
Souma dan Naysia mulai memeriksa bagian dalam bangunan, khususnya area tamu dan juga dapur. Kedua area ini harus benar-benar bisa menampung ratusan orang di dalamnya.
Souma berfikir apa dia benar-benar akan tinggal di sini bersama wanita sebanyak itu, membayangkannya memang sulit dipercaya.
"Kalau begitu tuan, aku akan meletakkan beberapa meja dan kursi dengan kapasitas setiap meja diisi 20 orang."
"Iya, aku serahkan dekorasi padamu."
Mereka naik ke lantai dua yang diisi dengan banyak kamar, masing-masing pintunya diberikan nomor agar semua orang dengan mudah menentukan kamar mereka.
Naysia dan Souma memeriksa kamar nomor satu, tentu tidak ada apapun di dalamnya kecuali ruangan kosong tanpa apapun.
Ketika Souma berbalik Naysia sudah menutup pintu.
"Naysia kenapa kamu mengunci pintunya?"
"Beberapa waktu ini aku belum bisa menghabiskan waktu dengan tuan, karena itulah, aku pikir ini kesempatan terbaik."
"Eh?"
Souma segera mundur ke belakang sementara Naysia sudah melepaskan bagian atas pakaiannya menunjukkan kedua dadanya yang melimpah.
Ia mulai menurunkan pakaian dalamnya dan membuangnya ke samping.
"Kalau begitu tuan, mohon bantuannya untuk beberapa jam ke depan."
"Di sini tidak ada ranjang."
"Tidak masalah."
__ADS_1
Ajakan itu cukup membuat Souma tidak bisa melarikan diri, kini ia berfikir untuk sedikit menjauhi kamar dengan siapapun di rumah ini.
"Pagi tuan, maaf membuatmu melakukan itu sepanjang malam."
"Aku tidak keberatan."
Pagi itu Naysia telah meminta seratus pelayan untuk membuat perabotan dari kayu untuk mengisi bagian dalam rumah, 50 orang pelayan lain memindahkan barang dari rumah mansion dan sekitar 50 orang lagi mencoba mendekorasi bagian perkarangan rumah.
Untuk pelayan sisanya mereka harus tetap bekerja di guild petualang dan guild pedagang.
Noreen berkunjung dengan keranjang makanan di tangannya.
"Pagi suamiku, aku membawakanmu makanan, apa malammu menyenangkan? Naysia?"
"A-aku akan mengecek lainnya."
Dia segera melarikan diri dengan wajah memerah.
Souma hanya bisa diam dengan wajah bermasalah. Apa hal seperti ini normal-normal saja.
Noreen merangkul lengan Souma lalu menyeretnya ke tempat kosong untuk duduk bersama.
"Hari ini aku membuat roti lapis dengan isian daging dan sayur, kamu menyukainya?"
"Tentu saja, mengingatkan masa lalu."
"Benar sekali, saat di dunia sana.. suamiku mampir untuk memesan ini bukan."
Itu saat Noreen masih menjadi seorang pelayan di sebuah kedai.
__ADS_1
Souma menggigit roti lapis di tangannya hingga matanya bersinar dengan air mata membasahi wajahnya layaknya air terjun.
"Ini enak sekali."
"Fufu, masakanku tidak akan kalah dengan yang lainnya, tapi suamiku bukannya ekpresimu jauh lebih berbeda dari sebelumnya."
"Benarkah?"
"Benar, dulu kamu terlihat keren... terutama saat itu. Noreen menikahlah denganku dan aku menjawab. Tentu, aku akan membuat 40 bayi untukmu."
"Sebanyak itu sangat berlebihan."
"Kurasa memang benar."
Noreen tertawa lalu melanjutkan.
"Tapi aku sangat senang sekarang, aku memang menyukai Souma yang dulu tapi aku lebih menyukai Souma yang sekarang."
Mereka berdua saling berciuman untuk beberapa saat.
Souma mengelus rambut Noreen yang bersandar di bahunya. Ini semua berkat semua orang. Souma mungkin akan terjebak jika dia tidak bertemu siapapun yang sekarang bersamanya.
"Kalau begitu aku akan kembali ke toko, dadah."
"Biar aku antar nona Noreen," ucap salah satu pelayan.
"Tak masalah, sebelumya aku sudah mengalahkan banyak monster di sepanjang jalan ini," balasnya selagi memamerkan otot tangannya.
"Anda benar-benar kuat."
__ADS_1
Pekerjaan yang kini harus dilakukan Souma adalah membuat area untuk pelatihan petualang baru, itu mengambil tempat jauh dari kediamannya yang dibangun agar tidak ada siapapun yang terganggu.