Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
Bidang petir 2.41


__ADS_3

Lan wu menyembunyikan keberadaan tianceng dari Jian dan lainya, ia memutuskan untuk tidak memikirkan hal tersebut untuk sementara waktu. Sementara tetua api nampak segan untuk mendekati lan wu usai merasakan sendiri cengkraman keras di lehernya. Ia nampak berdiri di samping tianceng seraya memperhatikan aura asing yang samar-samar keluar dari tubuh lan wu.


"Sepertinya energi dari pedang api sudah tidak terlalu bermanfaat lagi" pikir lan wu sembari termenung.


"Lan wu apa yang sedang kau pikirkan?" Tanya Jian menyadarkan lamunan lan wu.


"Sepertinya aku akan meletakan inti api suci di dalam pagoda, namun kakek harus merahasiakan hal ini, takutnya kejadian beberapa tahun silam akan kembali terulang, selain itu jika inti api suci jatuh ke tangan orang lain maka pagoda suci akan menjadi bangunan tua yang tak berguna" jelas lan wu sontak membuat Jian berpikir keras.


Sementara para tetua lainya terlihat begitu senang. Mereka tau pasti jika inti api suci di letakan di pagoda tersebut maka mereka akan lebih mudah mencapai tingkat pelatihan yang lebih tinggi.


Usai memikirkanya lan wu kemudian berjalan mendekati pagoda suci seraya mengeluarkan inti api suci dari tubuhnya. Ia melebar inti tersebut dan sontak berubah menjadi kobaran besar yang seketika masuk kedalam pagoda suci.


"Haih... Aku sebetulnya sedih jika harus berpisah dengan mu" ujar lan wu tersenyum sedih.


Beberapa saat setelah inti api suci menetap di pagoda tersebut muncullah energi yang begitu kuat dari dalam pagoda tersebut. Wajah para murid sontak gembira dan segera berlarian memasuki pagoda suci. Lan wu sedikit senang melihat hal tersebut. Ia memutuskan untuk berbalik dan berjalan mendekati ketua Jian.


"Lan wu apa kau tidak memikirkan diri mu? Api suci merupakan benda berharga yang sanggup menyelamatkan seseorang dari Kematian, kau malah memberikanya secara cuma-cuma kepada pedang dewa" ujar Jian dengan nada serius.


"Hahahahaha.. apa yang lebih berharga dari pedang dewa?" Ucap lan wu tertawa senang


Nampak Jian dan Yuan tersenyum lebar mendengar perkataan lan wu. Mereka tidak menyangka bahwa lan wu sama sekali tidak mementingkan dirinya sendiri ia justru bertindak sebaliknya dan memikirkan orang-orang di pedang dewa. Lan wu kini menoleh ke arah murid tetua xinxin yang di temani oleh tetua api dan tianceng.


Tatapan lan wu masih terlihat kesal meskipun ia berusaha untuk menyembunyikan hal tersebut.


Tidak lama setelahnya xuya berjalan mendekat ke arah lan wu. Xuya sedari tadi berpidh dari lan wu sebab kesulitan untuk menahan tekanan aura yang keluar dari tubuh lan wu, ia akhirnya mendekati lan wu usai aura tersebut telah hilang.


"Ayah.. kapan kita akan ke bidang petir?" Tanya xuya seraya menarik jubah lan wu.

__ADS_1


"Xuya.. sini kakek peluk.." teriak Jian seraya berusaha menangkap tubuh xuya.


Xuya dengan cepat bergerak ke belakang lan wu untuk menghindari Jian, nampak lan wu memasang senyum geli usai melihat tingkah Jian yang kekanakan.


Lan wu akhirnya pamit undur diri dan bergegas mendekati murid xinxin yang terlihat gugup seiring jarak lan wu semakin mendekat.


"Aku perlu berbicara kepada kalian" ujar lan wu melewati tetua api dan lainya.


Mereka akhirnya mengikuti lan wu ke arah gerbang pedang dewa, usai tiba di gerbang tersebut lan wu akhirnya mengutarakan maksudnya memanggil tetua api dan lainya. Lan wu terlihat serius dan tidak sedikitpun menunjukan wajah ramah, sementara xuya terlihat bingung menyaksikan ekspresi yang di keluarkan oleh lan wu.


"Ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian mengenai penempaan tubuh tianceng" ujar lan wu membuka percakapan.


