Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
menang atau kalah?


__ADS_3

Setelah bantuan yang diminta Lan wu datang. Perbaikan kota Ziyou pun berjalan dibawah pengawasan Lan wu. Para warga dan beberapa ahli bangunan ikut membantu pekerjaan tersebut.


Hingga sebulan berlalu dan pembangunan kota hampir sepenuhnya selesai, Lan wu mulai memikirkan bagaimana cara untuk menstabilkan ekonomi kota tersebut seperti semula.


Di sela-sela situasi tersebut Lan wu kedatangan beberapa tamu dari paviliun 5 warna. Kedatangan mereka tersebut disertai oleh Lili dan beberapa murid lama Lan wu.


Mereka dipersilahkan untuk masuk kedalam kediaman walikota baru yang untuk sementara ditempati oleh Lan wu.


"Kakak Lan...!" Ucap Lili penuh semangat seraya mendekati Lan wu yang duduk di kursinya.


"Kau tidak berubah Lili.." tutur Lan wu dengan wajah kesal.


"Salam guru, maaf membuat anda terganggu" tutur Lue dengan nada lembut seraya tersenyum manis.


"Silahkan duduk, bagaimana kabar mu dan yang lain?" Tanya Lan wu seraya mendorong Lili unntuk melepaskan pelukannya.


"Baik guru, aku sebenarnya datang kesini untuk mengunjungi sakte pedang dewa dan menemui suami ku.." jelas Lue yang membuat Lan wu terkejut.


"Suami...? Kapan kalian menikah, dan siapa suami mu..?!" Tanya Lan wu yang seraya membersihkan bibirnya yang tidak sengaja menyemburkan minuman.


"Mmm...hehehe...saat guru sedang mengasingkan diri, aku menikah dengan Mingyu.." jawab Lue malu-malu.


"Dasar kalian....mengapa hal sepenting ini tidak kalian bicarakan kepada ku? Selamat ya walau terlambat" tutur Lan wu kemudian tertawa.


"Ehem..! Cukup percintaan ini, ada hal penting yang membuat kami menemui mu kakak Lan.." sergah Lili.


"Perkenalkan ini adalah nona Yuwen selaku ketua pusat dari paviliun 5 warna..." Sambung Lili memperkenalkan sosok wanita berumur 26 tahun kepada Lan wu.


"Salam yang mulia, aku harap anda tidak menolak kedatangan ku ini.." sapa Yuwen dengan penuh sopan santun.


"Lili....kau benar-benar tidak mengerti pikiran ku..!" Balas Lan wu bersamaan dengan keluarnya tekanan aura Lan wu.


"Maaf Kakak...tapi...tapi...ayah yang menyuruh ku.." ucap Lili mencoba menjelaskan kepada Lan wu dengan wajah panik.


"Katakan..! Jika tidak maka enyah saja dari sini..!" Bentak Lan wu dengan nada yang ditekankan.


"Baiklah yang mulia...aku menemui anda untuk menjelaskan perihal keterlibatan paviliun 5 warna dalam urusan kekaisran Qin..


Sebenarnya paviliun kami sama sekali tidak mengetahui adanya konspirasi dari cabang-cabang paviliun yang menginginkan keuntungan lebih..." Ujar Yuwen yang di simak oleh Lan wu dengan tatapan dingin.


"Para pembuat onar itu telah kami serahkan yang mulia kaisar An untuk di eksekusi.


Aku harap yang mulia bisa memaafkan kesalah pahaman ini" jelas Yuwen yang terlihat begitu tenang.


"Baiklah jika ayah ku telah menyetujui, namun sebagai kompensasi aku ingin paviliun mu memberikan ganti rugi kepada rakyat ku, khususnya kota Ziyou" jawab Lan wu menatap wanita dihadapannya


"Yang mulia ini..."


"Paman Tug, segera urus ganti rugi. Aku ingin masalah ini cepat teratasi" potong Yuwen.


