
Lan wu segera menghampiri beberapa murid yang berdiri di depan gerbang tersebut, nampak wajah serta jubah para murid tersebut begitu asing di mata lan wu. Lan wu sedikit bertanya mengenai hal tersebut kepada xuya dan akhirnya xuya kembali menjelaskan asal-usul dari para murid tersebut. Menurut ucapan xuya para murid itu berasal dari organisasi yang bernama isyarat dewa.
Isyarat dewa merupakan organisasi yang terbentuk usai perang besar, anggota dari organisasi ini di isi oleh berbagai pendekar yang ada di wilayah barat. Pemimpin organisasi ini merupakan pendekar sesepuh berumur sekitar 100 tahun dan berada di tingkat permukaan gerbang ilahi. Xuya tidak mengetahui pasti asal dari pemimpin tersebut di karenakan ia jarang sekali menunjukan wajahnya di muka umum.
Lan wu nampak begitu penasaran akan organisasi isyarat dewa, selain itu pemimpin organisasi tersebut tentulah bukan seseorang yang bisa di anggap remeh. Mendadak pikiran lan wu di penuhi oleh pertanyaan. Ia berpikir bagaimana bisa orang tersebut sanggup mengatasi penolakan alam fana dan bertahan begitu lama di alam fana.
"Tuan mungkin saja dia bukan berasal dari alam fana" ujar elang muda yang mengetahui pikiran lan wu.
"Hmm.. mungkin saja, namun kita sebaiknya tidak menyelidiki hal ini. Selama dia berniat baik mengapa kita harus berprasangka buruk kepada mereka?" Jawab lan wu tersenyum tenang.
Lan wu segera meminta ijin untuk memasuki bidang petir. Ia menunjukan plat milik tetua pedang tanpa menyebutkan identitas miliknya. Para murid tersebut sedikit kebingungan menyikapi tindakan lan wu, namun mereka tidak berni menghalangi tetua pedang dewa untuk memasuki bidang petir. Akhirnya lan wu dan xuya berhasil memasuki bidang petir.
Lan wu kembali tercengang usai melihat bidang petir yang kini terdapat 5 pagoda besar dengan tingkatan yang berbeda. Pagoda pertama khusus untuk melatih kekuatan roh, yang kedua ialah untuk melatih kekuatan fisik, yang ketiga untuk melatih kekuatan jurus, yang keempat digunakan untuk pembudidaya bunga petir, dan yang terakhir ialah khusus bagi para pendekar yang telah melewati tingkat alam akhir.
Lan wu hendak menanyakan hal tersebut, namun ia tak ingin membuat para tetua dan orang-orang yang berlatih di tempat tersebut menaruh kecurigaan kepadanya. Lan wu mengajak xuya untuk memasuki pagoda ketiga.
Usai mendapatkan sebuah ruangan untuk xuya, lan wu memutuskan untuk berkeliling sejenak sembari mencari inti dari bidang petir. Ia merasakan gejolak petir pengadil yang memaksa keluar dari tubuhnya.
"Hais.. apakah kau begitu rindu dengan anak-anak mu?" Ucap lan wu sembari menahan perutnya.
"Baiklah mari kita melakukan reuni di tempat ini" ucap lan wu usai menemukan sebuah ruangan kecil yang mengandung banyak energi petir didalamnya.
Lan wu membentuk pelindung energi untuk mencegah orang-orang menerobos masuk saat lan wu tengah melepaskan petir pengadil dari tubuhnya. Lan wu juga menyuruh elang muda untuk keluar dari cincin ruang dan segera melakukan kultivasi untuk memperkuat tubuhnya. Sambaran petir di dalam energi pelindung lan wu begitu dasyat namun entah mengapa petir tersebut tidak mengenai tubuh lan wu.
Lan wu nampak duduk bersila seraya mengerahkan tanganya ke udara nampak sebuah petir berwarna putih melesat ke udara dan ikut bercampur dengan kedua petir yang sedari tadi menyambar di udara. Tekanan energi seketika menjadi kuat hingga dapat di rasakan oleh para tetua yang berjaga di luar salah satu tempat di pagoda tersebut.
Para murid yang sedang berlatih sontak mendekati ruangan tempat pelatihan lan wu. Meskipun terhalang oleh sebuah pintu, namun energi yang terpancar dari dalam ruangan tersebut mampu di rasakan oleh para murid tersebut.
"Siap orang yang berlatih di dalam ruangan ini?" Tanya Sorang murid yang memakai jubah pedang dewa.
__ADS_1
"Kaka Heng, menurut beberapa murid lainnya orang tersebut baru pertama kali memasuki pagoda ketiga" jawab salah satu murid yang tengah berdiri di depan pintu tersebut.
Heng sontak mengalirkan energi di tangannya dan meninju pintu tersebut sekuat tenaga, namun sebelum tanganya menyentuh pintu tersebut ia malah terpental hingga beberapa meter ke arah belakang. Heng nampak tidak percaya dengan kejadian tersebut. Ia kini mencabut pedangnya seraya berlari ke arah pintu tersebut.
"Tebasan sunyi" ujar Heng bersaman dengan terciptanya ledakan kecil di tempat tersebut.
