Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
and all part


__ADS_3

Beberapa bulan setelah Lan wu kembali bersama yiyi ke alam fana. Ia mendapati reruntuhan bangunan pedang dewa serta makam-makam yang berada di area khusus bagi petinggi pedang dewa yang wafat.


Lan wu memutuskan untuk membangun kembali kediamannya dan menjalani kehidupan tenang bersama yiyi dan kedua anaknya.


Sebenarnya yiyi telah memaksa Lan wu untuk menetap di istana. Yiyi tidak ingin jika Lan wu terus di bayangi oleh kesedihan akan runtuhnya pedang dewa. Akan tetapi bukan Lan wu namanya jika ia mudah untuk di yakinkan, ia memilih menetap dan menyuruh yiyi dan kedua anaknya untuk tinggal di istana, sampai Lan wu bertemu langsung dengan anggota pedang dewa yang di bentuk oleh Ling.


Dengan berat hati yiyi akhirnya meninggalkan Lan wu dan berjanji akan mengunjungi nya setiap Minggu. Xuya memilih menetap bersama Lan wu sebab ia begitu tidak tega melihat ayah nya sendirian di rumah.


**


Keseharian Lan wu hanyalah melatih Xuya dan berziarah ke makam Jian, dan Yuan. Tidak lupa pula ia mengumpulkan beberapa kitab beladiri yang tersisa di reruntuhan pedang dewa.


Mata Lan wu terpaku seraya melihat kearah pagoda suci yang telah kehilangan inti dari api suci. Pagoda tersebut nampak terpotong pada bagian ujungnya dan terdapat banyak retakan di setiap sudutnya.


"Seandainya aku berada di sini saat itu.." gumam Lan wu dengan wajah sedih seraya mantap pagoda suci.


"Saudara Lan.." terdengar suara pria yang memanggil Lan wu dari arah belakang.


Lan wu menoleh seraya memasang wajah tenang menatap seorang pria yang berdiri di samping Xuya. Wajah pria tersebut tidak asing bagi Lan wu dan bagi Xuya sendiri.


"Suadara Jan aku sungguh senang melihat kedatangan mu ke mari" jawab Lan wu seraya menjabat tangan Jan.


"Aku juga, bagaimana jika kita berbincang sebentar di kediaman mu?" Tanya Jan seraya tersenyum senang.


Lan wu mengangguk seraya berjalan pelan menuju kediamanya. Setelah sampai, ia meminta Xuya untuk menyiapkan hidangan ringan dan mengambilkan 4 guci arak yang di simpan Lan wu.


Lan wu sedikit terkejut melihat putri dari Jan yang nampak begitu akrab dengan Xuya, Jen huxi dengan senang hati ikut membantu Xuya untuk menyiapkan hidangan ringan.


"Bagaimana perkembangan putri anda?" Tanya Lan wu membuka topik pembicaraan.


"Berkat saran anda sebelumnya, kini Jen'er mengalami perkembangan besar, ia kini dapat mengendalikan energinya dengan bantuan dari segel formasi" jawab Jan terlihat tenang.


"Aku turut senang mendengarnya" balas Lan wu singkat.


Jan kemudian menceritakan situasi beberapa bulan sebelum Lan wu datang. Ia juga mengatakan perihal Ling yang telah berhasil menghabisi seluruh sakte di kekaisaran emas biru dan membangun sakte pedang dewa di beberapa tempat.


Nama Ling sendiri sudah begitu di kenali oleh seluruh pendekar di wilayah barat. Tidak satupun dari mereka berani menentang keinginan Ling. Terlebih lagi kaisar An yang telah menduduki kekaisran emas biru.


"Aku begitu terkejut mendengar bahwa kakak Ling bisa berbuat hal yang begitu mengerikan. Lalu bagaimana dengan kaisar emas biru?" Tanya Lan wu dengan wajah sedikit iba.


"Kaisar dan pasukan kekaisran Qin sedang mencari mereka di ujung wilayah emas biru, dan.." ucapan Jan terhenti mendadak.


"Ada apa saudara Jan?" Tanya Lan wu sedikit heran.


"Ketua gunung biru dan seluruh tetuanya berhasil di kalahkan, hampir semuanya di bunuh terkecuali ketua sakte" jelas Jan melanjutkan ucapannya.


Lan wu hanya menghela nafas panjang seraya tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Jan. Terlebih lagi hubungan sakte gunung biru dengan isyarat dewa yang menyebabkan kehancuran pedang dewa.