"Aku akan melakukan seperti apa yang anda bilang yang mulia, aku harap anda tidak mempersulit kami lagi" ujar Yuwen menyembunyikan ketidak sukaan atas perkataan Lan wu.


"Tentu saja nona Yu...selama pihak mu tidak membuat masalah maka aku tidak akan membuat masalah juga" jawab Lan wu dengan nada puas.


"Baiklah kalau begitu aku pamit"


Setelah Yuwen dan orang-orang nya pergi, Lan wu menyuruh beberapa prajuritnya untuk mengawasi pergerakan Yuwen.


"Guru....apakah tidak sedikit keterlaluan meminta ganti rugi yang begitu besar? Takutnya paviliun 5 warna memiliki latar belakang yang tidak bisa kita singgung" ujar Lue memperingati Lan wu.


"Iya kakak, bahkan ayah tidak berani menyinggung pemimpin pusat paviliun 5 warna itu. Jika ayah tau kamu menyinggung.."


"Jadi kamu ragu dengan keputusan ku..?" Tanya Lan wu sontak membungkam Lili.


"Ingatlah bahwa kalian yang memohon kepada ku agar terlibat dalam urusan kekaisaran dan mengambil posisi sebagai kaisar.


Sekarang setelah aku menerimanya dan mulai menciptakan keseimbangan di kekaisaran, kau menyuruhku untuk tidak menyingung kekuatan besar..? Hahahaha! Sungguh menarik" ujar Lan wu yang kemudian tertawa dengan ekspresi wajah sebaliknya.

__ADS_1


"Kakak bukan berarti kau bisa melakukan apapun sesuka hati mu..! Negara ini telah bertahan dan menghidupkan keluarga kita begitu baik.


Kau hanya perlu menuruti perkataan para penatua keluarga Jia dan ayah ku sebagai pemimpin mu..!" Sergah Lili dengan suara keras sembari mengacungkan jari nya ke wajah Lan wu.


Sorot mata Lan wu kini begitu tajam dan terlihat menahan amarahnya.


"Saudari Lili..jangan tidak sopan.. seperti itu.." potong Lue mencoba menyelesaikan situasi tersebut.


"Selain bukan karena kekuatan mu tentu saja keluarga ku tidak akan memakai mu..! Kau hanyalah keluarga sampah yang beruntung bisa di sukai oleh kakak ku kau..!"


"Cukup Lili..! Cukup... Bukan hanya tidak menghormati ku sebagai kaisar, namun kau juga telah melupakan status mu yang adalah murid ku.


Kau benar, aku berasal dari keluarga sampah yang tidak segan membunuh saudaranya untuk merebut posisi kepala keluarga.


Aku berterimakasih kepada mu karena telah memberi tau alasan mengapa kaisar An dengan mudah menerima ku sebagai menantu....tentu...tentu saja semua karena kekuatan" ujar Lan wu dengan nada yang terdengar kecewa.


"Guru adik Lili tidak bermaksud..."


"Aku sangat menyesal dengan semua ini dan sebagai permintaan maaf ku, aku akan mengundurkan diri dari posisi ini. Selain itu anggap saja hubungan guru dan murid kita telah terputus.


"Guru...tolong jangan marah.." teriak Lue seraya membungkuk.


"Jia Lili. Dengan ini aku menyatakan bahwa kau bukan lagi murid ku dan aku bukan lagi guru mu. Pedang sunyi tidak memiliki bunyi namun memiliki hati.


Sekali hati tersebut berdarah maka pedang sunyi tidak akan lagi berguna" ujar Lan wu dengan tegas membuat Lili sontak terdiam dengan ekspresi tidak percaya.


"Guru tolonglah jangan seperti ini..." Mohon Lue.


"Cukup sampaikan kepada kaisar An bahwa aku telah berhasil memenuhi janji ku untuk memenangkan Kota terbuang, selanjutnya dia hanya perlu mengurus sisanya" sambung Lan wu kemudian berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Disisi lain terlihat tubuh Lili bergetar diiringi oleh suara tangisan kecil yang coba di sembunyikan oleh nya. Lue yang melihat hal itu hanya bisa mengusap-usap punggung Lili.


