
Lan wu terbang dengan kecepatan tinggi. Ia hanya memfokuskan pandangannya ke arah bawah, tidak jauh dari tempatnya. Ia samar-samar melihat sebuah kapal yang berlayar dengan kecepatan sedang. Lan wu segera menambah kecepatannya dan menghampiri kapal tersebut.
"Ini seperti bendera kekaisaran QIN, mungkin saja ini adalah kapal yang dimaksud oleh Juan ho" pikir lan wu seraya bersiap mendarat di kapal tersebut.
Dari atas Lan wu dapat menyaksikan puluhan prajurit yang tengah berjaga di ruang terbuka pada kapal tersebut. Tidak hanya itu, ia juga melihat beberapa petinggi istana yang juga hadir dalam pelayaran tersebut.
Tanpa berpikir panjang lan wu segera mendarat di tengah-tengah kerumunan para prajurit dan beberapa petinggi yang berada di are tersebut.
Kemunculan lan wu secara mendadak sontak menimbulkan keheranan serta rasa was-was bagi seluruh orang yang berada di tempat tersebut. Di sisi lain nampak beberapa prajurit segera mendekat seraya memberi salam kepada lam wu, meskipun mereka tidak mengetahui nama dengan jelas siapa lan wu, namun mereka dapat memastikan bahwa lan wu merupakan tetua pedang dewa.
Mereka mengenalinya dari jubah yang di kenakan oleh lan wu. Tidak lama setelahnya datanglah jendral yang mengawal kapal tersebut. Ia kemudian menanyakan maksud kedatangan lan wu yang begitu mendadak ke atas kapal tersebut.
"Maaf mengagetkan, aku hanya ingin memastikan bahwa yiyi dan xuya berada di atas kapal ini" jelas lan wu sembari memberi salam.
"Tetua terlalu sungkan. Tetua bisa tenang sekarang, putri yiyi dan nona xuya benar berada di kapal ini, namun kalau boleh tau apakah putri tidak meminta ijin terlebih dahulu kepada ketua sakte?" Tanya jendral tersebut dengan wajah keheranan.
"Hais.. yiyi memang begitu" jawab lan wu dengan nada sedikit kesal.
Jendral tersebut hanya tersenyum kecil. Ia paham seperti apa watak dari yiyi, terlebih lagi jika yiyi dalam keadaan marah atau kesal, namun satu yang ia pertanyakan ialah cara lan wu dapat menyusul kapal tersebut yang bahkan telah berlayar dengan kecepatan cukup laju.
"Tetua ini sepertinya memiliki kemampuan yang tidak bisa" pikir jendral tersebut sembari memegang ujung dagunya.
Jendral tersebut menawari lan wu untuk di antar ke kamar yiyi, namun lan wu menolak dan memilih untuk beristirahat di area terbuka dari kapal tersebut. Akhirnya jendral tersebut memerintahkan beberapa prajurit untuk mengantar lan wu menuju tempat khusus di sisi depan kapal tersebut.
Lan wu mengikuti para prajurit tersebut dari belakang sembari memastikan bahwa memang yiyi berada di kapal tersebut. Ia akhirnya memasang senyum lega usai merasakan energi yiyi dan xuya.
Ia kemudian memutuskan untuk bermeditasi sejenak untuk meningkatkan energi hitam miliknya. Ia teringat akan perkataan iblis singa yang melarangnya untuk kembali ke alam fana dan bertemu dengan keluarnya. Singa iblis juga mengatakan bahwa hal tersebut akan mempengaruhi kemajuan dari latihan lan wu, dan benar saja hal tersebut benar-benar di alami oleh lan wu.
__ADS_1
Ia bahkan tidak terfikirkan bahwa keputusan untuk pulang akan berimbas pada pelatihannya, selain itu energi hitam di alam fana tidaklah sebesar energi hitam yang berada di teratai putih. Lan wu terus terfikirkan akan hal tersebut. Ia tak sanggup membayangkan jika bencana besar terjadi dan kemampuannya masih berada di level yang sekarang, tentu saja bisa di pastikan ia tidak dapat memenuhi takdir besarnya.
"Sepertinya sudah cukup untuk bersantai" guamam lan wu sembari menggunakan tehnik menyerap energi hitam.
Ia meningkatkan energi hitam ke tahap selanjutnya, usai 4 jam melakukan semedi. Lan wu kemudian melanjutkan penyempurnaan jurus pedang sunyi miliknya. Ia juga menyempurnakan pelatihan aura singa iblis. Usai berlatih hampir seharian penuh. Lan wu memutuskan untuk pergi mengisi perutnya yang sedari tadi telah berbunyi. Ia berjalan menuju sebuah restoran yang terletak di salah satu ruangan di kapal tersebut.
Usai melewati pemeriksaan di pintu masuk, lan wu kemudian di antar oleh seorang prajurit menuju ruang khusus bagi para petinggi kekaisaran. Tempat tersebut sungguh membuat lan wu begitu takjub, di tengah-tengah tempat tersebut terdapat sebuah kolam renang beserta beberapa pondok sedang di atas kolam renang tersebut, selain itu para pelayan di ruang khusus tersebut rata-rata merupakan seorang wanita dengan paras cantik.
