
Souma dan Historia mendapatkan sebuah kamar yang bisa mereka gunakan bersama untuk tidur, sementara Historia mandi Souma menghubungi Lilith.
"Bagaimana dengan situasi di sana?"
"Semuanya baik-baik saja tuan, para komandan telah kembali ke ibukota dan para bangsawan akan dihukum mati besok."
"Begitu, dan bagaimana soal toko?"
"Semuanya berjalan biasanya para pelayan tuan yang lain juga bekerja dengan giat, apa aku harus melaporkan aktivitas malam mereka di mansion."
"Itu bagian yang tidak ingin kudengar, entah mereka mau melakukan apapun selagi aku tidak tahu dan tidak melihat aku sama sekali tidak ada urusan untuk itu."
Lilith tertawa kecil.
"Apa ada yang lucu?"
"Tidak, bukannya perasaan tuan sudah kembali, tidak masalah untuk sedikit liar bersama wanita."
"Ugh... kau tahu juga."
"Aku bisa membayangkan tuan Souma yang mimisan karena melihat tubuh telanjang wanita."
"Aku tidak mungkin begitu, aku yakin itu."
"Souma, aku lupa bawa handuk, apa kau melihatnya?"
Historia muncul dari kamar mandi dengan telanjang dan Souma harus menutupi hidungnya yang mimisan.
"Gwaah."
__ADS_1
"Ada apa Souma kau berdarah?"
"Pergi, jangan dekati aku."
"Heh, aku ingin memeriksamu."
"Lilith selamatkan aku."
Lilith yang berada di atas tembok tinggi memutus percakapannya selagi menatap bulan yang bersinar cukup dekat di atas kepalanya.
"Aku tidak menyangka hal seperti ini terjadi, jika seluruh Demon Lord Trinity tahu ini, apa yang akan mereka lakukan."
Lilith memiliki senyumam hangat di wajahnya sebelum beralih ke senyuman jahat yang mengerikan.
"Sekarang waktunya bekerja juga, ada orang-orang yang menjual belikan obat aneh. Bagaimana cara aku membunuh mereka?'
Sejujurnya Historia adalah gadis cantik namun di luar itu sayangnya dia menyukai gadis lagi, Souma untuk pertama kalinya berfikir demikian.
Ia selalu tidak merasakan apapun jika berdekatan dengan siapapun, ia tidak merasa tertarik, senang ataupun mencoba mengetahui bagaimana perasaan orang lain berikan padanya, dia hanya hidup seperti mesin dengan satu pola pemikiran yang ditanamkan pada benaknya yaitu sebuah kesedihan, karena kesedihan itulah yang mungkin membuatnya membantu orang lain sampai sekarang.
Terlepas bagaimana dia hidup, memiliki perasaan seperti itu tidaklah buruk.
Souma meletakan tangannya di dada Historia.
Meremasnya dan mencoba untuk menekannya. Setiap dia melakukannya keelastisannya memukul telapak tangannya dengan dorongan yang sama.
Apa ini yang disebut hukum fisika.
Souma pernah mendengarnya di dunia yang lain.
__ADS_1
Lebih dari itu.
"Jadi begini rasanya memegangnya, saat aku melakukannya pada Anna aku tidak merasakan sensasi perasaan seperti ini."
"Ugh, Souma mau melecehkanku.. bagaimana ini? Aku belum siap."
"Kapan kau bangun?"
"Sejak tadi."
Dan Souma menarik tangannya, dan pura-pura tak terjadi apapun.
"Saatnya jalan-jalan."
"Aku terluka jika hanya disentuh seperti itu."
Historia mengenakan pakaian Arc Priest yang sebelumnya dia kenakan dengan mahkota serta membawa perisai di tangannya, setelah kesepakatan dengan ras malaikat terjalin mereka akan langsung menyerang wilayah kekaisaran.
Souma juga telah siap dengan pedang di tangannya hanya saja sebelum mereka pergi sebuah guncangan terasa untuk keduanya, barang-barang yang menempel di dinding mulai berjatuhan ke bawah, kaca-kaca jendela mulai bergetar diiringi sebuah ledakan yang memekakkan telinga, tepat saat itu Souma menarik kerah Historia lalu melompat ke luar jendela, rumah yang diberikan untuknya kini meledak karena sebuah bola api yang menabraknya tanpa jeda.
Souma menatap dengan wajah bermasalah.
"Yare, yare, apa itu?"
Souma masih berfikir bahwa yare-yare tidak cocok untuk gadis di sebelahnya.
Di atas keduanya puluhan kapal perang melayang di udara, kapal itu menggunakan balon udara untuk membuatnya terbang.
"Tak kusangka di dunia ini juga ada hal seperti ini."
__ADS_1