
Melihat bagaimana tubuh Shiji dihancurkan, Stella segera melangkah maju, dia memberikan sebuah tusukan tajam melalui Rapiernya yang mampu memaksa Dara melompat mundur dan naik ke punggung Or seperti sebelumnya.
"Kau baik-baik saja Shiji, hmm tentu saja tidak... kepalamu mungkin sudah hancur."
"Aku tidak apa-apa, yang barusan benar-benar menyakitkan."
"Kau ini bukan manusia kah."
"Aku tidak bisa keluar, bisa kau tarik aku."
"Seperti maumu."
Stella menarik kedua kaki Shiji agar dia bisa keluar dari sana, dengan ringan ia bangkit selagi menggerakkan kepalanya ke kiri ke kanan sedikit menghasilkan suara yang terdengar kurang nyaman di telinga.
"Gadis besi itu memiliki tubuh keras sedangkan rekannya kemungkinan besar berubah menjadi hewan peliharaannya saja."
"Dengan kata lain, kita tidak bisa mengalahkan keduanya."
"Kurasa orang di sana bisa melakukannya."
Shiji menunjuk ke arah Lilith yang sejak tadi mengawasinya dari kejauhan.
"Lilith?" panggil Stella.
__ADS_1
"Meski aku tidak bertarung bukannya kau sendiri bisa melakukannya, aku lihat kau hanya mencoba untuk tidak mengeluarkan kemampuanmu."
"Apa iya? Aku ini hanya kesatria sementara loh."
Lilith menghilang di depan keduanya dalam sekejap mata, Stella mengalihkan pandangan ke arah musuh sebelumnya dan melihat bagaimana tubuh mereka terpotong-potong menjadi dadu sementara Lilith berada di belakangnya dengan tangan berbentuk monster.
"Aku pikir mereka tidak terlalu kuat," katanya santai.
"Terima kasih Lilith kami sangat tertolong, aku akan memberikan bonus untukmu nanti."
Lilith menggelengkan kepalanya untuk menjawabnya secara spontan.
"Yang aku inginkan bukan uang tapi sesuatu yang lebih berharga, karena itu bisakah kau tinggalkan kami berdua."
"Kau dengan pria ini. Jika kau mengatakan itu, maka apa boleh buat."
"Kudengar kau mencari tuan, kalau boleh tahu urusan apa itu?"
"Aku ingin membantunya, kau tahu tentang apa yang ada di dalam tubuhnya bukan?"
"Hoh, tidak aku sangka ada seseorang yang lain yang mengetahuinya, aku yakin tuan tidak akan mengatakannya pada siapapun, seberapa jauh kau tahu?"
Shiji menjawab dengan ringan.
__ADS_1
"Aku rasa, aku lebih tahu dibandingkan denganmu nona Lilith."
"Aku lebih suka jika dipanggil nyonya atau tuan putri olehmu."
"Dengan kata lain kamu menganggapku lebih rendah dari tuanmu."
"Tepat sekali, kuharap kau bisa tahu posisimu."
Shiji tertawa menanggapinya, ini jelas pertama kalinya seorang berkata demikian.
"Dunia ini lebih berbahaya dari dunia yang sebelumnya aku selamatkan, jadi apa yang nyonya Lilith mau dariku?"
"Aku sudah banyak menantang tuan namun selalu kalah, jika kau ingin menantangnya juga paling tidak kau bisa mengalahkanku dulu... tentu tuan sedang sibuk sekarang, jadi hanya saat dia kembali kau bisa menantangnya."
Shiji menghela nafas panjang dia berfikir bahwa sosok Lilith tidak jauh berbeda dengan orang-orang Shiji kenal di kediamannya. Dia berusaha mungkin agar waktu tuannya tidak terganggu dengan sesuatu yang tidak penting baginya.
"Baiklah, aku anggap nyonya Lilith sedang berusaha menantangku saat ini, maka aku menerimanya."
Lilith menjentikkan jarinya, entah Shiji atau dirinya telah muncul di kota mati yang menjadi saksi banyak pertarungan di masa lalu.
Ada tambahan orang di dekat Shiji yang membuatnya terkejut.
"Kau, kenapa kau juga ada di sini?" teriak Shiji.
__ADS_1
"Kalian sepertinya akan melakukan hal yang menarik karena itulah aku tidak akan melewatkan untuk tidak menonton, lagipula kota ini sebelumnya adalah kota yang dihancurkan olehku."
Yang mengatakan itu adalah penyihir rembulan, Pandora.