Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 260 : Takdir


__ADS_3

Kota terbakar dan setiap bangunan itu mulai berjatuhan seiring waktu, ada kelegaan saat melihatnya termasuk perasaan senang dari orang-orang sebelumnya tertahan di dalamnya.


"Apa mereka akan baik-baik saja?"


"Jangan khawatir, kota yang aku rekomendasikan akan menerima mereka dengan baik, dengan surat pengantarku juga mereka akan dapat bantuan uang, makanan, tempat tinggal dan juga kebutuhan lainnya."


"Aku mengerti."


Souma, Dorothy dan Heart kini telah berjalan di sepanjang garis padang rumput yang landai, angin berembus melalui keduanya saat sebuah kereta tanpa sengaja melewatinya dan berhenti setelahnya.


Dari dalam kereta seorang wanita berusia 30an mengeluarkan kepalanya, dia mengenakan gaun mewah terbuka yang kontras dengan kulit putihnya, memakai kalung di antara dada besarnya yang tampak gemerlap yang menandakan dia seorang yang berkedudukan penting.


Ia memiliki rambut berwarna merah muda yang dikepang satu yang ujungnya diikat pita, untuk seorang wanita dia berpenampilan seperti gadis belasan tahun.


"Aku terkejut bahwa bisa menemukan dua orang kesatria kavaleri, bukannya ini yang namanya takdir."


"Dia mengeluarkan aura kaya, kau harus berhati-hati Souma."


"Kenapa harus berhati-hati."


"Wanita kaya cenderung memikat pria."

__ADS_1


"Itu tidak mungkin terjadi."


"Aku cukup terpikat olehnya," kata ringan Dorothy.


Sebagai mantan pencuri dia pasti menginginkan uangnya.


Wanita itu memperkenalkan sebagai seorang dari asosiasi pedagang dan dengan senang memberikan tumpangan untuk ketiganya.


Dia bernama Oriana, Oriana memiliki tujuan yang sama dengan mereka yaitu pergi ke kota bernama kota Nonsol.


Dari informasi Dorothy bahwa kota itu telah diambil alih iblis lalu kenapa wanita ini malah datang ke tempat seperti itu? Dia hendak menarik belatinya yang mana segera dihentikan Souma.


"Kalian ingin membunuhku?"


"Dibanding berkomplot lebih tepatnya aku mencoba menyelamatkan beberapa orang dari sana, aku membuat perusahaan dagang dan ketika pergi ke sana aku akan mengambil beberapa orang untuk dibawa bersamaku menjadi pekerja toko."


Heart tersenyum.


"Heh, singkatnya kau membeli mereka untuk dijadikan pegawai prostitusi bukan."


"Itu lebih baik dibandingkan tertahan di sana."

__ADS_1


Ujung pedang Heart telah menyentuh wajahnya.


"Nyonya apa Anda baik-baik saja?" suara kusir terdengar dari depan.


"Aku tak apa, jalan saja."


"Baik."


"Semua orang memiliki bisnis yang harus dijalaninya, kau tahu? Jika kau membunuhku kalian akan kehilangan kartu terkuat untuk menyusup ke kota Nonsol dengan aman."


Souma menyentuh tangan Heart agar dia menurunkannya dan itu berhasil menenangkannya. Souma menghela nafas panjang kemudian melanjutkan.


"Nyonya Oriana, tempat seperti apa itu?"


"Kota itu dijadikan kota untuk memproduksi makanan yang nantinya dikirim ke kota-kota yang berada dalam pengawasan iblis, kota itu sedikit lebih baik untuk mereka hidup meskipun tentu saja mereka diperlakukan tidak baik di dalamnya... aku sudah muak dengan hal ini, aku ingin ada seseorang yang bisa menghentikan semua ini."


"Jadi itu yang kau bilang bahwa bertemu dengan kami adalah takdir."


"Benar, aku membenci iblis.. mereka seharusnya tidak berada di sini bukan."


Mungkin itu perkataan sesungguhnya yang dikatakan Oriana, meski begitu. Souma juga tidak bisa mengabaikan kemungkinan besar dia bertindak untuk menjual mereka ke iblis.

__ADS_1


Kewaspadaan tidak bisa begitu saja menghilang, lebih dari itu. Souma pikir Oriana hanya sebagian orang yang mencoba mendapatkan keuntungan dari iblis dan manusia untuk keuntungannya sendiri, dia membantu kesatria kavaleri agar dia diperhitungkan di masa depan jika mereka benar-benar berhasil mengatasi iblis.


Sifat pedagang mungkin memang seperti ini, pikir Souma dalam hati.


__ADS_2