
Souma ingin diam-diam menyelesaikan urusannya di kota naga namun sayangnya itu tidak akan bisa menyembunyikan aromanya dari seekor naga khususnya naga Crimson bernama Stelfania.
Dia memiliki rambut biru dengan kulit putihnya terbungkus gaun berwarna serupa, tanduk dan ekornya terlihat jelas di sana dan ia melompat pada Souma yang mana dihindari dengan teknik melangkah satu langkah ke samping.
"Aku senang tuan Souma datang kemari, tapi kenapa Anda menghindariku?"
"Tidak baik berpelukan di tempat umum," balas Souma tenang sementara lawan bicaranya memiringkan kepalanya bingung. Setahunya Souma tidak pernah bereaksi dengan tubuh wanita, jika dia menghindarinya maka sudah pasti jawabannya.
"Kau sedang puber."
"Entah kenapa semua orang kini menganggapku seperti itu."
"Jangan khawatir jika kau perlu kebutuhan semacam itu, aku tidak keberatan untuk diundang juga."
Jika itu terjadi Souma jelas harus bertanggung jawab.
"Aku ingin mengambil pedang Lugunica?"
"Apa tuan Souma memutuskan untuk melawan penyihir?"
"Ya begitulah."
Keduanya berjalan ke arah pusat kota dimana di sana terdapat sebuah pedang menancap di lantai. Sebelumnya pedang itu digunakan untuk membuka Fram dari peti mati dan sekarang Souma memiliki hal berbeda untuk dilakukan, namun bukan hanya terbatas melawan penyihir melainkan sesuatu yang berbeda.
Souma melanjutkan.
"Nah, Stelfania... mungkin ini mendadak tapi aku harus mengatakan hal yang sebenarnya."
__ADS_1
"Apa itu?"
"Ibumu masih hidup."
"Tuan Souma jangan bilang Anda mencoba untuk mengejaiku."
"Tidak, tapi aku belum bisa memastikannya sebelum mengambil pedangnya."
"Hm."
Bagi Stelfania itu sangat sulit dipercaya, ia telah mencoba untuk merelakan keberadaan ibunya sejak lama tapi jika disebut dia masih hidup, itu mungkin hanya dianggap sebagai mimpi.
Souma menarik pedang tersebut lalu mengalirkan sedikit mananya ke dalam hingga suara terdengar dari sana.
"Owh, baru kali ini ada seseorang menyadariku... aku sungguh beruntung."
"Yaw, anakku Stelfania memang sudah besar, selama ini aku terus mengawasimu dari sini."
Suaranya begitu ceria dan centil.
"Heh, ah, kenapa bisa?"
"Maaf ibu baru bisa mengatakannya tapi sebelum ibu meninggal ibu menyegel nyawa ibu ke dalam pedang ini."
"Harusnya ibu katakan sesuatu padaku, yang lainnya pasti senang juga bahwa ibu masih hidup."
"Itu tidak bisa kulakukan, untuk melakukannya aku telah banyak kehabisan mana, barusan pria ini memberikan mana pada ibu hingga bisa berbicara seperti ini."
__ADS_1
"Aku yang tidak menyadarinya, tapi bagaimana Souma tahu?" sekarang pertanyaan itu dialihkan padanya.
Stelfania menyeka air mata dari sudut matanya selagi menunggu jawaban.
"Aku hanya kebetulan tiba di sebuah tempat bernama The Lost Sanctuary, di sana menyimpan tubuh asli ibumu dan yang selama ini semua orang lihat hanya tubuh buatan."
"Itu benar, yah ceritanya cukup panjang tapi aku tidak menyangka bahwa tubuhku bisa melahirkan kalian berempat."
"Sejak dulu aku memang penasaran, tapi siapa ayah kami?"
"Ugh... aku tidak bisa menjawabnya, bagaimana kalau kita anggap bahwa dia telah mati atau sebagainya."
"Katakan padaku ibu main dengan pria gelandangan mana?"
Souma tidak ingin mendengar hal semacam aib dari keluarga ini.
"Banyak orang, setiap ada pria ibu tiduri."
"Ya ampun."
"Haha tentu saja ibu berbohong, kalian lahir tanpa ayah singkatnya kalian adalah roh manusia yang kutemukan di suatu tempat, aku memberikan tubuh untuk kalian semua, meski begitu aku sudah menganggap kalian anakku sendiri."
"Ibu harus menceritakan semuanya?"
"Baik, baik, tapi bagaimana kalau cari tempat yang bagus untuk bercerita dan tolong rahasiakan dulu pada yang lainnya."
"Aku mengerti."
__ADS_1
Keduanya melangkah pergi.