"Dimana aku bisa menemukan Ling dan lainya?" Tanya Lan wu seraya berdiri dari duduknya.


"Ia berada di wilayah emas biru, menurut informasi terakhir yang di kumpulkan oleh tetua ku. Ling sedang berkumpul bersama kaisar An di istana emas biru" jawab Jan yang mengetahui tujuan Lan wu.


Tanpa berlama-lama, Lan wu segera pamit kepada Jan dan meminta agar Jan menjaga Xuya serta mengatakan kemana Lan wu pergi.


Lan wu melesat cepat di udara seraya menatap tajam kedepannya. Ia berniat menghentikan Ling dan lainya sebelum masalah tersebut semakin membesar.


Dengan kemampuan Lan wu yang berada di puncak, ia tidak membutuhkan waktu yang lama agar sampai di emas biru. Lan wu di suguhi pemandangan menyedihkan sepanjang area ibukota emas biru.


Ia melihat ribuan warga emas biru yang tengah melakukan kerja paksa untuk mendirikan sebuah gedung besar untuk menampung hasil tambang.


Di samping itu ia juga melihat seorang pria paruh baya yang tengah di cambuki oleh para prajurit kekaisaran Qin. Lan wu yang tidak tahan akan hal tersebut memutuskan untuk mendarat dan menolong pria tersebut.


Dengan cepat ia mengarahkan kerikil keci untuk menghempaskan cambuk di tangan prajurit tersebut sebelum ia membantu pria tua tersebut untuk berdiri.


"Siapa yang berani melawan kekaisaran QIN.!?" Teriak beberapa prajurit seraya menatap Lan wu dengan tatapan bengis.


"Tuan.. anda sebaiknya segera pergi, jangan sia-siakan nyawa mu untuk orang yang sebentar lagi akan mati" ujar pria tua tersebut seraya tersenyum sedih menatap Lan wu.


Mendengar ucapan pria tersebut, Lan wu sontak merasa sakit. Ia kembali teringat akan dirinya yang dulu membantai orang-orang di emas biru tanpa pandang bulu.


"Katakan kepada kaisar kalian, bahwa tetua pedang dewa memintanya untuk melepaskan seluruh tawan. Biarkan mereka hidup bebas di dalam kekaisran ini atau di tempat lain" ujar Lan wu seraya mengeluarkan sedikit aura nerakanya.


Para prajurit yang merasakan aura tersebut, segera berlari dengan wajah pucat kearah isatana. Lan wu kemudian melepaskan seluruh borgol yang ada di kaki tangan pekerja tersebut.


"Kalian kembalilah ke rumah kalian dan jangan keluar hingga pihak kekaisran mengatakan nya. Aku akan membebaskan tawan lainya" ujar Lan wu seraya memasang senyum ramah.


"Terimakasih pendekar, kami akan mengingat perbuatan baik mu ini" ucap para pekerja tersebut seraya kegirangan.


Lan wu mengawasi dari ketinggian para pekerja tersebut, usai mereka semua telah berada di dalam rumah. Lan wu segera melanjutkan perjalanannya ke istana emas biru.


Terlihatlah puluhan prajurit yang tengah berjaga di depan pintu masuk istana. Lan wu tanpa basa-basi langsung menerobos masuk dengan kecepatan tinggi hingga berada tepat di hadapan kaisar An dan para petinggi dari istana naga putih.


Mereka begitu terkejut melihat kemunculan Lan wu yang mendadak, kaisar An memang telah mendapatkan kabar dari yiyi, namun ia tidak menyangka bahwa Lan wu akan datang.


"Ada beberapa hal yang ingin aku katakan, khususnya kepada kaisar An" ucap Lan wu memecahkan keheningan.


"Tentu saja, kau tidak perlu sungkan kepada ku yang merupakan ayah mu ini" jawab kaisar An seraya tersenyum ramah.


"Baiklah jika begitu, aku menginginkan agar seluruh tawan di bebaskan dan mendapatkan hak yang sama seperti dulu, dan hentikan pencarian kaisar emas.." ucapan Lan wu mendadak di potong oleh penasehat kaisar.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin di lakukan. Orang-orang emas biru sendiri yang memulai perang ini dan.." ucapan penasehat kaisar yang mendadak terhenti.


"Aku belum selesai bicara..!" Nampak nada Lan wu meninggi seirama dengan udara yang perlahan-lahan menjadi hampa.


