
Souma mendesah pelan, untuk terlibat sesuatu seperti ini adalah sesuatu yang tidak ingin dia alami namun ia memiliki pilihan terbaik.
Di sini ada tiga orang yang akan membantunya tanpa membuatnya harus bertarung jadi dia sedikit lega.
"Yah, diriku selalu menerima serangan batin dari lu pada, kini saatnya kalian membayarnya dengan sedikit berguna.... kalian bertiga lawan Noir dan aku akan bersembunyi di sana."
Risela yang lebih dulu merespon.
"Souma tidak ikut bertarung."
"Bertarung? Hah? Aku hanya seorang pemilik toko obat kecil bisa apa aku?"
Di sisi lain Noir menyinggungkan senyuman sarkasme.
"Pria di sana itu sangat lemah hingga meminta ketiga wanita untuk melindunginya, apa dia punya burung?"
"Apa yang kau katakan, aku memilikinya jika mau aku bisa menunjukannya padamu?"
"Owh...menarik, aku ingin melihatnya."
Souma memasang wajah pucat. Dia hanya mengatakan sebuah guyonan tak disangka bahwa lawan bicaranya menganggapnya serius.
"Hey Souma cepat tunjukan padanya, aku juga penasaran?" ucap Undine dan Risela maupun Anna merasa penasaran juga.
"Tunjukan pala lu... aku cuma canda doang, mana mungkin aku menunjukan hal seperti itu, pokoknya serang dia."
"Meski Souma bilang begitu dia memiliki sandera di tangannya," balas Anna.
Souma sekali lagi melirik ke arah seluruh tangan di sana, baginya itu bukan hal sulit untuknya.
__ADS_1
Dia menjentikkan jarinya dan dalam sekejap seluruh kultus telah berpindah tempat di belakangnya.
Orang-orang yang melihat itu tampak terkejut, seolah apa yang disebut sebagai kenyataan tidak berpengaruh dalam dunia ini.
"Apa-apaan itu?" sang iblis Noir mengutarakan isi pemikirannya.
"Ini hanya sedikit trik, dengan ini kalian bertiga bisa melawannya...serang dia."
Atas pernyataan Souma ketiganya melangkah maju, mereka mengirimkan serangan yang mereka kuasai.
Anna menciptakan lingkaran sihir api untuk memanggil sebuah mantra Hellfire, disusul Risela yang mengayunkan pedangnya dan ditambah ledakan dari Undine.
Mereka melakukannya cukup baik sayangnya itu tidak pernah memberikan luka pada musuhnya, semacam ada sihir pelindung yang menyelimuti tubuh Noir.
Sebagai serangan balasan dia menghilangkan tangan di atas langit dan memindahkannya di samping musuhnya untuk mengirim pukulan, tangan itu menghempaskan ketiganya dengan mudah.
Ketiganya mengerenyitkan alisnya lalu menginjak tubuh Souma.
"Aku tak mau mendengarnya darimu," mereka mengatakannya di waktu bersamaan.
Setelah selesai memukuli Souma, ketiganya melirik ke arah Noir.
"Kalian bisa santai di saat seperti ini, sungguh meremehkan kekuatanku."
"Jangan khawatir kami akan serius sekarang, Anna."
"Iya."
"Kalian majulah, akan kuledakan saat ada celah."
__ADS_1
Ketiganya menunjukkan tekad kuat, Risela maupun Anna melangkah maju sementara Undine telah mengulurkannya tongkatnya untuk merapal sebuah mantra.
Adapun Souma sedang disembuhkan oleh para pendeta yang sebelumnya dia selamatkan.
Risela menekuk lututnya untuk mengirim dirinya terbang dengan sebuah lompatan, bilah yang dia pantulan menabrak dinding pelindung yang diciptakan oleh Noir.
Meski dia terpental sebagai efek balasan, dinding itu hancur dengan mudah.
"Apa?"
Anna yang mendapatkan celah mengulurkan tangannya.
"Light Thunder."
Petir menyembur dari kedua tangannya, menerjang terarah pada targetnya.
"Tidak semudah itu."
Noir membentuk blokade dengan seluruh tangan iblis miliknya demi menahannya sehingga petir yang kuat telah dinetralkan.
Menyadari bahwa Undine telah siap Risela maupun Anna menjaga jarak, tampak lingkaran sihir bertingkat telah tercipta di atas kepala Noir.
"Flame Burning Explosion."
Sebuah ledakan membungkus tubuh Noir dengan kawah raksasa setelahnya, kecuali bangunan di sekitarnya Noir berdiri seolah tak terjadi apapun.
Singkatnya sebuah tangan telah menyelimutinya dan melindunginya dari apapun.
"Sungguh serangan bagus sayangnya bagiku yang menduduki pilar keempat bukanlah apa-apa."
__ADS_1