" Tetua biarkan aku menyimpan pedang anda" ucap prajurit di sebelah lan wu.
Lan wu berfikir sejenak sebelum menyerahkan pedang yang berada di tangannya. "Dimana aku dapat mengambil kembali pedang ku?" Tanya lan wu dengan wajah tenang.
"Tetua dapat mengambilnya di meja kasir" jawab prajurit tersebut.
Lan wu akhirnya menyerahkan pedang miliknya kemudian berjalan ke sebuah meja yang terletak tidak jauh dari tempat berdirinya. Tidak lama setelah lan wu duduk, nampak seorang pelayan wanita mendekat ke arahnya. Pelayan tersebut menanyakan pesanan lan wu kemudian mencatatnya di sebuah buku kecil.
Usai memesan. Lan wu menyaksikan pertunjukan tari yang berada di depan kolam renang tersebut. Tidak jauh dari situ, nampak beberapa pria tengah duduk melingkar di sebuah meja panjang seraya di temani oleh beberapa pelayan wanita di sampingnya. Lan wu sedikit tertarik untuk mendekati tempat tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk mendekat.
"Hmmm.. rupanya sebuah pertandingan" ujar lan wu tersenyum tipis.
Di atas meja tersebut terletak sebuah kristal bening yang mengandung unsur petir murni. Jika salah satu dari orang-orang yang berada di situ berhasil menghancurkan kristal tersebut, maka unsur petir murni yang berada di dalam kristal tersebut akan menjadi milik orang tersebut, selain itu di atas meja tersebut juga terdapat sebuah pisau berwarna biru yang merupakan senjata langit.
Seluruh orang yang berada di meja tersebut telah mencoba untuk menghancurkan kristal tersebut, namun belum satupun dari mereka ada yang berhasil. Meskipun demikian mereka tetap mencoba berkali-kali untuk menghancurkan kristal tersebut, walau harus membayar sekantong emas agar mendapatkan kesempatan tersebut.
"Unsur petir tersebut bahkan sedikitpun tidak berguna untuk ku" gumam lan wu pelan.
Ia kemudian membalikkan badannya seraya melangkah pelan menuju mejanya.
__ADS_1
"Anak muda, sepertinya kau memiliki kemampuan untuk menghancurkan kristal ini" ujar seorang pria berusia 60 tahun semabri mengelus jangutnya.
"Bagaimana jika kau membantuku untuk mendapatkan kristal tersebut, dan sebagai gantinya aku akan mengangkat mu menjadi kepala prajurit di bawah pengawasan ku" sambung pria tersebut.
Lan wu nampak menghentikan langkahnya kemudian berbalik kembali menatap pria yang tengah duduk di salah satu kursi pada meja tersebut.
"Maaf tuan, aku tidak tertarik" jawab lan wu seraya menatap tenang pria tersebut.
"Hahahaha.. kau berkata demikian seakan kau bisa dengan mudah menghancurkan kristal ku ini" ujar pemilik kristal tersebut dengan nada mengejek.
Mendadak lan wu berpindah dengan cepat ke samping pria tersebut. Ia kemudian meletakan satu tangannya di atas kristal tersebut. Mendadak seluruh orang yang duduk di sekitar meja tersebut terpental cukup jauh akibat tekan kuat yang tercipta dari sentuhan tangan lan wu pada kristal tersebut.
"Apakah kau masih punya yang lebih keras?" Tanya lan wu sembari masang senyum.
Wajah pemilik kristal tersebut begitu keheranan. Ia tidak menyangka bahwa lan wu dengan begitu mudah dapat menghancurkan kristal miliknya. Tidak hanya pemilik kristal tersebut, namun seluruh orang yang sedari tadi berada di meja tersebut juga begitu terkejut menyaksikan hal tersebut.
"Tuan anda ambillah kristal tersebut, dan berikan sekantong emas kepada pemilik kristal tersebut" ucap lan wu seraya berjalan tenang menuju ke mejanya.
" Wah.. tuan hebat sekali" ujar pelayan wanita yang kini telah meletakkan pesanan lan wu di atas meja.
"Apakah tuan berasal dari sebuah sakte?" Tanya pelayan tersebut dengan senyum lebar.
"Ya.. aku berasal dari pedang dewa" jawab lan wu seraya menyantap hidangannya.
"Senang bisa bertemu dengan anda" ujar pelayan tersebut sedikit membuat lan wu penasaran.
"Aku juga, namun bisakah nona tidak menatap ku seperti itu?" Ujar lan wu sontak membuat pelayan tersebut salah tingkah.
__ADS_1
Pelayan tersebut akhirnya memutuskan pergi sembari memukul pelan kepalanya. Lan wu hanya tersenyum melihat tingkah aneh dari pelayanan tersebut. Ia kemudian kembali menyantap makanannya dengan tenang.