Melihat keseriusan Lan wu sontak ketua kuil matahari menanyakan alasan dari permintaan Lan wu, dan meminta Lan wu agar berbicara dengan kepala dingin.


"Sebelum aku mengatakan alasan ku, bagaimana jika kalian menjawab pertanyaan sederhana ku. Apakah kalian yakin dengan meruntuhkan kekaisaran emas biru pertempuran besar tidak akan terjadi lagi?" Tanya Lan wu dengan nada tenang.


"Tentu saja tuan Lan, bukankah kekaisran emas biru yang terus-menerus memicu peperangan?" Jawab Shilin seraya melempar pertanyaan.


"Bagaimana dengan ras iblis? Apakah dengan menghancurkan emas biru kau dapat menjamin jika tidak ada lagi serangan? Bagaimana jika peperangan besar kembali terjadi dengan kondisi wilayah barat yang kehilangan satu kekuatan besarnya?" Sambung Lan wu sedikit membungkam Shilin.


"Semua ini tercipta dari situasi kecil yang perlahan-lahan membesar. Aku membantai seluruh orang-orang emas biru dan menimbulkan kebencian besar terhadap pedang dewa. Aku membantai seluruh orang-orang di gunung biru dan mengakibatkan sakte pedang dewa musnah. Semua berasal dari kebencian dan akan berakhir dengan kebencian juga. Cepat atau lambat kalian semua akan menuai balasan dari apa yang kalian lakukan saat ini" jelas Lan wu seraya tersenyum kecil.


"Suadara Lan.. bagaimana bisa kau melupakan ketua serta orang-orang pedang dewa lainnya yang di bantai keji oleh emas biru?" Timpal Kein yang kini telah menjadi salah satu tetua di pedang terbang.


"Aku bahkan hendak menanyakan bagaimana bisa tetua baru di pedang terbang berbicara mengenai kehancuran pedang dewa" balas Lan wu sedikit membuat Kein terlihat geram.


"Tentu saja untuk meningkatkan kekuatan, buktinya kini aku telah berhasil mengahabsi banyak orang di gunung biru.." ucapan Kein terputus oleh munculnya tekanan hebat yang menggetarkan istana tersebut.


Dengan cepat ketua Shu segera melompat ke hadapan Lan wu seraya mengeluarkan energi pelindungnya. Akan tetapi mendadak ketua Shu memuntahkan darah segar lalu terlempar kearah belakang.


Tekanan semakin menguat seirama dengan terlihatnya api abadi yang berkobar di sekujur tubuh Lan wu dan warna matanya yang memerah.


Suasana menjadi semakin tegang usai sebuah pilar besar menancap tepat di tengah-tengah istana. Pilar tersebut membuat istana tersebut hancur berkeping-keping hanya menyisakan orang-orang yang berada di ruangan tersebut.


Wajah semuanya nampak memucat di sertai derasnya keringat dingin yang bercucuran dari tubuh mereka. Tidak ada satupun dari mereka yang sanggup bersuara bahkan kaisar An sendiri.


"Ku peringati kalian semua, segera lepaskan seluruh tawanan kalian dan beri mereka kebebasan untuk memilih. Jika mereka hendak tinggal dan menerima kaisar sebagai penguasa emas biru, maka ijinkanlah. Jika mereka hendak meninggalkan emas biru, maka kabulkan lah..!" Seru Lan wu dengan nada tegas di sertai nafsu membunuh.


Lan wu menyentuh pilar besar tersebut dan perlahan-lahan mengecil lalu terpisah menjadi 4 buah tombak. Tombak-tombak tersebut melayang di sekeliling Lan wu seraya terus memancarkan auranya.


"Baiklah jika tujuan mu baik. Aku akan segera memerintahkan prajurit ku untuk melepaskan para tawanan" jawab kaisar An usai tidak lagi merasakan hawa membunuh dari Lan wu.


Lan wu hanya mengangguk pelan seraya tersenyum paksa. Dari raut wajah nya, ia terlihat begitu menyesal sebab tidak sanggup untuk mengendalikan dirinya.


"Ayah maafkan aku, aku tidak bermaksud menekan kalian semua dengan kekuatan ku. Namun, percayalah bahwa aku melakukan ini semua demi terciptanya sedikit ketenangan di dunia ini" ucap Lan wu dengan nada penuh penyesalan.


