
setiap harapan memiliki tujuan, dan setiap tujuan memiliki cara kerja.
Lan wu melewati hidupnya dari kesakitan hingga kini berada di tahap yang mengubah rasa sakit menjadi kepuasan.
pencapain yang di raih oleh lan wu. kian menjadi panutan oleh orang lain untuk di jadikan jalan pendekar oleh mereka.
**
lan wu membuka matanya usai berkultivasi selama 2 Minggu. Tidak terasa sudah hampir 1 bulan lan wu telah berada di kerajaan langit dan telah mencapai kemajuan dari peningkatan energi hitam di tubuhnya.
daratan yang terbentuk dari energi hitam yang di padatkan, kini hampir terbentuk sepenuhnya. Masih terdapat beberapa bagian yang belum mengalami pemadatan.
lan wu hanya membutuhkan beberapa waktu lagi sebelum akhirnya ia mencapai tahap energi hitam tanah.
pada alam ini lan wu tidak begitu mengerti mengenai tingkat kultivasi tetapi lan wu sendiri meyakini bahwa sistem kultivasi yang di terapkan di alam ini tentu tidak berbeda jauh dari alam dewa.
Lan wu menyimpulkan dari beberapa pendekar serta jendral yang setidaknya telah mencai tahap raga ilahi. untuk saat ini hanya beberapa orang saja yang kemampuannya tidak mampu di lihat oleh lan wu.
Lan wu beranjak dari duduknya seraya berjalan keluar dari penginapan tersebut. dari arah samping terlihat salah satu pemuda yang berpenampilan layak bangsawan mendekat ke arah lan wu.
lan wu menyipitkan matanya seraya memandang senyum ramah di wajah pemuda tersebut.
"apakah dia mengenali ku?" tanya lan wu dalam hati sembari mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Adik Chi, aku sedikit tidak percaya mendengar kepulangan mu. kau bertambah kuat rupanya" ujar pemuda tersebut yang merupakan anak ke 5 kaisar yang bernama bernama ziyou Tian.
"apakah kau tidak mengenali ku?" tanya ziyou dengan wajah heran.
Lan wu tersadar dari lamunannya seraya tersenyum canggung menatap ziyou.
"tentu saja tidak kakak" jawab lan wu tersenyum.
ziyou menjelaskan maksud dari kedatangannya menemui lan wu dan bagaimana ia dapat menemukan penginapan tersebut.
"ayah meminta mu untuk menghadiri upacara pelantikan mengapa kau malah kabur? posisi sebagai pemimpin pasukan elite sangatlah tinggi dan banyak di harapan oleh orang lain, bahkan jika kakak Hu dapat memilih mungkin ia akan memilih menjadi pemimpin pasukan daripada menjadi jendral besar" jelas ziyou sembari berjalan pelan bersama lan wu menuju ke istana.
"hais..kakak, aku tidak begitu tertarik dengan posisi dan jabatan. menjadi bebas adalah keinginanku dan itu tidak bisa di rubah" lan wu menghela nafasnya sembari memasang senyum hambar
"aku masih memiliki banyak tanggung jawab di alam bawah yang belum sempat aku selesaikan, akan sangat egois bila meninggalkan tanggung jawab tersebut dan malah mengambil tanggung jawab yang lebih ringan. aku tidak senang memerintah dan hanya duduk manis melihat orang lain yang mempertaruhkan nyawa, bagiku bertarung dan melindungi lebih baik ketimbang memimpin dan memerintah" ucap lan wu membuat ziyou terdiam sesaat.
Ia merasa tersindir dengan perkataan lan wu, namun di sisi lain ia merasa bahwa apa yang di katakan oleh lan wu memanglah benar. jabatan hanya dapat terlihat hebat jika pendukung yang dipimpin nya memiliki kualitas.
__ADS_1
dapat di ibaratkan seperti kekalahan dalam perang, hal pertama yang harus prajurit lakukan adalah mengutamakan keselamatan jendral meskipun harus mengorbankan nyawa.
sedangkan seorang yang menjabat sebagai jendral di tuntut untuk melindungi dan memimpin pasukannya dengan baik dan bukan sebaliknya bersembunyi di belakang pasukanya.
