang, kota itu telah hancur dan menjadi kota yang ditinggalkan.


Nama tempat yang pantas untuk diberikan adalah sebuah reruntuhan, bahkan dengan jarak sangat jauh Law bisa memperhatikan apa yang ada di tengah kota tersebut.


Sebuah tengkorak binatang yang sangat besar namun dia tidak bisa menerka hewan apa itu.


Menyadari tatapan Law, Pandora menjelaskan.


"Itu adalah Chimera yang telah aku kalahkan, penduduk negara ini berniat menguasai kekuatannya jadi aku membunuh mereka semua beserta makhluk tersebut."


Law akhirnya menyadari hal yang terjadi.


Ini bukan kota biasa, ini adalah kota yang dimasukan ke dalam buku-buku dan diubah menjadi sebuah legenda mengerikan di mana seorang gadis berambut perak melenyapkannya dalam waktu semalam.


Dan saat itu namanya adalah.


"Mereka menjuluki iblis perak."

__ADS_1


Nama yang akan semua orang kenal, tubuh Law sedikit menerima tekanan namun dia harus membiasakan diri bahkan saat dirinya dan Pandora berjalan melewatinya.


Pandora tak berhenti di sana, dia menjelaskan bagaimana Chimera itu membunuh kedua orang tuanya dan membuatnya melakukan perjanjian dengan Lugunica untuk membuat dirinya menjadi 1000 orang.


Pesta teh juga tak luput dari pembicaraan.


Law tak bisa menyangka semua itu bisa didengarnya terlebih soal Souma.


"Apa aku bisa ikut dalam pesta teh tersebut."


"Tidak, bahkan jika kau muncul kau akan langsung mati saat bertemu dengan penyihir kematian."


Itu sedikit membuat Law depresi tapi dibandingkan Souma dia juga memiliki tugas penting yang sama sulitnya dengannya. Dengan kemenangan kerajaan atas empat kerajaan yang menyerang pada mereka, kini Law memiliki tugas untuk mengawasinya.


Menyingkirkan pemikiran itu di belakang, mereka berdua melewati reruntuhan bangunan, tanaman Ivy tumbuh di atas mereka dan lumut-lumut dengan senang hidup damai di sini.


Ini jelas kota yang sudah mati seutuhnya.


"Gendong aku."


Law mengulurkan tangannya dan dia menempatkannya diketiak Pandora lalu mengangkatnya dan menurunkannya dengan baik. Pandora puas dengan pelayanan yang diberikan rekannya tersebut.

__ADS_1


"Kita sampai."


Tepat di depan keduanya, sebuah mulut raksasa terbuka lebar. Pandora meminta law untuk mengambil bagian taring lalu membawanya dengan mengikatkan tali di sana lalu menyatukannya ke punggung mirip sebuah ransel.


"Apa ini bisa dijadikan pedang?"


"Walau terlihat meragukan taring itu sangat kuat, semua taringnya hancur namun hanya itu yang tersisa."


Itu membuat sedikit kepercayaan Law meningkat, jadi bahan ini bahkan tidak bisa dihancurkan dengan serangan penyihir.


"Jadi kau akan membawanya kemana?"


"Sebenarnya aku masih dalam tugas tapi percuma saja jika aku tidak memiliki pedang untuk bertarung, mari pergi ke perkampungan Dwarf."


"Ke sana kah. Apa ada sesuatu yang menarik yang mungkin kutemukan?"


"Saat di sana jangan berbuat onar."


"Aku akan jadi gadis baik, aku berjanji... tentu jika kau menghiburku dengan sesuatu seperti menjadi seorang badut kerajaan."


"Aku lebih suka kepribadianmu sebelumnya bisakah kau kembali ke biasanya."

__ADS_1


"Ini sifatku yang biasa, sifat yang kau temui adalah perpecahan dariku."


Law hanya mendesah pelan. Dia merasa hidupnya mulai terasa lebih berat sekarang.


__ADS_2