
Namun hal tersebut tidak mengubah pendirian Lan wu. Lagian ia sama sekali tidak datang untuk belajar, melainkan untuk mengumpulkan kekuatannya sendiri.
Setelah beberapa urusan selesai, Lan wu dan beberapa murid baru yang baru lolos dibawa menuju sakte imortal.
Sakte imortal memiliki 4 tetua besar dan 100 tetua lainya yang bertugas untuk mengurus aktivitas di sakte tersebut. Sakte imortal berbeda dengan sakte-sakte lainya diwilayah manapun.
Di sakte imortal terdapat 5 puncak besar yang masing-masing ditempati oleh 4 tetua besar beserta murid-muridnya, dan puncak tertinggi adalah tempat dimana ketua sakte dan murid paling berbakat miliknya tinggal.
"Kita akan berpisah disini, semoga pelatihan mu berkembang dan kau tetap hidup nak. Jika kau berubah pikiran maka puncak Losu ku menerima mu" tutur tetua Losung lalu berjalan kearah kanan diikuti murid yang dia pilih.
"Aku juga sama, kau memiliki bakat besar mungkin bisa menjadi teman dekat dari murid penerus ku" sambung tetua Susu lalu pergi.
Lan wu mengikuti pria tersebut hingga sampai di puncak Zo yang diambil dari nama tetua Jidan Zo digunung tersebut.
Sesampainya di puncak tersebut, Lan wu begitu terkejut melihat kondisi tempat tersebut begitu sunyi.
Hanya ada 3 bangunan sedang yang bisa dipastikan bahwa hampir tidak ada murid yang pernah bergabung di puncak Zo dalam beberapa tahun belakangan.
"Guru anda sudah pulang..?" Sambut seorang 3 orang gadis yang berusia sekitar 16 tahunan.
"Iya, kenalkan ini namanya Kein. Dia akan tinggal dan belajar dengan kita mulai hari ini" ujar Jidan memperkenalkan Lan wu.
"Halo saudara Kein, aku Angwu.
"Sunling"
"Fifi" sambut ketiganya dengan wajah ramah seraya memperkenalkan dirinya.
Mereka masuk kedalam rumah Jidan untuk mengurus beberapa hal dan peraturan sakte imortal.
"Ini seragam sakte dan tanda pengenal mu. Kau bisa tinggal di rumah yang kosong itu. Istirahatlah dan besok aku akan mulai mengajar mu" ujar Jidan dengan nada yang terdengar merasa bersalah.
"Ada apa dengan ekspresi anda? Apakah aku tidak pantas berada di sini?" Tanya Lan wu.
"Bukan..tentu saja bukan, aku hanya merasa bersalah jika pemuda berbakat seperti mu akan mendapatkan masalah karna mengikuti ku..."
"Jadi murid-murid dari puncak lain membuli anda dan saudari seperguruan ku? Apakah karena 4 meridian khusus anda rusak?" Tanya Lan wu yang entah mengapa membuat Jidan begitu terkejut.
__ADS_1
"Kau..kau bisa melihatnya?" Tanya Jidan yang dibalas senyuman oleh Lan wu.
"Benar, namun akan berbahaya bagi fisik mu yang semakin melemah untuk mencerna energi besar.."
"Dengan kata lain kau bisa memulihkan kondisi ku..?!" Potong Jidan yang terlihat begitu serius sekaligus senang.
"Benar.."
"Namun..hanya seorang pendekar di atas tingkat gerbang ilahi yang bisa melakukannya. Sedang kau..."
Mendadak mata Jidan terbuka lebar setelah melihat sendiri sebuah lingkaran energi besar yang muncul dibelakang Lan wu.
"Ini...ini... tingkat separuh imortal..?!" Kaget Jidan seraya berteriak keras.
"Heh... sesukamu lah.." gumam Lan wu pelan.
"Maafkan junior ini yang tidak menyadari keberadaan senior.." tutur Jidan seraya memberi salam dengan kedua tangannya.
"Hanya hal kecil, namun aku harap tetua Jidan menjaga rahasia ini" ucap Lan wu yang diiyakan oleh Jidan.
Lan wu menyalurkan energinya kedalam tubuh Jidan untuk mendorong keluar gumpalan darah yang menyumbat meridian Jidan.
