Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 125 : Pergerakan Ras Vampir


__ADS_3

Sebuah musik terdengar di hutan yang sepi.


Di atas batu itu tampak seorang gadis kecil berambut perak sedang duduk selagi meniup daun di tangannya.


Benar, suara musik itu berasal dari sana dan jika dibilang musik itu hanya terdengar seperti sebuah seruling yang merdu yang tidak mungkin bisa dilakukan banyak orang.


Mendengar itu Law yang terbaring dengan wajah kusam memberikan komentarnya.


"Suara yang indah."


Dia telah berlatih di pegunungan ini dengan mengangkat batu di punggungnya yang mencapai 1 ton dan sekarang dia berada di fase istirahat.


Gadis kecil yang mendapatkan pujian tulus tersebut hanya membiarkan perkataan Law menghilang begitu saja. Law mengalihkan pandangan ke arah pedang besar yang menancap di sampingnya, pedang itu memiliki ukuran cakar monster.


"Kenapa aku masih tidak bisa menggunakan pedang ini?" kata Law frustasi sementara gadis berambut perak atau penyihir rembulan atau juga Pandora segera menghentikan musiknya lalu melompat dengan gerakan menginjak perut Law hingga suara "Guakh," terdengar jelas darinya.


"Dasar penyihir brengsek."


"Dengar Law tubuhmu itu lemah.. saat kau meminta Dwarf membuat pedang dari taring Chimera aku memintanya untuk menggabungkannya dengan bahan tertentu dan pedang ini sekarang memiliki berat satu ton, kau harus bisa membawanya dengan mudah."


"Sudah kuduga ini ulahmu, dan juga jika aku berjalan di papan kayu aku akan jatuh hanya melewatinya."


"Aku akan mengajarimu bagaimana menggunakan sihir ringan jadi meski kau membawa satu gunung kau tak akan kesulitan."


Semua yang dikatakan penyihir semuanya tidak masuk akal tapi jika soal penilaian mereka tidak bisa diragukan, Law mengerti hal itu saat Pandora berkata pada Law dengan wajah serius.

__ADS_1


"Kau tidak cocok menggunakan sihir elemen, lebih baik menggunakan sihir peningkatan yang dapat memaksimalkan pergerakanmu lebih baik."


Itu sebuah pukulan berat untuk Law, tapi jika dia ingin bertambah kuat dia harus mendengarkan saran penyihir ini.


Pandora menatap langit seolah merasakan hembusan angin aneh di sekelilingnya.


"Ada apa?"


"Ada monster yang datang ke ibukota dengan jumlah besar."


"Kau bercanda?"


"Tidak, itu kebenarannya."


Pandora menyela.


"Law sepertinya kita tidak perlu ke kota, kita lebih baik bergerak ke arah musuh. Di sana ada Souma dia pasti menyadarinya juga."


"Orang itu di Ibukota, jika demikian tak apa."


Pandora memegang tangan Law dan ia menggunakan teleportasi untuk menghilang dengan cepat.


Souma yang berdiri menatap bunga telah menyadari seseorang yang besar telah datang padanya.


"Bahkan di saat seperti ini ya," ia bergumam demikian saat Celestrial datang dengan gaun mewah putrinya.

__ADS_1


"Souma lihat ini, apa ini cocok untukku?"


"Cocok tapi kau tidak lupa bahwa kita akan kembali kan."


"Tentu saja, aku hanya ingin memakai pakaian peninggalan ibuku."


Gaun itu dibalut dengan renda serta hiasan permata jadi itu sesuatu yang pantas untuk dikenakan seorang bangsawan kerajaan.


Ia ingin menikmati pemandangan Celestrial sayangnya ia memiliki sesuatu yang buruk untuk dikatakan.


"Jadi kristal itu telah digunakan?"


Souma mengangguk mengiyakan hingga Celestrial kembali untuk melaporkannya pada ayahnya.


Itu buruk jika para monster dibiarkan begitu saja maka dari itu Souma telah berdiri sekitar 500 meter dari luar kota dan melihat kumpulan monster yang menyerbu padanya, itu memiliki jumlah fantastik mirip seperti sebuah gelombang kehancuran. Golem berada di barisan depan di susul Orc, goblin dan monster lainnya.


Law yang sudah lebih dulu berada di sana bersikap keren dengan duduk melambai pada Souma.


"Kau terlambat Souma, aku sudah berada di sini lebih dulu darimu... kau selalu bilang tidak ingin terlibat dalam pertarungan, tapi kau datang juga."


"Mau bagaimana lagi kita memiliki komandan tidak kompeten di kerajaan ini, aku takut jika penduduk banyak menjadi korban."


"Apa?"


Pandora hanya menunjukkan senyuman seperti biasanya sambil memegang pedang di tangannya, baginya jika dia dapat hiburan itu sudah cukup.

__ADS_1


__ADS_2