
Menyadari bahwa pergerakannya sedang diikuti dua orang, Risela hendak berhenti untuk berbalik namun Lilith yang jatuh dari atas menghentikannya.
"Aku saja yang tangani, kalian berdua pergi saja."
"Aku mengerti."
Lilit mendesah pelan saat kemunculan anggota sayap kebebasan ada di depannya, dia adalah seorang raja iblis di dunia sebelumnya seharusnya ia hanya menuruti permintaan tuannya dan menolak permintaan orang lain jadi ini adalah pertama kalinya dia melakukan ini.
Jawabannya sederhana, karena sebagian orang di toko adalah istri tuannya karena itulah dalam hal menjadi seorang pelayan profesional maka istri Souma juga bisa dianggap sebagai majikannya juga.
Lilith tidak bisa menyangkal hal itu.
Asong maupun Doker menunjukan wajah ketidaksenangannya, mereka tidak cukup bodoh untuk mengabaikan sosok di depannya yang memiliki aura membunuh.
"Apa seorang pelayan datang untuk mencampuri urusan kami, sebaiknya kau pergi dan tak perlu terlibat dengan kami," ucap Doker.
"Sudah keharusan bahwa pelayan melindungi majikannya."
"Maka dari itu, kami tidak akan segan."
"Doker sebaiknya kita serang dia bersama-sama."
"Aah."
Doker menarik pedang di pinggangnya, sedangkan Asong mundur untuk menggunakan sihir, ketika dia mengarahkan tangannya bola-bola api bermunculan lalu merubah bentuknya menjadi seekor burung elang.
__ADS_1
Doker berlari dengan sebuah hentakan di bawah kakinya, sementara burung-burung itu mengikutinya lalu melewatinya demi menabrakan diri ke arah Lilith yang hanya menahan dengan satu tangan.
Bam.
Ketika para burung selesai maka disusul dengan tebasan Doker yang melompat ke atas, pelindung yang digunakan Lilith hancur memaksanya melompat mundur ke belakang hingga bertepatan itu sosok Doker telah berpindah tempat dengan Asong yang sebelumnya berada di belakang.
Dia telah selesai merapal sihir tingkat atas.
"Sihir pertukaran kah," gumam Lilith.
"Terima ini, wanita pelayan. Disappear."
Tidak menimbulkan ledakan ataupun cahaya, tubuh Lilith melebur menjadi sobekan mirip sebuah daun yang gugur, pertama jari tangannya disusul kakinya hingga ke kepalanya.
"Benar-benar mengerikan, kau mencabik-cabik seseorang dengan sihir yang tidak bisa ditahan siapapun."
Ketika Lilith mencapai serpihan terakhir dirinya tubuhnya tiba-tiba saja kembali menyatu seperti bagaimana dia menghilang sebelumnya.
"Bagaimana bisa? Mustahil."
"Aku hanya memutar waktu di sekitarku, aku beruntung bahwa seranganmu sangat cepat jadi itu masih dalam jangkauanku."
Lilith tersenyum membuat mulutnya merobek sampai telinga menunjukan gigi berjeruji termasuk matanya yang terlihat seperti seekor naga. Dia melompat mendekat ke arah Asong yang terdiam membeku selagi mengirimkan tinjunya.
Doker yang telah berlari muncul untuk menahan pukulan tersebut sayangnya entah pedangnya atau jantungnya telah tertembus tangan Lilith.
__ADS_1
Di momen tersebut Asong mampu melompat mundur.
"Aku memujimu karena mampu mengobarkan diri untuk melindungi rekanmu namun apa yang telah kau lakukan sia-sia saja."
Lilith membuka kepalan tangannya untuk menunjukkan jantung yang masih berdetak sebelum dia hancurkan dengan mudah.
Asong yang tidak tahu harus melakukan apa, terus memborbardir tubuh Lilith dengan segala sihir yang dia miliki.
Di depannya lebih buruk dari iblis ataupun penyihir, makhluk yang bisa menjadi ancaman dunia jika dia mau melakukannya.
Asong mengatur nafasnya yang tersengal-sengal, ketika dia mencoba membetulkan dirinya kepalanya telah jatuh ke dekat kakinya lalu menggelinding sebelum dia bisa melawan.
Lilith menatap tangan yang dipenuhi darah.
"Kalau saja kekuatan ini bisa digunakan untuk menyelamatkan tuan," ucapnya demikian dengan nada sedih.
Semenjak dia dipanggil ke dunia ini dia telah menantang Souma sebanyak 10 kali namun pada akhirnya dia kalah dengan sosok iblis samurai, kalau saja ada seorang yang lebih kuat darinya.
Lilith tiba-tiba saja mencium aroma yang menarik perhatiannya.
Dia menghilang lalu berdiri di atap bangunan selagi menatap seorang yang baru saja kepalanya di kubur ke dalam tanah.
Dia menyeringai.
"Aroma ini, orang yang waktu itu."
__ADS_1