
Lugunica mendengar setiap penjelasan yang dikatakan keduanya dengan seksama, semua hal baik-baik saja sampai Vanitas diangkat sebagai uskup agung dan mengatakan bahwa penyihir adalah jelmaan iblis hingga dari sana dimulailah sebuah event yang disebut sebagai perburuan penyihir.
Lugunica menggebrak meja dengan kesal.
"Apa-apaan dengan orang itu, sihir sejak lama adalah bagian dari kehidupan, mana mungkin mereka begitu saja disebut iblis."
"Begitulah keadaannya, terlebih beberapa kejadian soal pembunuhan dinyatakan sebagai perbuatan penyihir, aku dan Riel tadinya berada di gereja Harmonia karena kami bisa sihir mereka langsung menyerang kami begitu saja."
"Meskipun salah, perkataan orang yang berkuasa selalu mempengaruhi orang-orang di bawahnya, hanya menunggu waktu bahwa kami berdua juga bisa ditemukan di sini."
"Jangan khawatir, aku memutuskan untuk membantu kalian...mari kalahkan Vanitas dan buat kembali situasi semuanya sedia kala."
Riel dan Karina berbisik.
"Karina sepertinya orang ini sedikit gila, kita melawan musuh kuat tapi dia malah melibatkan diri. Apa dia tak sayang nyawa?"
"Benar Riel, mungkin dia bosan hidup."
"Jangan berbisik di depanku dan juga aku bisa mendengar semuanya," teriak Lugunica.
Kepribadian keduanya memang buruk, tambahnya dalam hati.
"Sesuai yang diharapkan dari seekor naga, dia punya telinga besar."
Karina membetulkan pernyataan Riel.
"Maksudnya telinga tajam."
"Bukannya mata kah."
"Kalian berdua ngomongin apa? Yang jelas aku ingin membantu juga, bagaimana mengatakannya aku ingin jadi pahlawan yang mampu menyelamatkan banyak orang."
__ADS_1
"Dia terlalu banyak membaca novel."
"Memang begitu."
Riel dan Karina tiba-tiba saja memunculkan kedua sabit ke tangannya.
"Mereka datang."
Tepat saat perkataan Riel selesai rumah mereka meledak dahsyat. Api membumbung tinggi dan tiga orang yang melakukannya berdiri diam melihatnya.
"Pekerjaan kita selesai lebih cepat, senjata yang diberikan gereja benar-benar luar biasa," kata seorang pria dan pria lain menimpali.
"Mereka benar-benar memperkerjakan kita sebagai Pemburu Penyihir, dibandingkan menjadi bandit bayarannya lebih banyak."
"Aku juga setuju, ini menyenangkan," tambah pria satu lagi.
Pria A, Pria B dan Pria C masing-masing dari mereka memegang sebuah pedang yang bisa menembakan api.
"Kena kalian."
Pria A telah menyadarinya dan menggunakan pedangnya untuk menahan tebasan sabit milik Karina hingga menghasilkan percikan api sebelum Karina melompat ke belakang menjaga jarak.
"Yang barusan hampir saja, penyihir memang sulit dihadapi," kata pria A namun saat dia sadari sabit yang lain telah menusuk tubuhnya dari belakang, senjata itu berasal dari Riel yang seluruh tubuhnya hanya tengkorak.
"Apa kau mengatakan sesuatu?"
"Mustahil, kau keluar dari api... kalian berdua," pria A melihat rekannya, entah pria B atau C keduanya sudah tak bernyawa lagi dan kemudian dia juga menyusul setelahnya.
Lugunica yang terbang dengan hanya menampilkan sayap naga di punggungnya turun didekat Riel.
"Riel wujudmu?"
__ADS_1
"Beginilah penyihir sesungguhnya kami terlahir menyerupai iblis."
"Jangan bilang bahwa Vanitas mengetahui ini dan menggunakannya sebagai alasan perburuan ini."
"Begitulah, tapi kami tidak pernah menyakiti siapapun tanpa alasan, itu hanya dibuat-buat olehnya terlebih penyihir yang tidak seperti kami juga dibunuh begitu saja."
"Jadi begitu."
Karina berjalan ke arah keduanya dan berkata.
"Lebih baik kita tinggalkan tempat ini, maaf soal rumahmu."
"Tak perlu khawatir aku kira sudah waktunya aku pergi."
Lugunica sejak lama mencari alasan untuk meninggalkan kota ini, ini adalah hal yang sejak lama dia tunggu.
Pemikiran itu segera teralihkan ke arah seorang pria lain yang berjalan ke arah ketiganya.
"Bravo, Bravo, sudah kuduga penyihir asli memang kuat syukurlah aku mengikuti para kecoa ini."
Pria itu mengenakan pakaian militer serba putih dengan pola tanda + melekat di tubuhnya, ia mengenakan topi dan juga sebuah tombak di tangannya. Rambut pirangnya bahkan diikat ekor kuda.
"Siapa dia?" tanya Lugunica dan kedua penyihir menunjukkan kewaspadaannya.
"Ferdinand Lorenz, salah satu dari 12 kesatria suci."
"Karena kalian berasal dari gereja sama sudah sepantasnya kalian mengetahui tentangku bukan."
"Dia seorang yang membunuh puluhan penyihir seorang diri, kita tak bisa membiarkannya bebas berkeliaran."
Keduanya menyergap ke arah Ferdinand dengan satu ayunan, entah Riel atau Karina terlempar melewati Lugunica yang diam terpaku.
__ADS_1