Kaisar An memahami tujuan Lan wu yang sebenarnya. Bahkan ia telah di beritahukan oleh yiyi perihal pertempuran besar di alam dewa yang melibatkan seluruh orang untuk menghadapi kaisar dewa yang hanya di anggap oleh alam fana sebagai urban legend. Tentu bagi seseorang yang telah berperan besar demi kedamaian akan menjadi geram saat melihat pengorbanan nya di sia-siakan demi kekuasaan semata.


"Kau pasti lelah. Kemarilah, aku akan mengantarmu untuk beristirahat" ucap kaisar yang berjalan turun dari singgasana mendekati Lan wu.


Kaisar mengantarkan Lan wu menuju kediaman pangeran emas biru yang telah di kosongkan semenjak peperangan antar 2 kekaisaran tersebut.


"Kalian tolong siapkan keperluan pangeran Lan. Dia merupakan suami dari putri ku" ucap kaisar An kepada 2 orang dayang.


"Hal tersebut memang sudah di bicarakan oleh kaisar di alam dewa, dan khususnya seluruh petinggi yang berada di alam dewa dan surgawi. Aku di minta sebagai perwakilan dari alam fana dalam rencana besar pembukaan gerbang kenaikan" jawab Lan wu dengan nada tidak tertarik.


"Wah.. ini merupakan kabar yang menggembirakan seluruh orang. Aku sangat yakin kekuatan di alam fana kelak akan melampaui 2 alam lainnya" ujar kaisar An penuh kegirangan.


"Namun sepertinya aku akan menunda rencana tersebut.." ucapan Lan wu sontak melenyapkan ekspresi senang kaisar An.


"Maksud mu? Bukankah bayak orang yang akan terbantu dengan hal tersebut?" Tanya kaisar di penuhi pertanyaan.


"Tujuan dari rencana ini adalah untuk menghapuskan perbedaan antara 3 alam, bukan sebagai ajang pamer kemampuan untuk menekan ras, atau alam lain" jelas Lan wu dengan wajah datar.


"Jika saja orang-orang rakus akan kekuasaan memanfaatkan situasi ini, takutnya bukan persekutuan hebat yang tercipta melainkan peperangan yang kembali menghancurkan 3 alam dengan sendirinya" sambung Lan wu seraya memperbaiki posisi duduknya.


Ayah.. kita tidak hanya hidup sendiri di alam ini, banyak sekali orang-orang yang lebih kuat dari kita sedang menanti kesempatan untuk menguasai alam ini, meskipun aku telah berhasil mencegah kehancuran besar, namun takutnya itu hanya menunda sedikit waktu. Beruntung pada saat penyerangan besar di alam dewa tidak berimbas kepada alam fana. Jika itu terjadi.." Lan wu seakan-akan tak sanggup membayangkan hal tersebut.


"Masih ada waktu bagi kita semua untuk menjadi lebih baik. Tidak selamanya aku dan dirimu dapat hidup dan berkuasa di alam ini" sambung Lan wu seraya menyodorkan segelas teh kepada kaisar An.


Dengan pikiran yang terbagi. Kaisar An meneguk secangkir teh yang di berikan oleh Lan wu. Ia bahkan yang lahir lebih dahulu dari Lan wu tidak mampu berpikir sedetail itu.


Kaisar An semakin yakin bahwa Lan wu memanglah orang yang di ramalkan akan menciptakan kedamaian besar di ke 3 alam.


Walaupun pengetahuan kaisar minim, namun melihat apa yang telah di lalui Lan wu sudah lebih cukup menjadi bukti baginya.


"Baiklah. Aku akan membiarkan mu menyelesaikan perihal ini. Mengenai emas biru, aku akan mengadakan pertemuan besar dengan kelompok serta sakte-sakte di emas biru yang tersisa untuk menyelesaikan permasalahan ini secara damai" ucap kaisar setelah terdiam beberapa saat.


"Aku sungguh senang mendengarnya dari mulut ayah sendiri" jawab Lan wu yang kini tersenyum tulus.


Mereka melanjutkan pembicaraan ringan dan sesekali tertawa akan lelucon satu sama lainnya. Kaisar An semakin senang usai Lan wu membuka identitas nya yang merupakan salah satu pangeran dari ras langit.


Lan wu juga mengatakan bahwa beberapa minggu lagi ayahnya dan seluruh suadaranya akan berkunjung ke istana kaisar An. Selain untuk mengeratkan hubungan kekeluargaan, rencananya ayah Lan wu akan membangun portal khusus yang menghubungkan istana kaisar An dengan kerajaan langit.


