
Mengesampingkan pergerakan Souma, Law telah sampai di tempat tujuannya.
Dua penyihir di sampingnya terus melekat padanya.
"Hari ini aku ingin tidur dengan Law."
"Curang Pandora hari ini giliranku."
Seorang bawahannya menegur.
"Komandan Law, kami tidak melarang Anda untuk melakukan aktivitas malam tapi kita sedang bertugas."
Law bisa merasakan air matanya mengalir seperti sebuah aliran sungai.
"Aku sudah lelah menjelaskannya, tapi aku bukan orang seperti itu, saat kecil aku memang sering mencuri di rumah tetangga, memancing di kolam orang, mungkin ini balasanku karena semua itu."
"Anda penuh dosa komandan."
Dengan dua gadis cantik di sebelahnya argumen apapun akan ditolak oleh kenyataan, terlebih dua penyihir memang sengaja melakukannya untuk bersenang-senang.
Law memilih untuk lebih fokus dengan apa yang akan dia kerjakan sekarang.
Dia meminta dua penyihir di dekatnya untuk tidak terlibat dalam pertempuran, Pandora penyihir terkutuk yang membuat apapun yang dikatakannya akan dituruti siapapun sementara Marinna orang yang akan mengambil tubuh siapapun dengan mudah jika dia mati, karena itu gaya bertarungnya memang sangat brutal.
Kedua fakta itu sudah cukup untuk tidak melibatkan keduanya.
Namun Pandora dan Marinna jelas akan menolaknya, sederhananya mereka hanya ingin bersenang-senang.
__ADS_1
Seorang telah muncul secara tiba-tiba di depan Law, ia memegang pedang dan mengirim sebuah tusukan, pedang itu sangatlah cepat sehingga tidak ada siapapun yang bereaksi dengan itu kecuali Marinna yang menjadikan dirinya sebagai perisai hidup.
Darah menyembur dari mulutnya setelah melindungi Law dengan baik.
"Aku mati."
"Kau bisa tersenyum bahkan setelah tertusuk," pria yang berkata itu memiliki bekas luka di wajahnya, semua kesatria telah tahu siapa dia.
"Mirider."
Mirider seorang pembunuh bayaran yang berada dalam daftar pencarian. Bersamaan itu pasukan musuh telah mengepung daerah mereka sehingga pertempuran pun pecah dalam waktu singkat.
Mirider membuang mayat Marinna ke samping sebelum melesat tertuju pada Law yang sudah bersiaga dengan pedangnya hingga saling tertahan satu sama lain.
"Kau sepertinya tidak peduli dengan rekanmu yang mati?" kata Mirider.
"Bagaimana mengatakannya dia sudah terbiasa mati."
Pandora berlutut di dekat Marinna dan dengan jahil menusuk-nusuk wajahnya.
"Dia benar-benar mati, dibanding pergi dia mencoba memulihkan kondisi jantungnya, mungkin dia hanya keluar jika tubuh yang digunakannya tidak perawan lagi."
"Apa yang kalian katakan?"
"Tak perlu kau tahu."
Law mendorong Mirider hingga dia melompat menjauh, pedang Law terbuat dari taring Chimera yang dikalahkan oleh Pandora kekuatannya sangatlah kuat bahkan dia harus berlatih cukup keras hanya untuk mengayunkannya saja.
__ADS_1
Law melirik ke arah dimana Chimera itu berada namun dia terkejut bahwa tidak ada apapun di sana.
"Di mana?"
"Apa kau sedang mencari ini?"
Sebuah kaki tengkorak terayun pada Law, di detik-detik terakhir dia menahannya hingga terlempar ke samping membentur bangunan dengan bunyi "Bam' yang cukup memekakkan telinga.
"Bagaimana rasanya menjadi orang yang akan diburu, komandan kesatria Lawyer," suara itu berasal dari wanita bergaun hitam yang duduk di atas Chimera.
"Sarah, kau juga bekerja untuk bangsawan Marquess juga?"
"Mereka memberikan tawaran bagus, benar kan Mirider?"
"Aah."
Keduanya terkejut saat melihat Marinna yang tumbang kembali bangkit dengan senyuman lebar.
"Ya ampun, aku barusan mati sangat cepat... kupikir aku memiliki rekor baru karenanya."
"Mati ditusuk, itu cukup lucu. Mia pasti akan menertawakanmu."
Mia adalah penyihir senja, dia adalah penyihir yang banyak mendapatkan kematian tragis, dibakar, digantung, dipasung, diledakan, dicabik-cabik, dipenggal dan masih hidup untuk menertawainya.
Dia seorang maniak kematian.
"Apa-apaan kau? Aku yakin barusan aku membunuhmu."
__ADS_1
"Itu memang benar, aku barusan mati."
Law bisa mengerti soal kebingungannya, sayangnya mereka berdua adalah penyihir, perlu sesuatu yang lebih kuat untuk mengalahkannya dibandingkan hanya sekedar pembunuh bayaran.