
Dilain sisi, Lan wu kini telah berada di halaman belakang kediaman yang ditempati oleh Cei Hua.
Ia sebelumnya menggunakan penggeser waktu dan menandainya dengan hawa keberadaan Cei Hua sebagai tempat tujuan dari penggeser waktu yang ia gunakan.
Lan wu berdiri disamping pohon seraya menatap Cei Hua yang duduk termenung di sebuah pondok ditengah kolam teratai.
"Bai xang... Diamana kamu sekarang..?"
Ucap lirih Cei Hua dengan eskpresi sedih yang menggerakkan hati Lan wu untuk menghampirinya.
"Masih bertanya..? Bukankah aku berada di dekat mu?"
Jawab Lan wu yang kini berada tepat dibelakang Cei Hua.
Sontak wanita tersebut berbalik dan segera berhamburan kearah Lan wu dengan tangisan.
Ia memeluk Lan wu dengan erat tanpa berkata sedikitpun hingga keduanya jatuh terbaring di lantai pondok tersebut.
Semilir angin berhembus menyejukkan keduanya diiringi oleh detak jantung Lan wu yang tidak karuan.
Gugup, malu, senang, iba, semuanya menjadi satu dalam perasaan yang sulit dijelaskan oleh kecerdasan Lan wu. Kali pertama dalam hidupnya ia merasakan perasaan tersebut yang jauh melampaui rasa benci dan sayangnya pada Yiyi.
"Bai.. biarkan kita tetap seperti ini lebih lama lagi.."
Ucap Cei Hua dengan suara tidak jelas yang terbenam di dada Lan wu.
Lan wu tak ingin mengabaikan perkataan Cei hua, namun akan menggangu jika ia menjawab ataupun bergerak. Momen seperti ini akan terlewati jika salah satu dari mereka melakukan tindakan yang tidak perlu.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Lan wu menikmati perasaan itu, perasaan murni yang mungkin dirasakan oleh sepasang kekasih yang jarang bertemu ataupun perasaan menemukan tempat untuk pulang.
Tangan Lan wu bergerak tanpa diperintah, menyentuh kepala Cei Hua lalu melepaskan tusuk rambut wanita tersebut dengan lembut.
Ia memegangi beberapa helai rambut Cei Hua kemudian didekatkan ke hidungnya dan mencium wangi rambut wanita tersebut.
"Kau...kau sungguh cantik.."
Tutur Lan wu dengan suara yang tertahan oleh rasa gugup.
__ADS_1
"Bodoh.. kau baru menyadarinya..?"
Balas Cei Hua yang memandang wajah Lan wu dengan senyum manisnya.
"Jangan menangis lagi, dunia sudah punya garam sebagai pengasin. Jangan buang air mata mu dan membiarkan orang lain tau bahwa air mata mu lebih asin dari garam.."
"Hmmph.. memangnya mengapa..? Aku berhak menangis sesuka ku..!"
Balas Cei hua dengan wajah merona.
"Hahahaha... Bagiamana jika nanti mereka menggunakan air mata mu sebagai pengganti garam..? Kau akan kehilangan rasanya meneteskan air mata.. hahahaha..!"
"Aduh...! Berhenti..! Hey, jangan mencubit ku..!"
Teriak Lan wu mengaduh usai Cei hua mencubit pinggang Lan wu.
"Tidak mau.. siapa suruh kau mempermainkan ku..?!"
Jawab Cei Hua yang terus mencubit tubuh Lan wu.
"Oke.. oke... Aku salah, jangan lagi.. jangan..."
"Sial.. padahal sudah naik tingkat namun masih saja tidak berdaya melawan wanita ini.."
Gumam Lan wu tersenyum memandangi Cei Hua yang menertawainya.
"Hais apa boleh buat... Lagian ini menyenangkan.."
Ia kemudian menyentuh ujung hidung Cei hua dan entah mengapa Cei Hua juga melakukan hal serupa pada Lan wu.
"Jika suatu saat salah satu diantara kita menangis atau sedih, yang lainnya hanya perlu datang dan melakukan hal seperti ini.. bisakah itu dianggap sebagai janji..?"
Ucap Cei hua seraya tersenyum.
"Baiklah.. itu bisa dianggap janji..!"
Balas Lan wu yang ikut tersenyum.
__ADS_1
Keduanya kembali berdiri lalu duduk di kursi pondok tersebut seraya menikmati pemandangan indah ditempat tersebut.
Cei Hua menyandarkan kepalanya di pundak Lan wu sementara Lan wu hanya diam memperhatikan suasana kolam teratai.
"Aku penasaran, apa yang membuat mu bersikap dingin pada ku saat di perjalanan beberapa hari lalu?"
Tanya Lan wu yang sedikit tertarik dengan alasan wanita disebelahnya.
itu.. seharusnya aku tidak berhak bersikap demikian padamu. Namun, entah mengapa saat mendengar cerita mu malam itu, aku menjadi kesal dengan mu..."
"Kau tidak menjelaskan bahwa kau sebenarnya sudah memiliki wanita lain dan bahkan sudah memiliki anak. Aku merasa bahwa kehadiran ku hanya akan menghancurkan hubungan mu dengan istri dan anak mu"
"Sebab itulah aku mencoba menjauhi mu.."
Ucap Cei Hua yang kembali memasang wajah muram.
"Hais... Aku terlalu banyak minum malam itu, hingga membicarakan kehidupan lalu ku mengenai Yiyi.. pantas saja dia berubah begitu dingin.."
Gumam Lan wu yang tersenyum tipis.
"Tapi aku sadar saat perpisahan beberapa hari lalu, aku berpikir bahwa tidak masalah untuk berbagi dengan istri mu dan aku juga akan menyayangi anak-anak mu seperti anak ku jika bertemu dengan mereka nantinya.."
"Jadi sekarang aku tidak akan pernah membiarkan mu meninggalkan ku dengan alasan apapun.."
Sambung Cei Hua memeluk lengan Lan wu.
"Apakah kau keberatan..? Apakah aku egois..?"
"Tidak, aku tidak keberatan. Hanya saja untuk menjalani hubungan lebih serius.. aku sedikit ragu.."
Balas Lan wu dengan pandangan samar.
Cei Hua tiba-tiba menggandeng tangan Lan wu dan menariknya hingga membuat Lan wu sedikit berlari mengimbangi langkah Cei Hua.
Ia membawa Lan wu berkeliling di inti kota Nanren dan mengajak Lan wu mencoba beberapa makanan ataupun aksesoris yang dijajakan.
Sikap Cei Hua terlihat seperti anak kecil dengan senyum yang tidak luntur. Dilain sisi Lan wu ikut menikmati momen tersebut meskipun tidak begitu tertarik dengan sekitarnya.
__ADS_1
Ia hanya berfokus pada ekspresi senang dan senyum indah wanita disampingnya. Dan itu terus berlanjut hingga keduanya kembali saat malam hari.
Di ruang tamu tempat Cei Hua dan rombongan tinggal kini telah dipenuhi oleh hampir puluhan orang hingga ruangan tersebut hampir tidak ada tempat kosong lagi.