
"Iblis itu memiliki kemampuan agar tidak bisa disadari, bagaimana kalian bisa melihatnya?" tanya Souma, dan Dorothy menaruh sebuah kacamata di meja.
Kacamata itu seperti apa yang dikenakan untuk seseorang berenang.
"Ini adalah benda sihir, kami menggunakannya untuk bisa melihat mereka, para penjaga kota juga memakainya."
Souma mengambilnya dan melihatnya secara detail sebelum Dorothy memotong.
"Aku tidak ingin berurusan terlalu lama dengan kesatria kavaleri, cepat katakan apa yang kalian inginkan dariku?"
"Kami ingin mengetahui semua pergerakan iblis," jawab Heart bersemangat.
"Aku mengerti, cepat berikan semua informasinya pada mereka, aku tidak peduli mereka akan membayarnya atau tidak "
"Dimengerti."
Souma yakin bahwa dia benar-benar tak ingin terlibat dengan namanya kesatria, tepat saat keduanya menerima banyak berkas sebuah ledakan menggema. Tanah sedikit berguncang membuat mereka kesulitan menyeimbangkan tubuh mereka.
"Oi, oi, aku yakin bahwa kota ini tidak mungkin diserang."
Semua orang terdiam dan langsung menyadarinya.
"Iblis yang kami bunuh tidak lain hanya bertugas untuk mengawasi keadaan kota."
"Sudah jelas."
__ADS_1
Entah Dorothy, Souma ataupun Heart mereka buru-buru keluar ke permukaan bersama yang lainnya.
Karena terlalu lama, Souma memegangi kedua tangan mereka kemudian menggunakan sihir teleportasi untuk muncul di atasnya.
Dorothy melompat ke atas rumah sembari berteriak.
"Kita harus lari ke bagian tembok kota."
Souma dan Heart hanya mengikutinya dari belakang hingga akhirnya sampai di sana, pemandangan yang tampak dari sana hanyalah padang rumput.
Dorothy mengenakan kacamatanya dan melihat bahwa sekitar puluhan iblis raksasa sedang bergerak maju.
"Kau pasti bercanda," katanya tergagap.
Di sekitar iblis raksasa itu ada iblis lainnya yang terlihat seperti iblis yang dibunuh Souma.
"Kurasa agar bisa mewujudkan dirinya, yang kuingat ada iblis juga yang menyerupai manusia," kata Dorothy demikian.
Salah satu iblis raksasa mengambil sebuah batu besar kemudian dia lemparkan dengan keras ke arah kota dimana itu menghantam sisi tembok dengan ledakan memekakkan telinga.
Para pasukan penjaga mulai bermunculan dari gerbang yang terbuka dan selanjutnya berlari ke arah para iblis.
Mereka menggunakan pedang di tangan mereka dan sesekali menggunakan sihir juga untuk melawan.
Souma dan Heart hendak melompat sebelum melirik ke arah Dorothy.
__ADS_1
"Kau tidak turut bergabung?"
"Aku hanya menjual informasi, jika itu bertarung aku tidak akan terlalu berguna."
"Begitu."
Keduanya melompat kemudian melesat maju.
"Souma tebas mereka," ucap Lugunica bertugas sebagai maskot.
"Tentu saja."
Dia menebas kepala mereka untuk menghancurkan sekaligus dengan matanya, untuk beberapa orang mereka seperti seorang yang melawan angin namun jika menggunakan kacamata mereka akan jelas seperti apa pertarungannya.
Darah menyembur ke udara dimana salah satu penjaga diremukkan oleh tangan iblis raksasa, mereka yang paling menyusahkan karena itulah entah Souma atau Heart keduanya lebih memilih menjatuhkan mereka lebih dulu.
"Change."
Pedang di tangan Heart berubah menjadi senapan, dan dia berlari selagi meledakan mata para iblis.
"Gwaaaaah."
"Siapa mereka?" tanya seorang penjaga.
"Aku tidak tahu siapa yang pria tapi yang wanita itu, adalah Pandora dia kesatria kavaleri yang paling hebat."
__ADS_1
"Benarkah."
Jelas Pandora atau Heart memang orang yang terkenal. Dua iblis raksasa mengirimkan tinjunya ke arah Souma dia menebaskan pedangnya begitu cepat hingga seluruh tangan itu terpotong-potong bersama tubuh dan matanya sebelum beralih ke musuh selanjutnya.