Usai puas berbincang, kaisar An kembali ke istana emas biru untuk menyiapkan urusan-urusan pertemuan yang rencananya akan ia adakan 3 hari lagi.


Lan wu mengantar kaisar ke depan kediamanya lalu berjalan kembali untuk beristirahat sebelum nantinya ia akan mengunjungi gunung biru.


**


Di sisi lain nampak Xuya tengah berada di sakte elang surgawi. Ia nampak begitu senang usai mendapatkan banyak teman baru di sana.


Jan menjadi sedikit sibuk setelah penerimaan murid baru yang begitu bayak dari sebelumnya. Mungkin saja karena beberapa sakte besar tengah sibuk di kekaisaran emas biru untuk membantu kaisar An.


"Ketua sakte, di luar ada yang ingin bertemu dengan anda" ucap salah satu murid elang surgawi seraya membawa sebuah pedang panjang di tangannya.


Jan segera mengambil pedang tersebut dari murid sakte nya, lalu menyuruh muridnya untuk mempersilahkan orang tersebut masuk.

__ADS_1


Setelah orang tersebut berdiri tepat di hadapan Jan, barulah Jan mengetahui sosok pria tersebut. Pria yang begitu di kenali olehnya dan bahkan seluruh orang pada masa pedang dewa.


"Kau..!" Dengan sigap Jan melompat seraya menyerang pria tersebut dengan pedang panjang di tangannya.


Terjadi pertaruangan singkat yang di akhir dengan terpental nya mereka berdua secara bersamaan. Pria di hadapannya nampak tersenyum tenang seraya memperbaiki posisi berdirinya.


"Sudah lama ya.. ketua Juan?" Ucap pria tersebut yang nampak memunggut plat kayu miliknya.


"Apakah kau nyata? Atau hanya iblis yang menyamar sebagai wujud itu..?" Nada Jan masih begitu tegas di sertai kebimbangan.


"Tentu saja, dan mungkin jika kau bertemu dengan kakek tua itu pasti akan membuat mu kehilangan nafas" jawab pria tersebut bersamaan dengan munculnya sosok pria berjanggut putih yang masih memakai baju putih seperti orang yang di makamkan.


"Sial.. mengapa mereka memaku petinya begitu keras..!" Geram pria tua tersebut sembari merenggangkan tubuhnya.


Jan hampir saja kehilangan kesadarannya usai melihat pria tua tersebut. Ia nampak oleh dan hendak ambruk ke tanah namun segera di tahan oleh 2 orang tersebut.


**


Di emas biru terlihat Lan wu yang tengah bersemedi mendadak membuka matanya.


Terlihat raut wajah tidak percaya muncul bersamaan dengan butiran air mata.


"Naga kiamat..!" Teriak Lan wu bersamaan dengan keluarnya cahaya dari tubuhnya dan membentuk seekor naga besar dengan satu sayap di punggungnya.


Lan wu melompat ke atas naga tersebut lalu melesat cepat meninggalkan kediamanya yang hancur akibat tekanan angin dari kepakan sayap naga kiamat.


Tubuh Lan wu nampak di baluti percikan api yang membakar udara sekitar akibat kecepatannya. Dalam hitungan menit ia telah memasuki area elang surgawi dan mendarat tepat di depan kediaman Jan.


"Pembelah galaxy" ucap Lan wu mengayunkan pedangnya hingga membelah atap rumah milik Jan.


Kini ia dapat melihat jelas 2 wajah yang tidak asing di ingatannya. Lan wu perlahan-lahan mendekati kedua orang tersebut yang masih tercengang akan kemunculannya.


Sementara terlihat Xuya yang tengah di gendong oleh pria berjanggut putih nampak begitu ketakutan melihat tubuh Lan wu yang di selimuti api abadi.


"Lan'er, bisakah kau menetralkan aura mu? Bahkan aku saja begitu ketakutan di buatnya apa lagi anak mu.." ucap pria berjanggut putih seraya menatap teduh kearah Lan wu.


"Bisakah kalian menjelaskan apa yang terjadi di sini? Bisakah kalian berhenti mempermainkan persaan ku? Siapa kalian yang berani menggunakan wujud itu..?!" Nampak kobaran api di tubuh Lan wu semakin membesar.


Pria berjanggut putih nampak menyerahkan Xuya kepada Jan, lalu bergerak maju menyerang Lan wu. Mereka bertarung begitu sengit sembari saling tanya jawab.


