Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 256 : Kota Perbatasan


__ADS_3

Dorothy membuka peta dan menuntun orang-orang di belakangnya sebagai mestinya, walau dia tidak ingin melakukannya ia masih seorang yang tetap melakukan pekerjaannya dengan baik.


"Berikan tanganmu."


"Terima kasih."


Dorothy membantu Heart untuk mendaki pegunungan terjal sementara Souma di belakangnya melompat santai dengan kedua tangan dimasukan ke dalam saku celananya.


"Kita sudah melewati wilayah Lonsol, dan di depan adalah kota perbatasan," ucap Dorothy.


Meski disebut kota perbatasan, kota ini tidak berada di perbatasan wilayah kerajaan Talesta, melainkan setiap wilayah kota memiliki perbatasan masing-masing.


Jika dilihat dari atas, itu berbentuk seperti lingkaran dengan empat tembok pemisah dan satu tembok penyatu.


Dorothy membuat gambar di tanah untuk menjelaskan dengan lebih terperinci.



"Tadinya kota ini dibuat untuk memisahkan orang miskin dengan orang kaya yang sering berseteru tapi sekarang kota ini dijadikan sebagai markas mereka, orang-orang di dalamnya dijadikan sebagai pekerja paksa serta makanan untuk para iblis, singkatnya ini adalah pusat makanan bagi mereka."


"Dari awal kota ini sudah menyimpang ditambah iblis lebih menyimpang lagi," balas Heart dengan wajah serius.


"Kau malah lebih fokus ke sana, ngomong-ngomong apa kau ini kesatria Kavaleri? Kau sama sekali tidak tahu tempat ini."

__ADS_1


"Aku ini kesatria baru kau tahu."


"Kau ini manis tapi terkadang kejam juga."


Souma memotong.


"Bukan hanya itu juga bukan?"


"Aah, yang mengelola tempat ini manusia yang dipimpin oleh salah satu pilar pelayan atas bernama Horden, dia orang paling busuk diantara semua manusia yang pernah ada, banyak wanita yang kehilangan kesuciannya sebelum mereka dibunuh dan para pria disiksa lebih dulu seperti sebuah mainan."


Ketiganya semakin mendekat dan di gerbangnya mereka bisa melihat beberapa kotak kayu sedang diangkut ke dalam kereta, itu terdiri dari potongan tangan, kaki, kepala dan organ lainnnya dari berbagai umur.


"Heh, jadi begitu... Souma kau pilih yang mana?"


"Kalau begitu aku yang memilih distrik ini."


Heart berjalan dari tempat persembunyiannya ke arah kereta tersebut, ada 10 orang yang bekerja di sana. Hanya sekali lihat mereka sudah tahu bahwa Heart adalah kesatria kavaleri.


"Kalian senang sekali membunuh dan memotong-motong tubuh orang kan, kalau begitu bagaimana jika kalian juga mengalami hal sama.. jangan khawatir potonganku lebih rapih loh."


"Dia benar-benar marah, aku hanya jadi petunjuk jalan aku tidak terlibat dengan pembantaian seperti ini," kata Dorothy demikian.


"Jangan khawatir Souma dan Heart bisa mengatasinya," jawab Lugunica.

__ADS_1


"Kalian berdua memang orang-orang yang tidak masuk akal."


Heart menarik pedangnya, di bawah cahaya matahari bilahnya tampak bersinar.


Bukannya takut mereka tertawa.


"Hanya satu kesatria, terlebih hanya wanita.. kalian berlima serang dia."


"Laksanakan."


Lima diantara mereka mengambil golok serta pedang pendek, mereka mengepung Heart dan kemudian menyerang secara bersamaan namun hanya sebatas itu, ketika mereka sadari tangan mereka terpotong-potong kemudian kedua kaki mereka sebelum kepala mereka.


Orang yang melihatnya memucat namun Heart menunjukkan wajah yang datar.


"Sekarang giliran kalian."


"Lari! Orang ini monster... guakh."


Tanpa ampun Heart membunuh mereka dengan cara yang sama. Souma melirik ke arah Dorothy yang hanya menatap dengan tubuh gemetaran. Itu wajar saja karena entah Souma dan Heart mereka sudah sering melihat neraka jadi hal seperti ini hanya sesuatu yang biasa.


"Aku juga akan bergerak sekarang, sebaiknya kau tidak masuk ke kota."


"Siapa yang mau melakukan itu, aku tetap tinggal di sini."

__ADS_1


Souma menghilang dan muncul di atas tembok, ia memperhatikan seluruh kota sesaat sebelum melompat turun ke distrik 3.


__ADS_2