Proses tersebut berlangsung selama berjam-jam sebelum akhirnya muncul tekanan kuat dari terobosan.
"Hahahaha..! Tingakat separuh imortal awal..aku menerobos..! Aku sembuh..hahaha .!" Teriak Jidan yang melayang turun dari udara.
"Tetua, perhatian pakaian dan rumah anda.." ujar Lan wu yang nampak sedikit kotor akibat ledakan dari penerobosan Jidan.
"Ah...ehehehe..maaf senior, aku akan mengatasi hal ini. Anda istirahatlah selagi menunggu tempat ini selesai" tutur Jidan yang diakhiri dengan ucapan terimakasih.
Karena merasa bosan, Lan wu memutuskan untuk melihat-lihat area inti yang berada di tengah-tengah dataran yang dikelilingi oleh kelima gunung tersebut.
Disitu terdapat banyak bangunan dengan fungsi masing-masing dan juga puluhan arena besar yang biasa digunakan untuk kompetisi, berlatih, dan duel.
Sakte imortal membebaskan murid-muridnya untuk melakukan pertaruangan hidup mati dengan syarat keinginan dari keduanya sendiri.
"Balai misi..? Biar ku lihat jenis misi seperti apa yang ditawarkan sakte besar ini.." pikir Lan wu seraya memasuki tempat tersebut.
__ADS_1
"Jadi ini murid dari tetua sampah..? Hehehe.. dilihat juga murid-muridnya memang sampah..!" Ledek seorang pemuda yang merupakan murid luar puncak Lousung.
"Hehehe..tapi harus ku akui bahwa ketiga gadis disana tubuhnya bagus-bagus, aku bisa melindungi mu asal kamu membawa ketiga gadis tersebut untuk menemani ku" tambah seorang pemuda lainnya dengan air liur yang menetes dari mulutnya.
"Senior...apakah anda pernah mendengar jika sebenarnya tetua Jidan berada di ranah yang hampir setara dengan ketua sakte..?" Balas Lan wu dengan senyum tenang.
"Hahahaha...bahkan mengeluarkan energi saja tidak bisa, bagaimana mungkin dia sekuat itu"
"Hehehe..anak ini terlalu berhayal tinggi" tawa orang-orang balai pengambilan misi tak terkecuali tetua yang menjaga tempat tersebut.
Lan wu menghentakkan kakinya dengan santai akan tetapi membuat tekanan hebat yang menghempaskan orang-orang tersebut dari posisinya.
"Apa ada yang ingin bertarung?" Tanya Lan wu dengan nada tenang.
"Kau...kau hanya bocah ranah suci 4 mengapa memiliki kekuatan mengerikan..?" Tanya pemuda yang sedari tadi mengejek Lan wu.
"Hmm.." gumam Lan wu yang merasakan tekanan kuat dari belakangnya.
"Nak, kemampuan mu cukup bagus. Tapi balai misi ini tidak diijinkan untuk bertarung.!" Ucap tetua penjaga balai misi yang kini mengeluarkan seluruh energinya.
Para murid ditempat tersebut nampak kesulitan untuk bernafas dan beberapa lainnya berlutut dilantai akibat tekanan hebat tersebut.
Tetua tersebut mengerutkan keningnya menatap Lan wu yang masih berdiri tenang tanpa efek apapun.
"Baiklah tetua, maaf...maaf.." ujar Lan wu yang menghancurkan tekanan dari tetua tersebut dengan mudah.
Ia melangkah keluar dari balai tersebut dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa didalam balai tersebut.
"Memang junior sekarang tidak memiliki sopan santun kepada senior mereka ya..." Ujar seorang pria yang berpas-pasan dengan Lan wu.
"Tergantung pada kemampuan senior itu sendiri" balas Lan wu dengan senyum merendahkan.
"Hahahaha..bagus..bagus..! Aku akan mengingat ini" tawa pria tersebut seraya melewati Lan wu dengan santai.
Setelah gagal mengambil sebuah misi, Lan wu memutuskan untuk mencari beberapa barang di toko senjata sakte immortal.
**Yo halo guys.. gimana ceritanya?.
__ADS_1
kasih like coment and nice. ..
nice...nice...mana nice nya** ...?!