"Aku seperti sebelumnya tentu tidak akan setuju memberimu inti ketiga api suci, namun jika kau hendak menempa tubuh mu aku tidak keberatan untuk membantu tapi dengan satu syarat" lan wu menahan ucapannya sejenak.


"Apa itu?" Tanya tianceng


"Hahahhaha itu hal yang mudah" jawab tianceng dengan nada sombong.


"Huh? Mengapa kau begitu sombong?" Tanya lan wu dengan wajah kesal.


"Anak muda ketahuilah bahwa di era dulu aku merupakan orang terkuat di alam atas" jawab tianceng tersenyum bangga.


"Orang kuat tapi kalah? Apakah anda sedang melucu?" Balas lan wu seraya melangkah keluar gerbang.


Tianceng tak sanggup membalas perkataan lan wu ia terlihat seperti mencerna perkataan lan wu barusan kepadanya, sementara tetua api dan murid tetua xinxin tertawa sembari menatap tianceng.


"Tetua mengapa anda tidak mengikuti tetua lan?" Tanya murid xinxin dengan nada heran.

__ADS_1


"Hahahaha.. aku sudah tidak memiliki alasan untuk menempati tubuhnya, selain itu aku akan segera segi ke alam atas untuk mengerjakan beberapa urusan" jawab tetua api dengan senyum manis di bibirnya.


Sementara lan wu dan xuya telah berada jauh dari pedang dewa dengan bantuan elang muda. Di perjalanan lan wu menjelaskan beberapa hal kepada xuya termasuk cara untuk menyerap energi murni dengan benar. Lan wu juga menjelaskan bagaimana untuk memperkokoh pondasi tubuh serta jurus pedang yang xuya pelajari, nampak xuya menyimak dengan seksama penjelasan dari lan wu.


"Ayah apakah aku suatu saat bisa pergi ke alam atas?" Tanya xuya membuat lan wu sedikit terkejut.


"Hmm.. tentu saja, namun kau harus menjadi lebih kuat terlebih dahulu sehingga bisa menjaga diri ketika berada di alam atas" jawab lan wu dengan senyum tenang.


"Wah.. aku akan berlatih dengan giat" ucap xuya nampak begitu bersemangat.


"Ibu pernah bilang kalau ayah dulu sanggup menghancurkan sebuah sakte seorang diri untuk menyelamatkan ibu, entah mengapa aku begitu ingin menjadi seperti ayah yang bisa diandalkan saat dibutuhkan. Aku... Ingin suatu saat nanti dapat melindungi ayah, ibu, dan wu Jia dengan kemampuan ku sendiri" sambung xuya dengan tatapan tenang.


Lan wu kini memasang senyum seraya mengusap kepala xuya dengan lembut.


Ia tak menyangka bahwa xuya memiliki pemikiran yang sama dengannya saat seusia xuya. Lan wu begitu yakin bahwa xuya akan menjadi pendekar hebat di masa depan, kini tugas lan wu adalah menjaga xuya hingga xuya sanggup melampau lan wu.


Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai di bidang petir. Lan wu sedikit terkejut usai melihat gerbang besar yang di jaga oleh beberapa murid serta tetua berada di depannya. Ia kemudian menanyakan hal tersebut kepada xuya alasan di dirikannya gerbang tersebut.


"Gerbang itu telah di buat hampir setahun yang lalu usai terjadi penyerangan kecil dari pendekar aliran hitam. Ketua Jian dan paman Jan memutuskan untuk mendirikan tembok serta penghalang untuk menjaga isi bidang petir dari tangan-tangan rakus. Kedua sakte akan bergantian untuk menjaga bidang petir setiap beberapa minggu " jelas xuya di sertai anggukan paham dari lan wu.


"Aliran hitam ya... Apakah kau mengetahui nama perkumpulan mereka?" Tanya lan wu entah mengapa membuat xuya terlihat khawatir.


"Ayah .. bukankah ayah sudah janji untuk mengajari ku? Aku akan marah kalau ayah pergi melakukan misi atau apapun" sergah xuya dengan wajah kesal.


"Ahahahahaha.. baik...baik...jangan marah ya" jawab lan wu sembari mencubit pipi xuya.


Lan wu meminta elang muda untuk mendarat tepat di depan gerbang untuk meminta izin kepada para tetua yang berjaga.

__ADS_1


__ADS_2