**


Sore berganti malam menyuguhkan suasana damai yang di rasakan Lan wu seraya duduk di sebuah restoran dengan araknya.


"Hahaha..kau tenang saja, arak ini sama sekali tidak akan memabukkan ku..hehehe" jawab Lan wu yang sudah begitu mabuk.


Haiyang meminta pemilik restoran tersebut untuk menutup restonya dan menempatkan beberapa untuk berjaga di sekeliling restoran.


"Baiklah...aku akan menemani anda" timpal Haiyang yang kini menuangkan arak di cangkirnya dan Lan wu.


"Haiyang...apa kau tau seperti apa aku dulu..?" Tanya Lan wu dengan suara yang tidak terlalu jelas.


"Tidak yang mulia namun pastinya anda begitu berbakat" jawab Hiyang.


"Hehehe..benar, aku sangat berbakat dan kuat. Dulu semua orang di wilayah barat mengetahui siapa itu Lan wu. Dengan hanya mendengarkan nama ku mereka semua akan merinding ketakutan.


Namun, semuanya berubah semenjak aku menikah dan memiliki anak. Aku tidak pernah menyangka bahwa seorang istri bisa menakuti ku.." tutur Lan wu lalu kembali tertawa.


"Yiyi memaksa ku untuk menjadi kaisar dan memberantas pemberontak. Awalnya aku pikir hal tersebut bisa membuat hubungan ku dengan dirinya menjadi lebih dekat.


Siapa yang tau bahwa setiap hari dan malamnya Yiyi seperti menjaga jarak. Bahkan untuk tidur bersama hampir tidak pernah..


Aku dihadapkan dengan berbagai permasalahan dan cara untuk menyelesaikannya sementara istri dan anakku tidak berada di sisi ku...hahahaha..!" Teriak Lan wu dengan nada keras yang kemudian berubah menjadi tangisan.


Haiyang tanpa sadar ikut terbawa suasana.


Ia tidak menyangka bahwa sosok yang begitu di segani ternyata memiliki sisi seperti ini.


"Keluarga Jia bajingan..! Mereka mempermainkan perasaan ku lewat Yiyi. Aku sungguh menyesal begitu percaya dengan semua sandiwara mereka..!


Haiyang pergi kirimkan pasukan mu untuk membunuh seluruh anggota keluarga Jia bahkan bila perlu bunuh kaisar..!" Perintah Lan wu dengan nada marah.


Haiyang sontak terkejut dengan ucapan Lan wu.


"Yang mulia ini...aku tidak sanggup melakukannya" jawab Haiyang dengan nada bimbang.

__ADS_1


"Baiklah biar aku saja..!" Sergah Lan wu membanting cangkirnya lalu menerobos dinding restoran tersebut.


Haiyang sontak memberikan informasi mengenai kejadian tersebut kepada beberapa jendral besar untuk berkumpul dan menahan Lan wu.


Langit yang gelap menjadi terlihat cerah seiring dengan membesarnya api di tubuh Lan wu yang tengah melayang di udara.


Disisi lain terlihat Lue dan Lili ikut menyaksikan hal tersebut dari kediaman walikota.


"Itu guru..." Ujar Lue dengan nada pelan.


Mendadak di belakang Lan wu muncul sebuah portal ruang bersamaan dengan keluarnya Aile, Yiyi, dan Xuya dari portal tersebut.


"Chi'er...apa yang membuat mu begitu marah?" Tanya Aile dengan nada khawatir.


"Aku...ingin hidup di kerajaan langit, bisakah kau membawa ku pergi?" Tanya Lan wu dengan nada sedih.


"Suamiku kau kenapa...? Apakah ada sesuatu yang terjadi..?" Tanya Yiyi seraya memegang tangan Lan wu.


