
"Kau masih belum menjawab pertanyaanku?"
"Aku hanya datang untuk menemui teman lama dan melihat hiburan yang terjadi di tempat ini penyihir mudah bosan loh... bukannya situasinya bagus, ini kesempatan untuk membunuhku."
Souma mendesah pelan lalu duduk di sebelah Fram untuk menyaksikan pemandangan kota yang telah mengalami kerusakan hingga bayangan asap muncul di setiap tempat.
"Aku ingin beristirahat juga sebentar."
"Heh, tak ingin membunuhku?"
"Mari mengobrol sebentar."
"Usaha bagus tapi aku bukan wanita murahan, aku tidak akan melebarkan pahaku meski kau memintanya."
"Tidak, kau sudah melakukannya sekarang."
"Jangan mengatakannya, cepat buat aku senang."
Souma memilih mengabaikannya tanpa menghilangkan kewaspadaannya, dia penyihir, kegilaannya tidak akan bisa diprediksi oleh siapapun.
"Sebenarnya apa tujuanmu?"
Fram membetulkan posisinya lalu berkata dengan nada main-main.
"Kau penasaran, bagaimana mengatakannya... ini adalah balas dendamku yang ingin kulakukan sejak lama."
"Maksudmu balas dendam pada dunia?"
"Hoh, aku sudah menduganya kau orang yang berpengetahuan luas, benar sekali, kami terlahir sebagai penyihir 'sebenarnya' karena itulah aku ingin menghancurkan dunia ini dan kemudian membentuk ulang kembali."
"Membentuk ulang?"
__ADS_1
"Dunia dimana semuanya hanya diisi penyihir."
Tubuh Fram mengelupas menyisakan tubuh tengkorak dengan mata berwarna merah terang.
"Kau takut?"
"Tidak juga, tapi lebih baik kau punya daging sebelumnya, kau jelek dalam bentuk seperti itu."
"Hmm jujur sekali."
Fram kembali ke wujudnya sedia kala.
"Apa ini karena perburuan penyihir?"
"Bukan... jauh sebelum itu, meskipun itulah yang memicuku bergerak."
Angin berhembus menerbangkan rambut Fram dan sesaat Souma bisa merasakan sebuah perasaan kesepian yang dalam.
"Dari dulu penyihir seperti kami dianggap sebagai pembawa bencana, manusia yang dirasuki iblis dan sebagainya namun sebenarnya kami hanya manusia biasa, sebelum ada perburuan penyihir kami sudah diburu lebih awal."
"Kau benar-benar pria baik, apa kau ingin pergi jalan-jalan denganku sebentar?"
"Sepertinya kau ingin menunjukkan sesuatu."
"Tepat sekali."
Souma menghubungi Lilith lewat sihir telepatinya.
"Aku akan pergi sebentar jika terjadi sesuatu kau boleh mengamuk Lilith."
"Dimengerti tuan."
__ADS_1
"Kalau begitu mari pergi."
Keduanya berdiri dan sekali lagi melihat pemandangan kota sebelum Fram tersenyum.
"Magic Creator, Lintas Dunia, The Lost Sanctuary."
Bersamaan perkataannya keduanya telah tiba di sebuah pemakaman di mana di sekitarnya terdapat ribuan nisan.
"Semua ini adalah kuburan para penyihir, ada beberapa jalan yang bisa dilakukan untuk menuju tempat ini dan aku menerobos lewat kemampuanku, sekarang dua penjaga makam yang merepotkan akan muncul," tempat saat Fram mengatakan itu, dua sabit raksasa hitam dan putih muncul tepat di lehernya.
Itu berasal dari dua orang tengkorak yang mengenakan pakaian pendeta hitam dan putih.
Sebelum bisa menebasnya, Fram dengan mudah menangkapnya dengan dua tangan.
"Kalian benar-benar tak menahan diri, Riel dan juga Karina."
"Kami ditugaskan untuk menjaga makam terlebih terhadapmu."
"Jangan khawatir aku sudah tidak memiliki minat dengan tempat ini aku hanya ingin menunjukkan makam ini pada pria di sana."
Riel yang merupakan suster putih segera membersihkan pakaiannya.
"Ada cowok tampan, kita harus terlihat cantik."
"Kau jadi genit lagi... kita harus membunuhnya juga."
"Haruskah?"
Fram menyeringai selagi mengangkat pistol di tangannya.
"Kalian lupa kalau aku ada di sini bukan, aku ingin bersenang-senang sebentar lawan aku kalian berdua."
__ADS_1
"Itulah yang kami inginkan."
Souma yakin bahwa mereka sudah saling bermusuhan sejak lama.