Hingga terjadilah tekanan dasyat dari teriakan Lan wu yang menyapu bersih kediaman milik Jan. Jan dan lainya segera menjauh dari Lan wu dan pria tua tersebut.


Lan wu melesat cepat kearah pria tersebut seraya mengayunkan jurusnya. Nampan darah segar mengalir dari lengan pria tua tersebut yang tergores pedang Lan wu.


Pria tua tersebut melesat maju melewati tebasan pedang yang sedikit menggoreng pipinya.


"Pukulan orang tua..!" Teriak pria tua tersebut seraya menghantam perut Lan wu hingga tersungkur menabrak pohon besar yang berada di samping kediaman Jan.


Lan wu mengumpulkan kekuatannya dan berusaha berdiri namun mendadak tubuhnya kehilangan kekuatannya. Ia merasa seperti otot-otot dan energinya di kunci.


"Jangan terburu-buru anak muda, aku telah mengunci otot-otot serta tenaga dalam mu" ucap pria tua tersebut seraya menghapus butiran air di pelupuk matanya.


Lan wu mengenali betul ucapan tersebut. Ucapan dan jurus pria tersebut begitu mirip saat ia pertama kali bertemu dengan ketua Jian. Ia sangat yakin bahwa pria di hadapannya bukanlah palsu.


Lan wi berteriak begitu keras bersamaan dengan terciptanya tekanan angin hebat di sekelilingnya. Nampan tubuh Lan wu yang sudah bisa di gerakan.


Ia segera melompat dan memeluk pria tua di hadapannya. Lan wu menangis sejadi-jadinya seraya memukul-mukul punggung pria tersebut.


"Kakek bodoh..! Ku pikir aku sudah kehilangan mu..!" Teriak Lan wu seraya menangis terisak-isak.


"Heh.. ternyata kau begitu mengkhawatirkan aku ya.. hehehe" tawa pria tua tersebut seraya mengusap-usap punggung Lan wu.


Lan wu menangis sejadi-jadinya hingga tubuhnya begitu kelelahan. Hampir 3 jam lamanya ia menangis seraya memeluk tubuh Jian.


"Sampai kapan kau ingin menangis? Kaki ku sudah sangat keram nih.." keluh Jian seraya menggoyangkan tubuh Lan wu yang terus memeluk nya.


"Eh..? Dia tertidur?" Kaget Jian yang melihat Lan wu telah terlelap pulas seraya terus meneteskan air matanya.


Jian hanya tersenyum seraya menggendong Lan wu ke tempat peristirahatan tamu yang tersedia di sakte elang surgawi. Di perjalanan menuju kediaman tersebut. Jian menjelaskan bagaimana mereka bisa hidup kembali kepada Jan.


"Ternyata seperti itu. Aku bahkan lupa jika tubuh kalian berdua telah berada di tingkat abadi, selain itu kalian mendapatkan tulang sayap dari naga dewa serta roh keabadian dari dimensi lain.." ujar Jan yang telah memahami situasi tersebut.


"Lalu kemanakah istri anda ketua Yuan?" Tanya Jan yang hanya di balas senyum kecil dari Yuan.


"Dia mungkin sekarang tengah bereinkarnasi dan terlahir kembali di suatu tempat.." jawab Yuan seraya menatap kearah langit.


"Sekarang aku hanya akan fokus kepada Lan wu. Aku akan membantunya untuk menciptakan kedamaian yang kau katakan kepada ku. Biarkan kisah ini menjadi sejarah yang nantinya akan di kenang banyak orang di masa mendatang" sambung Yuan seraya menatap Lan wu yang terlelap pulas.


"Tidak lama lagi.. sebentar lagi.. kau akan melihat raut wajah bahagia dari seluruh pemeran dalam kisah hebat Lan wu. Mereka akan menceritakan turun-temurun kepada anak-anak dan keturunan mereka tentang seorang pemuda yang berjuang keras untuk hari yang lebih baik" ucap Yuan seraya melangkah di susul yang lainnya.


**


**halo boyy.. thanks atas kesetiaan kalian sampai akhir episode novel ini.


akhirnya pendekar kelana tamat dalam jumblah episode yg tidak lebih dari 300.


maaf jika endingnya tidak begitu memuaskan, tapi percayalah ini hal terbaik yang bisa ane berikan.


akhir kata.. seeu nex boy... buy..buy..buy..✋**

__ADS_1


__ADS_2