
"Kalian benar-benar kuat bahkan tidak mati setelah terkena sihir penyihir rembulan."
"Itu semua berkat doa emak, lihat punggungku."
Itu adalah sebuah tato yang dengan sengaja dia buat sendiri.
"Sayang emak," kata datar Souma.
"Hebat kan, lihat punggung yang lainnya juga... mereka juga sama."
"Sayang istri orang."
"Sayang mantan."
"Sayang anak."
"Sayang si mpok di desa."
"Belum kirimi THR untuk si Mbo di kampung."
"Kalian semua, terserahlah.. hari ini aku sudah cukup lelah, setelah selesai jangan lupa bayar dengan uang tunai."
"Tentu saja, apa kami ini terlihat seperti suka kasbon?"
Souma memilih mengabaikannya dan pergi ke kamarnya untuk berbaring di sana, saat keesokan paginya saat hendak ke kamar mandi dia menemukan Celestrial sedang berendam di dalam bak dengan setengah tubuh bagian atasnya terlihat jelas.
Souma menggaruk kepalanya sedikit kesal.
"Harusnya kau mengunci pintunya atau juga jangan lupa memasang tanda digunakan di depan pintu."
"Hehe lain kali aku akan berhati-hati... Souma ingin mandi bareng, aku akan menggosok punggungmu loh.. yah, meskipun ini memalukan saat kau melihatku seperti itu."
__ADS_1
"Selamat tinggal," ucap Souma menutup pintu hingga terdengar suara kesal setelahnya.
"Heh, cuma itu doang."
Anna muncul dari dapur.
"Kamar mandinya masih digunakan Celestrial."
"Aku sudah tahu, tapi ngomong-ngomong kenapa kalian semua bisa bertingkah tanpa pertahanan saat tinggal satu atap dengan pria sepertiku, kalian harus berhati-hati."
"Kupikir karena semua orang menyukaimu."
"Kau mengatakan sesuatu?"
"Tidak, tidak, aku harus kembali memasak, hari ini aku memasak kare."
"Terdengar enak bagiku."
Di meja makan itu Undine, Risela dan Tako telah duduk di tempat mereka. Tako hanya bermain-main dengan peralatan makanan, Risela membaca koran sementara Undine masih meletakan pipinya di meja.
"Kurasa sesekali tak masalah."
Anna menuangkan teh di gelas yang mana ia berikan pada Souma.
"Terima kasih."
"Um."
"Bukannya tidak adil, aku juga ingin dilayani oleh Anna."
"Undine bisa melakukannya sendiri bukan."
__ADS_1
"Tubuhku lelah dan juga tulangku terasa linu juga."
"Tiba-tiba aku juga merasa begitu."
"Tako."
"Kalian jelas baik-baik saja."
Kecuali Souma mereka mengembungkan pipinya, sementara itu Celestrial yang telah selesai mandi telah mengenakan pakaiannya kembali dan lalu duduk setelah menyeduh air hangat untuknya.
"Aku kembali segar, nah Souma giliranmu, kau bisa mengunakan air bekasku."
"Aku jelas tidak mau melakukannya."
"Heh, tapi adat serumah harus saling berbagi."
"Bagus Celestrial, mari buat peraturan seperti itu."
"Peraturan jidatmu... aku akan mandi sekarang jadi jangan menggangguku."
"Baik," x4
Dan mereka akhirnya menghabiskan pagi hari damai, sebelum pembukaan toko. Risela, Anna dan juga Undine melayani pembeli sementara Souma dan Celestrial sedang membuat ramuan sederhana untuk menurunkannya demam.
Celestrial sendiri yang ingin mencoba membuat obat, mempertimbangkan bahwa dirinya seorang putri bahkan penerus kerajaan ini, Souma memilih agar dia tidak terlalu bekerja keras untuk ini meski begitu saat dia sudah membulatkan tekad Souma tidak bisa berbuat banyak untuk ini.
"Apa obat ini aman digunakan untuk anak-anak?"
"Tergantung dosisnya, karena itu aku membuat botolnya memiliki tiga tahapan yang ditandai oleh garis merah."
"Oh yang ini... jika anak-anak hanya satu garis, orang dewasa dua garis dan untuk orang yang tua semuanya."
__ADS_1
"Jadi begitu, semakin tua maka dosis obatnya semakin banyak.. padahal obat ini sangat pahit."
Souma hanya mengangguk mengiyakan.