Lan wu menepis tangan Yiyi dan sontak berlutut didepan Xuya yang menatap Lan wu dengan wajah keheranan.


"Xu'er...aku tau kau lebih paham dengan situasi keluarga kita. Yang terjadi antara aku, ibu mu, dan keluarganya tidak perlu lagi kau sembunyikan..."


"Apa maksud mu suamiku..?!" Tanya Yiyi dengan wajah cemas.


"Aku mencintaimu sebab kau merupakan satu-satunya wanita yang menggerakkan hati ku. Namun kau membalas ku dengan begitu kejam..


Kau menikahi ku hanya karena kekuatan ku, kalian memperalat ku dan mengatur hidup ku sesuai dengan yang kalian mau. Sungguh malang nasib ku yang tidak beruntung ini.." jawab Lan wu dengan wajah dingin disertai aura membunuhnya.


Tidak ada lagi tatapan cinta di wajah Lan wu saat itu yang ada hanyalah tatapan mata seorang pria yang dihianati dan terluka.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.... awalnya memang aku tidak mencintaimu namun.." ucap Yiyi berusaha menjelaskan seraya mendekati Lan wu.


"Tidak Yiyi...tidak... Sudah terlalu banyak waktu yang aku berikan untuk mu. Semua air mata dan kesakitan mu hanyalah sandiwara. Kalian hanya mencari pamor dan hormat.


Memanfaatkan ku untuk membuat kekaisran di wilayah barat tertekan, bahkan menggunakan metode khusus untuk menghapus ingatan semua orang tentang ku..


Mengatakan bahwa aku telah tewas....dan masih banyak lagi hadiah busuk yang kalian berikan untuk ku" potong Lan wu seraya mengeluarkan tapak api di atas Yiyi.


Hal tersebut membuat Yiyi tidak bisa berbuat apa-apa, disis lain Xuya nampak menangis sejadi-jadinya dan memohon agar kedua orangtuanya tidak bertengkar lagi.


"Aile...apa hukuman di istana langit untuk hal seperti ini..?" Tanya Lan wu dengan nada geram.


"Huf... berpikir sebelum bertindak, aku tidak ingin kau menyesali perbuatan mu nanti" jawab Aile mengingatkan.


"Percayalah kepada ku, aku bisa menjelaskan semua ini. Tenanglah dulu..." Tutur Yiyi dengan suara bergetar.


"Menjelaskan..?! Bagaimana jika kau menjelaskan perihal kultivasi ganda mu..?" Ucap Lan wu sontak membungkam Yiyi.


"Alie antarkan dia dan Xuya kembali ke istana. Aku akan menyusul nanti untuk urusan perceraian..!"


"Chi'er..! Kau.!"


"Lakukan.!" Bentak Lan wu berhasil membuat Alie hampir kehilangan kesadarannya.


"Kakak Lan... bisakah kau memberi ku kesempatan..hu..hu..hu.." pinta Yiyi seraya berlinang air mata.


"Menangislah, menangislah untuk hari ini. Menangislah untuk kesalahan dan kebodohan, menangislah untuk semua kebaikan ku selama ini.


Namun...jangan lupakan bahwa kau pernah tertawa terbahak-bahak saat berhasil membodohi ku..." Ujar Lan wu yang kini memunggungi Yiyi.


"Ambisi kalian terlalu besar, sayang sekali aku tidak sepemikiran dengan kalian. Kelak kita mungkin akan menjadi musuh" ucap Lan wu sesaat sebelum Yiyi dan Xuya dibawa oleh Aile.


Malam begitu dingin, senandung hewan malam melantunkan ungkapnya.


Diantar bumi dan bulan, wajah tegar menatap kosong dengan pikiran serta hati yang yang kacau.


"Apa ini rasanya tidak berdaya? Ataukah ini adalah bayaran atas kebaikan dari ku?" Pikir Lan wu yang membiarkan air matanya mengalir.

__ADS_1


__ADS_2