Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 154 : Malam Berdarah (Arc 1 End)


__ADS_3

Dunia ini busuk, begitu juga orang-orangnya.


Di dalam ruangan yang gelap gulita dimana cahaya matahari tidak bisa menembusnya, tengah terjadi pembantaian yang dilakukan tiga orang anak.


Salah satu anak berambut hijau bernama Mikela melompat untuk menjatuhkan pria besar yang hendak menidurinya, dengan pisau di tangannya dia menusuknya di wajah beberapa kali hingga darah menyembur dari setiap pori-porinya, darah segar terciprat ke wajahnya namun dia tersenyum menyeringai seolah menikmati semuanya.


Di sisi lain dua anak yang lain melakukan hal sama, mereka adalah Endaemonia dan satu lagi Sina.


"Mati, mati, mati, mati, mati."


"Dia sudah mati Endaemonia."


"Aku belum puas sebelum menghancurkan semuanya."


"Begitu."


Sina membuang pisaunya kemudian mengenakan kembali pakaiannya. Mereka adalah budak dan ini adalah sebuah pemberontakan. Tentu mereka tidak bisa melakukannya tanpa bantuan dan seorang itu berjalan dari kegelapan.


Ia mengenakan pakaian pendeta dengan pandangan melankolis.


"Kalian lulus menjadi seorang penyihir, kalau begitu ambillah buku kalian dan mulai sekarang kalian akan tinggal di panti asuhan bersama penyihir lainnya, tapi sebelum itu silahkan untuk mengganti nama kalian terlebih dahulu," nadanya ceria dan selalu terkesan banyak hal yang disembunyikannya.


"Aku akan menjadi penyihir bencana."


"Aku penyihir kecantikan."


"Dan aku penyihir pendosa."


"Nama-nama yang bagus, kalau begitu ikuti aku dan kita akan sama-sama melihat dunia seperti apa yang akan kita buat bersama."

__ADS_1


Di manapun kau berada kegelapan selalu menarik kegelapan lainnya.


Souma menarik cangkir teh ke dalam mulutnya, rasanya tidak buruk dan juga tidak enak hampir semuanya terasa samar-samar.


Setelah menunggu beberapa waktu lamanya pembahasan sesungguhnya dari acara ini dimulai.


"Seperti yang kita lakukan dulu bersama Lugunica, sekarang waktunya pemungutan suara.. siapa yang masih memutuskan untuk menjaga kedamaian yang seperti Lugunica katakan pada kita, silahkan angkat tangan."


Souma, Pandora dan juga Marinna mengangkat tangannya.


"Lalu tiga sisanya akan hidup seperti yang kalian inginkan bukan."


Endaemonia, Mia dan Mikela.


"Benar, membosankan sekali untuk berdiam diri.. dari awal kita ada untuk merubah dunia ini dalam kekacauan, itu mengejutkanku bahwa Pandora dan Marinna memilih untuk menempati janjinya pada orang yang sudah mati," perkataan itu berasal dari Mia.


"Aku sudah memiliki tempat yang nyaman jelas aku tidak bisa melakukan hal itu lagipula aku tidak ingin terlalu menurut dengan perkataan ibu asuh."


"Aku memutuskan untuk tidak memilih."


"Begitu aku juga," tambah Sina.


Tidak memilih bukan berarti akan tetap menjaga perdamaian mereka hanya saja belum memutuskan, baik buruknya akan tergantung dengan situasi.


"Karena pungutan sama, maka itu artinya semua orang berhak melakukan apa yang mereka inginkan."


Souma bertanya.


"Bagaimana jika misalkan aku kalah?"

__ADS_1


Pandora yang menjawabnya.


"Maka yang lain harus menurut pada yang menang dengan pungutan suara yang lebih banyak dan ikut menghancurkan dunia, jika pun yang kalah menolak melakukan tindakan tersebut mereka akan langsung mati, inilah pesta teh para penyihir yang dibuat oleh Lugunica sendiri."


Pesta ini jelas terkutuk, Souma akhirnya mengerti kenapa penyihir bisa dikendalikan sampai sekarang. Karena Lugunica telah mati maka perjanjian sebelumnya telah dibatalkan.


Misalkan jika Souma tidak hadir maka ketujuh penyihir ini jelas akan memilih penghancuran dunia tanpa ragu lagi, bahkan jika itu terjadi Souma juga harus membunuh Pandora yang berada di sampingnya.


"Dengan ini pesta teh telah berakhir."


Souma bangkit dari tempat duduknya diikuti Pandora di sampingnya.


Souma berhenti sejenak lalu menatap semua penyihir melalui matanya yang tajam dan berkata.


"Penyihir senja kau berniat menghancurkan perbatasan ini bukan?"


"Heh, sudah ketahuan kah... tapi aku pikir tempat ini tidak akan hancur dalam waktu dekat, apa itu ulahmu."


"Tentu saja."


Souma jelas berusaha menutupi keberadaan Lilith seutuhnya.


Dia melanjutkan.


"Aku sebenarnya sudah tidak ingin bertarung lagi namun, jika terpaksa aku tidak keberatan untuk membunuh penyihir ataupun orang-orang yang merusak perdamaian ini."


Souma mengangkat tangannya hingga ikan-ikan yang sebelumnya mati telah dihidupkan kembali melalui sihirnya.


"Menakutkan sekali."

__ADS_1


Souma dan Pandora pun menghilang seutuhnya.


__ADS_2