Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung

Pahlawan Dari Dunia Lain Yang Tidak Suka Bertarung
Chapter 255 : Meninggalkan Kota Lonsol


__ADS_3

"Sesuai yang diduga, Souma memang luar biasa? Nah kalau naga dan manusia menikah seperti apa anak mereka?"


"Kenapa kau menanyakan hal aneh."


"Pengen tahu ajah."


"Entahlah."


"Kita harus mencobanya untuk tahu kebenaran?"


"Kebenaran jidatmu, terkadang perkataanmu tidak seperti ratu tunjukan."


"Aku sudah terlalu lama hidup di luar sih... apa namanya, pengaruh rekan sebaya."


Souma berjalan selagi menyarungkan pedangnya, dia muncul di tengah kota dan melihat bagaimana hanya dengan pertarungan dua orang telah menghancurkan seisi bangunan di sekelilingnya.


Yang satu Heart dan satu lagi pria berkacamata yang namanya belum diketahui, dia melemparkan tebasan angin yang dibuat dari sihir yang memotong seluruh bangunan dengan rapih.


Heart menangkisnya dengan pedang miliknya walaupun beberapa berhasil memberikan sedikit luka di tubuhnya.


"Change."


Dia merubah pedangnya menjadi senapan kemudian menembak selagi bersembunyi di balik bangunan.


"Yakin tidak ingin dibantu?" tanya Lugunica.


"Singkatnya dia tidak membutuhkannya."


Satu tembakan menggelegar ke udara, pria berkacamata itu tampak tidak mengetahui apa yang mengenainya namun dia memuntahkan darah dari mulutnya.


"Aku tidak pernah mendengar kesatria kavaleri sepertimu... sebenarnya kau siapa?"

__ADS_1


"Kenapa kau begitu ingin tahu? Yang jelas aku di sini untuk membunuh iblis."


Dibandingkan dunia yang Souma lalui kekuatan musuh di sini tidak terlalu kuat, dia sebelumnya melawan kaisar kemudian Vanitas, level mereka terasa jauh berbeda.


Lugunica merasa demikian tapi dia tidak berusaha mengutarakannya, dia hanya senang jika masalah ini selesai. Dia bisa secepatnya kembali dan meminta Souma untuk mengembalikan tubuhnya.


Pria berkacamata mengayunkan tangannya menciptakan deretan lingkaran sihir, sejak tadi dia bisa melayang di udara dan itu juga sesuatu yang cukup mengagumkan, dia menarik semacam tongkat dari pakaiannya kemudian menggerakkannya seperti seorang yang berada dalam permainan orkestra.


Saat dia mengayunkannya setiap lingkaran sihir menembakan bilah angin, melesat, menerjang dengan kecepatan di atas normal. Jika lawannya bukan seseorang yang mengendalikan waktu kemampuannya adalah hal mematikan.


"Lugen."


Darah menyembur dari mulut pria berkacamata, baginya dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.


"A-apa yang kau lakukan? Aku sama sekali tidak mengerti, kau berada jauh di sana dan terus menerus mengawasimu.. bagaimana bisa aku tidak menyadarinya?"


Dia jelas tidak menyadarinya, bahkan jika baginya waktu berlalu cuma satu detik bagi Heart dia bisa merubahnya jadi satu menit, satu jam, satu hari, satu Minggu ataupun satu bulan.


Sebelum pria itu menyadarinya, Heart sudah berada di belakangnya dan darah menyembur dari tubuhnya sebelum tumbang tak bernyawa.


"Sudah selesai."


Dia menciptakan lingkaran sihir di atas langit dan secara bersamaan, bangunan yang hancur mulai menyusun dirinya kembali sedia kala.


"Kau benar-benar kejam, seharusnya kau beritahu bahwa kau bisa menghentikan waktu sebelum dia mati," ucap Lugunica.


"Kurasa tidak usah, karena aku sudah tahu namanya dan dia juga tahu namaku, jadi itu sudah cukup... kalau tidak salah namanya Lidan."


"Kalau begitu oke."


"Apanya yang oke, dengan kematiannya akan muncul lagi musuh yang lebih banyak yang datang kemari," balas Souma.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, karena dari sekarang giliran kita yang akan menyerang... benarkan Pandora."


"Lakukan apapun yang kau suka Heart dan juga jaga kesucianmu dari Souma."


"Heh, padahal aku tidak ingin menjaganya."


"Yah, kau setidaknya menganggapnya penting."


"Souma aku tahu, sulit sekali jadi pria populer kan," potong Lugunica.


"Aku tidak ingin mendengarnya darimu."


Satu hari berikutnya Souma dan Heart berjalan ke luar kota, tak hanya mereka Dorothy juga ikut bersama keduanya.


"Kenapa dia ikut?"


"Aku memaksanya ikut, lagipula kita perlu orang yang tahu wilayah yang akan kita kunjungi."


"Ini pemaksaan, aku akan menutut kalian berdua di pengadilan."


"Maaf saja tapi kesatria kebal hukum."


"Sialan... rakyat kecil benar-benar tidak memiliki keadilan."


"Katakan itu pada dunia yang kejam ini hwahaha."


Lugunica dan Souma saling berbisik.


"Apa yang barusan akting?"


"Entahlah, dia terlihat sempurna jadi orang jahat."

__ADS_1


"Aku juga merasa begitu."


__ADS_2