"jadi menurutmu jabatan sama sekali tidak penting?" tanya ziyou menatap ke arah lan wu
"apa aku mengatakannya? aku hanya bilang jika tidak senang melihat orang mempertaruhkan nyawa untuk ku, bukan berarti aku merendahkan jantan tersebut. jabatan akan menjadi penting bila di duduki oleh orang yang tepat dan sebaliknya akan menjadi lelucon jika di duduki oleh orang yang hanya mementingkan keuntungan dirinya" jawab lan wu
mereka asik bercerita hingga tidak sadar telah berada di halaman istana. Mata lan wu kini terbuka usai melihat kakak pertama nya tengah berdiri sembari memegang tombak berwarna emas di tanganya.
terlihat puluhan prajurit berdiri sembari membentuk sebuah lingkar yang kini mengelilingi lan wu. lan wu tersenyum tipis usai melihat Huo yang melompat masuk ke dalam lingkaran tersebut dan kini berdiri di depan lan wu seraya tersenyum tipis.
"aku mendengar dari jendral yingxu bahwa kamu memiliki kemampuan hebat. biarkan aku mencobanya dan melihat perkembangan mu selama ini" Huo mengeluarkan energi petarung nya yang menciptakan tekanan hebat di area tersebut.
"tidak di ragukan, kemampuan jendral besar memang sangat mengagumkan" pikir lan wu seraya menggenggam gagang pedang sunyi.
Huang dan para petinggi kerajaan terlihat menyaksikan lan wu dan Huo yang sedang bersiap menerjang satu sama lainnya.
Huo sedikit heran melihat lan wu yang belum mengeluarkan energi petarung milikinya.
"adik Chi, apakah kau meremehkan aku?" tanya Huo tersenyum kagum
"mana berani aku meremehkan seorang jendral besar, hanya saja aku tidak tertarik untuk bertarung apalagi harus menghadapi seorang dengan level yang level pelatihanya lebih tinggi dari ku" jawab lan wu dengan wajah tenang.
seandainya lan wu telah mencapai energi hitam tingak tanah, mungkin ia dapat mengimbangi pertarungan tersebut.
"kau memiliki kemampuan namun masih saja di sembunyikan, kalau begitu aku akan memaksa mu" Huo melempar tombaknya yang melesat cepat ke arah lan wu.
tekanan dari tombak tersebut sangatlah kuat. lan wu melompat ke samping menghindari tombak tersebut seraya mencabut pedangnya dan bergerak cepat ke arah Huo yang tengah berdiri dengan tenang.
"tebasan dewa sunyi" ujar lan wu seraya menebaskan pedangnya ke arah Huo.
tekan dari jurus sunyi membuat para jendral lainya begitu kagum dan memuji jurus tersebut. sementara Huo masih memasang senyum seraya menatap jurus lan wu yang semakin dekat ke arahnya.
Huo mengulurkan tangannya ke arah tombak yang berada di depanya dan dengan cepat tombak tersebut bergerak kembali menuju hou. Huo menangkap tombak tersebut sesaat sebelum terciptanya tekanan Anging dasyat akibat benturan dua senjata tersebut.
"kemampuan nya sangat hebat, meski tingkat peltihanya masih rendah tetapi dia dapat mengeluarkan jurus pedang yang begitu hebat" gumam Huo bersamaan dengan lan wu yang melompat mundur.
mereka kembali saling menyerang dengan mengandalkan senjata mereka. pertaruang Meraka begitu sengit hingga membuat mata Huang dan lainya tak teralih ke tempat lain.
pertaruang telah berlangsung lama dan mereka telah bertukar 100 gerakan. lan wu masih terlihat begitu tenang sementara Huo nampak sedikit kelelahan akibat pertarungan mereka yang begitu lama.
__ADS_1
Huo menarik nafasnya seraya mengaliri energi dasyat di tombaknya. energi tersebut dapat menghancurkan pijakan Huo seraya membuat retakan panjang di sekitarnya.