Heng teelihatemasnag senyum puas usai berhasil menghancurkan pintu tersebut, namun senyumnya seketika lenyap begitu melihat elang muda yang tengah duduk di samping lan wu, terlebih lagi anergi petir pengadil yang begitu kuat ikut menambah kekhawatiran di benak Heng.
Berselang beberapa lama usai Heng terpaku, datanglah seorang tetua di ikuti oleh seorang gadis mendekat ke arah Heng.
"Apa yang terjad?" Tanya tetua tersebut ke arah Heng.
"Salam tetua kein, aku menemukan seekor hewan iblis tingkat langit bersama dengan orang asing tersebut di ruangan ini. Aku sedikit curiga melihat orang ini merupakan orang baru yang sama sekali tidak pernah memasuki bidang petir" ujar Heng menjelaskan.
"Apa susahnya? Tinggal paksa dia untuk keluar" sambung Wulan sui dengan senyum angkuh di wajahnya.
Wulan segera menerjang energi pelindung lan wu dengan pukulannya, namun tak disangka Wulan justru terpental kebelakang sontak Heng tersenyum menyaksikan kesombongan Wulan. Kini giliran kein yang berniat menghancurkan energi pelindung milik lan wu. Terlihat tangan kein di penuhi oleh nergi berwarna merah yang kini berwujud seperti pedang dengan ukuran sedang.
"Enyah.!!" Bentak elang muda bersaman dengan melajunya energi kuat ke arah kein dan lainya.
Kein tak sanggup menghindari serangan cepat tersebut sementara Heng dan Wulan sui terduduk lemas usai merasakan tekanan yang sangat kuat dari jurus elang muda. Jarak jurus elang muda dan kein kini hanya tinggal beberapa langkah, namun dengan cepat nampak sebuah telapak tangan berwarna hitam yang menghalangi kein dan lainya dari serangan elang muda.
Suasana nampak senyap seketika. Seluruh mata tertuju pada sebuah tangan besar yang masih utuh usai menahan serangan hebat dari elang muda. Samar-samar terdengar suara langkah kaki yang mendekat kearah kein.
"Pergilah aku bukan musuh kalian, selain itu aku telah mendapat ijin dari ketua Jian dan para murid yang berjaga di luar gerbang" ujar lan wu yang berdiri tepat di bawah wujud tangan dari aura neraka.
"Ma..maaf sudah mengganggu latihan senior, kalau boleh tau siapakah nama senior?" Tanya kein dengan nada sopan.
"Aku? Hahahaha.. aku tidak terlalu penting. Aku adalah seorang ayah baik yang sedang menemani putrinya untuk berlatih di pagoda ini" jawab lan wu bersaman dengan hilangnya tangan neraka di atasnya.
__ADS_1
Lan wu mengarahkan tangannya seperti menyerap sesuatu sebelum akhirnya kembali menciptakan energi pelindung bersamaan dengan kobaran api iblis yang menutupi area sekitar elang muda. Lan wu seketika memasang senyum manis ketika melihat xuya yang berlari kearahnya dengan penuh kebahagiaan.
"Kakak Heng? Mengapa kakak ada di sini?" Tanya xuya dengan nada heran.
"Aku sedang menjalankan misi untuk menjaga bidang petir, wah rupanya xuya bertambah kuat ya?" Tanya Heng sembari mengelus kepala xuya.
"Hehehehe.. aku sudah berhasil naik tingkat lagi" jawab xuya dengan wajah senang.
"Ayah.. bisakah kita pulang dulu? Aku sudah kelaparan" tanya xuya dengan wajah memelas.
"Baiklah" jawab lan wu.
Sontak kein dan lainya terkejut mendengar xuya memanggil lan wu dengan sebutan ayah. Wajah kein dipenuhi oleh keringat, tidak ada orang selain lan wu yang dapat sedekat itu dengan xuya. Tentu saja pemuda yang sekarang berdiri di hadapannya adalah lan wu. Heng melompat dengan senang seraya berlari dan memeluk lan wu.
Ia begitu senang mengetahui idolanya telah kembali dari dunia atas.
"Hahahaha.. tetua lan, aku sungguh buta tak dapat mengenali mu" ujar Heng sembari melepaskan pelukannya.
"Bodoh.!" Kesal lan wu seraya menjitak kepala Heng.
"Aww.." rintih Heng.
"Tentu saja ku tidak akan mengenali wajah ini, bahkan kakek Jian jasa tidak mengenali ku saat bertemu dengannya" jawab lan wu sembari memasang wajah tenang.
"Tapi tetua sangat tampan dari sebelumnya" sambung Heng mengarahkan kedua jempolnya ke arah lan wu.
"Terserah kau saja, aku titip teman ku itu ya" ujar lan wu seraya melangkah pergi.
Lan wu melewati kein dan Wulan sui tanpa suara, setelah lan wu telah melewati mereka beberapa langkah ia mendadak berhenti sembari mengeluarkan sedikit aura neraka miliknya.
__ADS_1
"Rupanya kau belum berubah sejak pertama kali kita bertemu" ucap lan wu entah kesiapa.
"Jangan bertingkah seakan-akan kau merupakan orang terkuat di kekaisaran ini, sungguh kesombongan mu kelak akan ku ukur dengan pedang ku.!" Sambung lan wu dengan nada tegas kemudaian kembali berjalan.