
Souma bertarung seolah dirinya menari-nari di udara, dia menembakan api hitam, biru dan merah secara bersama membuat gelombang besar yang menelan para iblis.
Heart juga memunculkan jam raksasa yang menjatuhkan puluhan cahaya yang menembus seluruh tubuh iblis.
Semua orang yang melihatnya tampak terkagum-kagum bahkan untuk Dorothy yang mengawasi dari atas tembok, ia juga merasa demikian.
"Apa-apaan dengan dua orang itu? Kekuatannya tidak masuk akal."
Mereka merasa lega bahwa di pihak mereka ada orang-orang kuat seperti Souma dan Heart namun di sisi lain mereka juga sangat kebingungan, apa ini yang disebut kekuatan manusia? Tidak, mustahil menyebutnya demikian.
Iblis terpenggal satu persatu ke udara, Souma memutar dirinya di udara lalu menikam mata iblis raksasa di depannya.
"Inferno."
Bam.
Potongan daging segar berserakan ke segala arah. Para iblis begitu ketakutan... mereka biasanya memberikan ketakutan yang sama pada manusia dan itu melebihi apa yang mereka bayangkan.
Heart menebas kembali dan menginjak tubuh iblis terakhir di bawah kakinya.
"Ini cukup membuat kami berkeringat."
Dia menatap mata iblis tersebut selagi tersenyum cerah.
"Kau bisa melihatnya Asferow, setelah ini giliranmu yang akan kami bunuh."
__ADS_1
Pedang tajam menembus kepala iblis tersebut, para penjaga hanya bisa menelan ludah mereka sebelum akhirnya mengutarakan kesenangannya dengan teriakan.
'Ini pertama kalinya tidak ada yang mati saat melawan iblis."
"Aah, mereka benar-benar kuat."
"Aku benar-benar bersyukur karena tidak harus meninggalkan istri dan anakku."
Souma menyarungkan kembali pedangnya, dia tidak menghilangkannya melainkan sengaja menaruhnya di pinggang.
"Aku merasa ingin cepat memiliki tubuh dan bertarung seperti barusan... hiyat, hiyat, hiyat."
"Kau bisa menunggu nanti," balas Souma pada Lugunica sebelum beralih ke arah Heart yang sudah menyarungkan pedangnya kembali.
"Apa yang barusan kau katakan padanya?"
"Kau memprovokasinya, yah.. tak apa kurasa itu akan jauh lebih cepat untuk menyelesaikan masalah di dunia ini."
"Bukannya kemampuan berfikirku sangat hebat."
Souma pikir itu hanya pemikiran sederhana tapi dia memilih untuk tidak mengatakannya.
Sementara di kota lain yang hancur.
Tubuh manusia yang telah mati, sedikit demi sedikit telah dimasukan ke dalam mulut iblis yang menyerupai katak raksasa, dia mengapit kaki mereka dengan dua jari dan memasukannya ke dalam mulutnya lalu mengunyahnya seperti sebuah cemilan.
__ADS_1
Cairan darah bercampur otak menetas dari mulutnya.
"Lezat sekali, haha.. terutama tubuh gadis kecil ini, benar-benar enak."
Di sebelahnya pria dengan rambut hitam serta berkacamata muncul.
"Kau sudah terlalu banyak makan Oris... kita baru saja menerima pemberitahuan dari yang mulia Asferow."
"Untuk manusia kau sangat sombong Lidan."
"Apa kau sudah lupa kami ini lebih tinggi darimu begitulah yang dikatakan yang mulia Asferow."
"Sudahlah, jadi apa itu?"
"Sepertinya serangan pada kota Lonsol telah gagal.. informasi mengatakan bahwa kesatria kavaleri ada di sana."
"Hah! Bukannya kesatria kavaleri telah kita lenyapkan."
Keduanya mengalihkan pandangan kepada seluruh jasad berpakaian putih yang tergeletak bersimbah darah, tangan-tangan mereka terpotong, dan beberapa kepala dibiarkan tergeletak begini saja. Salah satu tubuh yang telah kehilangan tangan sampai bahunya tampak menyeringai. Jeroan tubuhnya tampak berhamburan di kakinya.
"Haha jadi begitu, Pandora sudah kembali, kalian akan mati, mati, mati," dia mengatakannya dengan kegilaan.
Lidan mengambil pedang yang tergeletak kemudian melemparkannya menembus kepalanya hingga suaranya tak terdengar lagi.
"Mau mati juga sangat merepotkan, mari kita pergi... selanjutnya yang harus kita hancurkan adalah kota Lonsol."
__ADS_1
"Aku akan bergerak setelah memakan semuanya."
"Kau benar-benar rakus."