"adik Chi, aku mengakui kemampuan mu. kalau bukan karena perbedaan tingkatan serta usai, aku yakin bahwa kau akan memenangkan pertarungan ini. aku rasa pemanasanya sudah cukup saatnya untuk mengakhirinya bersiaplah ini sedikit berbeda dari sebelumnya" ujar Huo dengan energi yang memancar begitu kuat.
Huo melesat ke udara seraya mempersiapkan jurusnya.
"tombak langit, hukuman dewa..!" teriak Huo bersamaan dengan munculnya mata tombak besar dari langit yang mengarah cepat ke arah lan wu.
tekanan begitu hebat dan menciptakan ketakutan di hati lan wu. ia bahkan tidak yakin jika badai acak dapat menahan serangan tersebut.
"cih...sejak kapan aku menjadi pengecut seperti ini, biar aku tunjukan pada kalian kekuatan dari alam fana yang kudapat" teriak lan wu seraya melompat ke atas dan bersiap menebaskan pedangnya.
" tebasan sunyi, tusukan sunyi, putaran sunyi" lan wu mengeluarkan seluruh jurus dari pedangnya seraya menebas nya ke arah tombak besar di hadapan nya.
serangan lan wu tidak dapat menahan tombak tersebut yang kian mendekat ke arahnya.
lan wu mengalirkan seluruh energi hitam miliknya seraya mengeluarkan api iblis yang kini menyelimuti pedang sunyi. yang kini terlihat berwarna hitam pekat.
api iblis semakin berkobar hingga menciptakan bentuk pedang besar dengan yang menyelimuti tubuh lan wu. hal tersebut membuat Huang dan lainya begitu terkejut melihat pedang hitam besar yang terlihat oleh mereka. meski masih dalam bentuk energi dan tidak memiliki wujud seperti jurus tombak milik Huo namun tekanan tersebut tidak lebih lemah daripada jurus tombak Huo
"jurus kedua yang ku dapatkan dari guru" gumam lan wu sembari terus melaju menuju tombak tersebut.
"pedang sunyi, penantang langit.!!" teriak lan wu bersamaan dengan berbenturnya kedua jurus tersebut di langit.
tekanan dari benturan tersebut dapat terasa oleh Huang dan semua yang berada di bawah.
"itu..?! tekanan jurus mereka sangat kuat, cepat bentuk pelindung untuk melindungi istana.!!" teriak salah satu tetua merasakan tekanan hebat yang mengarah cepat ke arah mereka.
tanpa di duga, kini Huang melompat ke atas seraya mengaliri energinya dan berhasil menghalau tekanan hebat dari benturan jurus tersebut.
kedua nya masih mempertahankan jurus mereka yang sedari tadi telah berbenturan.
"argh..!! aku sudah tidak sanggup menahannya " ujar lan wu bersaman dengan patahnya jurus lan wu.
"aku..sungguh tidak menyangka kemampuan nya bisa mendekati ku yang telah membangkitkan darah langit, selain itu tombak langit merupakan senjata suci yang lahir dari kebangkitan darah langit.." ujar Huo dengan tubuh kelelahan serta penuh luka di tubuhnya.
lan wu kehilangan kesadarannya dan terjatuh bebas mengarah ke bawah. Huang segera melesat ke arah lan wu dan segera menangkapnya. ia kemudian mendarat kembali seraya menggendong lan wu yang telah kehilangan kesadarannya.
"ayah...hah..hah..apakah adik chi tidak apa-apa?" tanya Huo dengan tampang kesakitan.
"kakak biar ku bantu kau" ujar Aile seraya memapah Huo di bantu oleh ziyou.
__ADS_1
"kalian berdua sungguh membuat ku bangga, kemampuan kalian sangat hebat dan aku percaya masih akan terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu" Huang menatap bangga lan wu dan Huo.
"aku akan membawa Chi'er ke tabib istana, kau juga ikutlah untuk merawat luka mu. meski tidak begitu parah namun energi mu telah terkuras habis" ujar Huang seraya berjalan pelan.