Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
terpuruk 2.83


__ADS_3

Xioca begitu bimbang hendak berbuat apa. Walaupun terdapat rasa bencinya untuk menghabisi orang-orang yang menghancurkan pedang dewa, akan tetapi ia juga tidak ingin jika Lan wu hidup hanya untuk balas dendam.


"Kakak.. aku hanya tidak ingin jika kau terus terjebak dalam lingkaran kebencian. Kau memang sangatlah kuat, namun jumblah manusia tidaklah sedikit yang pasti memiliki hubungan darah dengan orang yang hendak kau bunuh.. aku sungguh.." kembali ucapan Xioca terputus oleh Lan wu.


"Jika menurut mu aku sanggup membiarkan para tetua dan ketua pedang dewa mati sia-sia maka kau salah..! Kau.." ..


"Plak..!" Tamparan keras mendarat di pipi Lan wu yang terlihat sedikit memerah.


"Cukup kakak..! Cukup..! Para tetua dan ketua Jian mati dengan terhormat di pertempuran, kau saja yang membuat kematian mereka sia-sia dengan membawa dirimu menemui kematian mu sendiri..! Jika saja ketua Jian berada di tempat ini. Mungkin saja aku tidak perlu berhadapan dengan sifat kerasa kepala mu..!" Bentak Xioca dengan nada kesal bercampur tangis.


"Pernahkah kau memikirkan bahwa perbuatan mu sekarang sangat berbeda dengan apa yang dulu kau jadikan patokan? Kau pernah membunuh seluruh orang emas biru tanpa mengetahui apakah mereka berdosa atas insiden dahulu? Kau.." sambung Xioca yang masih terisak-isak.


"Xioca.." ucap Lan wu.


"Mulai hari ini.. aku Xioca sang putri dari istana Phoenix langit.. tidak lagi mengenal nama Lan wu.. ikatan kita tidak lain adalah dua ras yang saling bertentangan.. suatu hari jika kau membuat masalah dengan orang-orang ku.. maka aku sendiri yang akan datang dan mencabut nyawa mu..!" Teriak Xioca bersamaan dengan lelehan air mata yang terus mengalir tiada henti.


Xioca kemudian terbang bersama dengan kedua elang batu menjauh dari tempat Lan wu, meninggalkannya yang masih begitu kaget akan perkataan Xioca barusan.

__ADS_1


Pikiran Lan wu bertambah kacau, rasa-rasanya ia hendak menghancurkan segala sesuatu yang berada di dekatnya saat itu. Ia hanya memilih diam seraya memejamkan kedua matanya yang terlihat masih meneteskan air mata.


Ia hanya terpikirkan untuk tetap diam sembari menunggu sesuatu yang ia yakini Takan pernah datang menemuinya.


Tanpa sadar ia mencabut pedang sunyi dari sarungnya.


Dengan genggaman kuat, ia mengarahkan pedangnya tepat di leher, Lan wu hanya perlu menggerakkan sedikit gagang pedangnya untuk terlepas dari penderitaan nya.


"Paman..kakek.. ayah.. ibu.. aku akan segera menyusul kalian.." ucap Lan wu pelan dengan senyum pilu.


"Brukk.!!" Suara benda terjatuh.


"Tindakan bodoh macam apa yang hendak kau lakukan..?!" Ucap suara gadis yang begitu familiar di telinga Lan wu.


Terlihat gadis tersebut menarik kerah baju Lan wu hingga ia berada dalam posisi berdiri. Pipinya terasa di tampar tanpa henti hingga pipinya telah merasa kebal akan tamparan tersebut.


"Jawab aku brengs*k..!" Teriak gadis tersebut seraya mengayunkan pukulan keras tepat mengenai wajah Lan wu.

__ADS_1


Lan wu terseret hingga beberapa meter dan berhenti dengan posisi terkapar di atas tanah. Tubuhnya terasa di tindih dari atas bersamaan dengan Hujaman pukulan di wajahnya tiada henti.


Lan wu merasa begitu kesakitan, namun untuk berkata saja ia seakan tak mampu. Ia saat ini benar-benar telah berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.


Hanya sekilas terlintas senyuman yiyi serta kedua anaknya yang membuat hati Lan wu semakin tersayat-sayat. Ia bahkan tidak mampu menepati janjinya untuk terus bersama yiyi dan tidak akan pernah meninggalkan dirinya.


"Kau kenapa..! Jawab aku bod*h..!" Kini suara gadis tersebut terdengar sedikit serak akibat tangisan yang perlahan terdengar di telinga Lan wu.


"Fei.. tinggal aku sendiri.. aku sudah hancur menjadi debu, yang kau lihat sekarang hanyalah arwah gentayangan yang mengutuk takdir dari langit" ucap Lan wu pelan dengan wajah nya yang sudah tidak beraturan akibat Hujaman pukulan dari Fei.


"Bod*h..! Aku tidak mempercayai hal seperti itu.. kemana perginya semangat mu yang dulu begitu membara..?!" Ucap Fei seraya memapah Lan wu berdiri.


Fei dengan cepat melesat kearah langit seraya membopong Lan wu yang sebelumnya telah ia buat buat pingsan.


Ia terus mempercepat lajunya seraya di temani oleh rembulan yang perlahan di tutupi oleh awan hitam.


Wajah Lan wu sesaat nampak teduh seolah dirinya tidak pernah mengalami kesedihan.

__ADS_1


Rambut panjangnya teracak-acak di terpa angin dingin yang menggambarkan jelas perasaan yang saat itu Lan wu rasakan.


**


__ADS_2