
Pagi hari yang damai cahaya matahari yang hangat menyelinap dari tirai jendela, Di atas ranjang di penginapan sederhana Law telah terbangun dengan dua gadis telanjang di sampingnya.
Kedua tangannya diapit oleh paha keduanya membuatnya kesulitan bergerak.
Mereka adalah Pandora dan satu lagi Marinna yang menggunakan tubuh orang lain. Itu mengejutkan baginya karena beberapa hari sebelumnya dia telah mendapatkan kehidupan yang damai tanpa keberadaan kedua orang ini namun sekarang dia jelas kebingungan.
"A-apa yang telah kuperbuat?"
Law sebisa mungkin untuk mengingat kejadian sebelumnya, dia telah menghabiskan waktu di bar dan kembali ke penginapan sebagai mestinya, dia tidak terlalu mabuk hingga melakukan hal seperti ini terlebih saat itu mereka berdua tidak ada di sini.
Pandora menyelinap dengan mata tidur selagi berusaha menggoda Law dengan tubuhnya, Law bisa merasakan bagian terlarang wanita di tangannya begitu juga Marinna yang memeluk Law tanpa ragu.
Law terus memikirkannya dan akhirnya menyadari satu hal penting. Dia masih mengenakan pakaiannya dengan kata lain tidak terjadi apapun yang harus disesali.
"Selamat pagi Law, tidurmu nyenyak," suara itu berasal dari Pandora, disusul Marinna.
"Kami pulang tadi malam, benar-benar melelahkan."
"Jangan tidur tanpa busana."
"Bukannya kau menyukainya."
__ADS_1
Law adalah pria sehat jika ditanya itu maka dia jelas menyukainya namun harga diri kesatrianya tidak akan jatuh begitu saja, jadi dia segera menyuruh mereka berpakaian kembali dan meninggalkan penginapan setelahnya.
Ketiganya berhenti di depan kios roti untuk membeli beberapa buah.
"Manis sekali, Marinna coba ini juga."
"Boleh."
Marinna membuka mulutnya saat Pandora menyuapinya, setelah pesta teh mereka menjadi akrab itu yang dipikirkan Law sekarang, sebelum orang-orang berkumpul di tengah alun-alun kota karena sesuatu.
Law yang penasaran ikut melihat bersama dua penyihir di sampingnya, jelas bahwa di depan orang-orang itu seorang dari gereja tengah membacakan sebuah gulungan di tangannya.
Dia memberikan sebuah hal mengejutkan untuk semua orang.
"A-apa yang mereka katakan?"
"Dan kita tidak akan bergantung dengan negara manapun dan menjadikan uskup agung Vanitas sebagai kepala negara kita."
Law hendak melangkah maju namun Pandora menghentikannya.
"Hentikan itu Law, kau hanya akan memperburuk keadaan, mari kita tenangkan diri dulu sebentar."
__ADS_1
Dengan arahan Pandora ketiganya memutuskan untuk mengunjungi sebuah bangunan tinggi di mana mereka dengan jelas melihat pemandangan kota serta tembok yang mengelilinginya.
Marinna duduk di atas tembok dan Law duduk tampak merenung. Pandora yang berada di depannya berkata.
"Apa hal barusan wajar terjadi?"
"Tidak, jika mereka mengklaim membuat negara sendiri maka perang saudara telah terjadi, aku bisa memastikan hal itu. Alasan hal ini terjadi karena ada beberapa bangsawan yang menyetujuinya."
"Aku dan Pandora tidak tertarik dengan hal disebut negara tapi jika Law ingin turut ikut campur maka kami tidak keberatan bergabung."
"Sampai sekarang aku bingung kenapa kalian terus mengikutiku?"
"Tentu saja karena menarik, selalu banyak hal menarik yang terjadi padamu."
Law mendesah pelan, itu maksudnya sama seperti Law yang selalu terlibat masalah di setiap petualangannya dan tak tanggung-tanggung semuanya pasti hal merepotkan.
Jika di sini terjadi masalah tidak aneh bahwa di ibukota pasti mengalami hal sama. Law tidak bisa berbuat banyak dengan apa yang terjadi di sana namun dia akan mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri di sini.
"Apapun itu, mari pergi?"
"Pergi kemana?"
__ADS_1
"Sudah jelas ke kediamanmu."
Marinna dan Pandora memiringkan kepalanya.