Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 61 : Kecepatan


__ADS_3

*BAM


Sebuah ledakan menggema di tengah pertarungan. Souma berdiri di depan pria yang terluka itu selagi menutup wajahnya yang tertiup angin.


Sementara itu, Risela dan Undine masih menghadapi sosok serigala yang kini telah tertutup hujan debu, dari sana ia mengayunkan cakarnya, membelah tanah bersama udara tipis yang menerjang ke arah mereka. Risela memasang kuda-kuda untuk menyilang pedangnya dan bilah itu terpantul ke arah samping kemudian menghancurkan sebuah gunung dengan bekas cakaran.


"Risela?" panggil Undine padanya yang terduduk di tanah.


"Makhluk ini benar-benar kuat, dia memang pantas disebut pilar ketiga."


"Tapi Souma apa benar-benar tidak akan bertarung?"


"Entahlah, dia hanya akan bertarung jika kita terdesak."


"Heh?"


Serigala bernama Denis maju ke depan dengan seringai di wajahnya.


"Pria di belakang kalian tidak bisa diandalkan, kalian harusnya tidak usah dekat-dekat dengan orang itu."


Dan tiba-tiba saja Risela berteriak kesakitan.


"Kyaaa... tanganku sepertinya terkilir, kakiku tak bisa digerakkan, aku terluka parah."


Mengerti maksud dari Risela, Undine juga bertingkah sama, dia berguling selagi berteriak tak karuan.

__ADS_1


"Bagaimana ini, padahal aku belum menikah tapi aku akan mati di sini, apa yang harus kulakukan."


Denis tampak kebingungan tapi dia memilih untuk bertingkah sesuai keinginannya selagi berjalan mendekat ke arah keduanya.


"Jadi kalian sudah menyerah, baguslah... karena kalian memilih untuk tidak bertarung maka aku akan mengampuni nyawa kalian dan akan kubawa sebagai tahanan, tubuh kalian juga lumayan ba..."


Sebelum Denis menyelesaikan kalimatnya sebuah pukulan menghantam wajahnya yang mana membuatnya tergerus sepanjang permukaan tanah sebelum akhirnya menabrak pohon hingga tumbang.


Dia mendecapkan lidah selagi mengutuk kesal.


"Kau? Dasar pedagang sialan... kau menyerangku saat aku lengah, jadi yang barusan tidak dihitung."


Souma hanya duduk selagi menepuk kepala Risela dan Undine.


"Kalian berdua tidak terluka, bisa-bisanya kesakitan."


"Ini agar kau bertarung, apa kau pernah dengar membiarkan wanita bertarung sementara pria duduk santai di belakang bukanlah hal sopan dilakukan, memangnya kau ini singa jantan apa?" balas Undine menjulurkan lidahnya lalu Risela melanjutkan dengan pipi memerah.


"Singa jantan hanya ahli dalam berkembang biak."


"Hentikan dasar wanita mesum, apa boleh buat, mari selesaikan ini secepatnya."


Souma menggenggam sebuah katana di tangannya, sementara Denis yang marah menaikan bahunya lemas.


"Kalian ini membuatku jengkel, kenapa semua pilar harus mewaspadai kalian padahal kalian hanya tukang lawak."

__ADS_1


"Maaf saja tapi aku ini hanya tukang obat."


Souma menarik pedangnya lalu menjulurkan ujung tajam pada musuhnya.


"Serang aku dari manapun, dan kita lihat sejauh mana kau bertarung."


"Cih, jangan sombong bocah."


Denis menghentakkan kakinya seperti sebuah peluru, tubuhnya semakin lama semakin tak terlihat kecuali pijakan di bawah kakinya yang semakin menipis, tepat saat jaraknya dengan Souma hanya berkisar dua meter, dia menghilang atau sejujurnya gerakan cepatnya membuatnya seperti itu.


Dia muncul di samping Souma dan seketika tatapan Souma menemukannya hingga dia kembali menghilang.


"Bagaimana bisa seorang manusia mengikuti pergerakanku, tidak.. itu mungkin hanya kebetulan."


Denis muncul di sisi lain dan sebuah pedang menghantam tubuhnya, karena Souma menggunakan belakang pedangnya maka itu tidak membunuhnya melainkan mendorong tubuhnya sekitar 10 meter dengan bunyi memekakkan telinga.


"Jika kau tidak mau menyerah tebasan berikutnya akan mengakhiri semuanya, aku merasa simpati dengan apa yang terjadi dengan rasmu, karena itulah aku menahan diri sampai sekarang."


"Jangan bercanda, aku tidak butuh simpati manusia.. saat dewa jahat bangkit semuanya akan dilenyapkan dan rasku akan dihidupkan kembali."


"Dasar bodoh, orang yang telah mati tidak akan pernah hidup sampai kapanpun, bahkan jika dia hidup yang didalamnya hanyalah orang lain."


"Tutup mulutmu, kau mana tahu rasanya kehilangan orang yang berharga untukmu."


"Karena aku tahu maka aku mengatakannya."

__ADS_1


Di dunia sebelumnya Souma mencoba membangkitkan seorang yang dicintainya akan tetapi yang dia lihat saat itu hanyalah iblis.


Denis melesat maju, dengan sekali hembusan nafas pedang Souma menebas kepalanya hingga dia roboh tanpa daya.


__ADS_2