Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
berpisah


__ADS_3

"Senior yang menjaga wilayah ini memberikan dua pilihan bagi ku. Lebih tepatnya untuk rombongan kita"


Mendengar ucapan Lan wu kini keduanya menyadari bahwa situasi tersebut tidak bisa mereka atasi sepenuhnya.


"Apa yang dia katakan..?"


"Yang pertama adalah, kira harus mengalahkan dia agar bisa lewat. Dan yang kedua dia akan membiarkan kalian lewat akan tetapi aku harus menemuinya di sebuah tempat.."


Perkataan Lan wu yang penuh dengan keseriusan terlihat membuat Yisun dan Shenli tak mampu berkata apa-apa.


Ketiganya hanya bisa terdiam dalam pikiran masing-masing hingga didasarkan oleh sampainya Cei Hua dan rombongannya.


Mereka menanyakan kondisi tersebut dengan nada tenang dan bahkan seperti bercanda.


Tentu saja hal tersebut membuat Yisun geram dan hendak memukul beberapa prajurit yang mencandai mereka.


"Tahan amarah mu wanita bodoh.. hais.. kau tidak akan bisa menikah jika sifat mu seperti ini.."


Lan wu memegang pundak Yisun dari belakang dan berusaha menenangkannya.


"Sampai kapan kalian beridiri menghalangi rombongan..?"


Mendadak terdengar Cei Hua yang telah keluar dari dalam kereta memandang kearah Lan wu dengan tatapan dingin.


"Ratu saat ini situasi.."


"Tidak ada apa-apa Cei hua.."


"Mana sopan santun mu, aku adalah ratu mu jangan lupakan itu..!"


Mendadak ucapan Lan wu dipotong oleh Cei Hua dengan nada tinggi.


Tentunya hal tersebut berhasil membuat Lan wu keheranan.


"Hais... Ya ampun, dasar wanita. Sebentar-sebentar disuruh memanggil namanya saja, sebentar-sebentar disuruh formal.. merepotkan.."


Gumam Lan wu yang tersenyum kesal mendengar perkataan Cei Hua.


"Ehem.. itu, yang mulai tidak ada apa-apa yang terjadi. Hanya beberapa pengganggu yang sudah dibereskan oleh kami. Benarkan..?"


Jelas Lan wu seraya memberikan kode pada Yisun dan Shenli.


Keduanya dengan terpaksa memainkan yang diisyaratkan oleh Lan wu.


"Benar ratu.."


"Jika begitu segeralah bergerak, jangan menunda waktu lagi.."

__ADS_1


Yisun dan Shenli akhirnya bergerak menuju tempat mereka masing-masing meninggalkan Lan wu yang kini sedikit melayang kepinggir membuka jalan bagi mereka.


"Jalan..!"


Perintah Yisun dan Shenli mengomandoi monster spritual mereka masing-masing.


Perlahan-lahan mereka mulai berpas-pasan dengan Lan wu yang berdiri tenang seraya tersenyum.


"Tuan Bai mengapa anda tidak naik?"


Tanya Xianli yang menyadari hal tersebut.


"Ah.. aku akan beristirahat sebentar, tiba-tiba aku begitu mengantuk. Kalian duluan saja.."


Jawab Lan wu menyembunyikan kebenaran.


Xianli yang tidak mengetahui situasi sebenarnya hanya tersenyum prihatin dengan tingkah Lan wu yang dianggap bodoh olehnya.


"Tidak perlu menunggunya, jalan saja.."


Sambung Cei Hua yang melirik kearah Lan wu sesaat.


"Hey wanita aneh..!"


Teriak Lan wu menggoda Cei Hua yang kini mendadak tersentak oleh sesuatu.


Sambung Lan wu sembari menggelengkan kepalanya.


Cei Hua mendadak melompat keluar dari kereta. Matanya terlihat basah dengan wajah cantik yang menahan tangisnya.


"Jangan kesana ratu..!"


Yisun sontak melompat dan memegangi Cei hua agar tidak mendekati Lan wu.


"Bodoh.... Hiks... Hisk... Kau bodoh...!"


Teriak Cei Hua dengan Isak tangis yang semakin menjadi-jadi.


"Hey... Bukankah kita hanya berpisah disini? Nanti pasti bertemu lagi di acara perburuan.."


Balas Lan wu yang keheranan dengan reaksi Cei Hua.


"Ya sudah jaga dirimu, lagian kau terlalu kuat untuk ku lindungi."


Sambung Lan wu bersamaan munculnya lubang hitam yang menariknya kedalam.


"Bai xang.....!"

__ADS_1


Tidak...!! Ku mohon..!


Teriak Cei Hua dengan keras seraya berusaha melepaskan tangan Yisun dan lainya yang menahan tubuhnya.


Ia terus berteriak memanggil Lan wu hingga kehabisan tenaga lalu pingsan.


Dalam keadaan tersebut, air mata Cei hua masih tak kunjung berhenti mengalir.


Air mata yang menandakan kepercayaan dan perasaannya.


"Bai..." ..


Dilain sisi, Lan wu yang keluar dari lubang hitam tersebut kini sedikit kagum akan pemandangan dihadapannya.


Sebuah tempat besar yang dikelilingi oleh tembok tinggi yang telah ditumbuhi tanaman menjalar.


Beberapa rumah atau bangunan yang tertutupi oleh tanaman. Terdapat juga sebuah reruntuhan besar yang diperkirakan dulunya adalah sebuah istana tidak jauh dari area tersebut.


Lan wu berjalan sedikit mendaki dikarenakan reruntuhan tersebut berada di dataran yang lebih tinggi dari bekas kota.


Setelah sampai di reruntuhan istana termegah Lan kemudian duduk bersila ditanah seraya menunggu sesuatu.


"Jadi kau datang.."


Terdengar sebuah suara yang berasal dari reruntuhan tepat dihadapannya.


"Menghadap senior. Junior ini datang sesuai dengan janji sebelumnya, dan juga terima kasih sebab senior menepati janji tadi"


Balas Lan wu dengan nada tenang.


"Hahahaha.. sungguh anak muda yang baik. Jadi kau siap untuk mendengarkan permintaan ku?"


Tanya suara tersebut dengan nada tenang penuh kebijaksanaan.


Lan wu kini berdiri kemudian membungkuk dengan sopan seraya menandakan bahwa dirinya telah siap.


Dihadapan Lan wu mendadak muncul sebuah pintu aneh yang menuju kearea dalam reruntuhan tersebut.


Tanpa diminta, Lan wu segera berjalan masuk hingga sampai diarea dalam reruntuhan.


Terdapat sebuah singgasana berwarna hitam yang telah kusam, serta 4 buah patung yang duduk saling berhadapan dibawah singgasana tersebut.


"Mereka dulunya adalah jenderal yang mengabdi di istana kabut hitam ku. Totalnya terdapat puluhan akan tetapi seiring berjalannya waktu wadah mereka kehilangan auranya dan hancur ataupun dibawa oleh pencuri reruntuhan.."


"Anda..."


Lan wu seketika berlutut paksa oleh tekanan kuat dari arah singgasana yang telah muncul sosok pria dengan rambut putih serta sebuah pedang ditangannya.

__ADS_1


Sosok tersebut adalah raja ditempat tersebut yang dulunya dikenal sebagai raja hitam. Bisa dibilang bahwa dirinya adalah iblis versi manusia yang sangat ditakuti oleh ras manusia ataupun ras iblis.


__ADS_2