
"Anu, nona Mengyi... Aku sungguh minta maaf atas sikap kasar barusan. Jika anda ingin membalas pukulan ku maka aku bersedia menerimanya"
Lan wu yang sedari tadi tertawa tidak jelas, akhirnya terpaksa mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada kakak dari Wu Chen.
"Tetua Guen, guru Nan, aku juga minta maaf atas kekasaran ku tadi.." sambung Lan wu kemudian membungkuk dihadapan ketiga wanita tersebut.
"Anda tenang saja guru Lan, aku juga salah dalam hal ini. Setidaknya aku mendapatkan sesuatu yang berharga dari kejadian ini"
Jawab Lingxi guen yang terlihat tersenyum tipis kemudian membuang pandangannya kearah lain. Guru Nan hanya tersenyum seraya mengangguk menandakan bahwa ia menerima permintaan maaf Lan wu.
"Hemph..! Kau pikir aku sudi memaafkan mu..? Aku juga tidak memiliki tenaga untuk memukul mu saat ini, jadinya aku ingin kau melayani ku selama aku berada disini..!"
tambah Wu Mengyi yang sedari tadi menunggu giliran untuk berbicara.
"Maaf saja nona, aku lebih memilih pukulan ketimbang melayani mu. Cari saja aku saat kau sudh pulih, aku akan dengan senang hati menerima pukulan mu" jawab Lan wu yang tampak lebih seriud dari sebelumnya.
"Chen'er, pergilah ke area terbuang dan bunuh hewan spritual sebanyak mungkin. Aku menantikan hasil latihan mu selama seminggu nanti" sambung Lan wu yang dengan segera di turuti oleh Wu Chen.
Sementara Wu mengyi hanya terdiam dengan ekspresi kesal oleh sikap Lan wu yang tidak menganggapnya.
Setelah pergi dari kediaman tetua, Lan wu memutuskan untuk mengawasi latihan murid kelasnya secara langsung.
"Ya, seperti dugaan ku. Untuk membentuk tekad pedang memerlukan kepercayaan diri yang besar.." ujar Lan wu menyaksikan jumblah batu yang masih sama seperti sebelumnya.
Beberapa kali murid-murid tersebut mencoba untuk menghancurkan batu dihadapan mereka, namun selalu berakhir dengan pedang kayu yang patah.
Menariknya, mereka sama sekali tidak berhenti dan terus mencoba berulang kali.
"Aku rasa ini adalah latihan yang bagus untuk melatih ketenangan serta rasa percaya diri mereka. Baiklah, aku tidak akan menggangu latihan mereka" sambung Lan wu seraya meninggalkan tempat tersebut dengan senyum tenang.
Diperjalanan menuju gubuknya. Lan wu berpas-pasan dengan tetua ke 7 Wan Xin yang kebetulan baru pulang dari misi luarnya.
Keduanya saling melewati tanpa bertegur sapa ataupun melihat satu sama lainnya.
Hal tersebut membuat para murid yang berada di sekitar mereka menjadi bertanya-tanya.
"Wah, sepertinya guru Lan memiliki dendam tersendiri atas kejadian di area terbuang.."
"Aku juga denger bahwasanya tetua ke 7 menolak untuk membantu gerbang luar saat insiden itu terjadi. Selain itu hal yang seharusnya menjadi hak guru Lan entah mengapa di ambil oleh tetua ke 7, mungkin saja itu yang membuat guru Lan mengabaikan tetua ke 7"
__ADS_1
"Wah, jangan keras-keras.. lihatlah sepertinya tetua ke 7 mendengarkan ucapan mu"
Potong seorang murid lainnya yang tampak gemetaran setelah ditatap sinis oleh Wan Xin.
Para murid tersebut seketika berlari menjauh dari tempat tersebut.
"Cih, dasar murid tidak sopan.!" Kesal Wan Xin seraya menghela nafas.
Ia berhenti sejenak kemudian berbalik menatap Lan wu yang masih berjalan dengan langkah tenang kearah gubuk miliknya yang terletak berdekatan dengan gerbang keluar utama sakte.
"Hey..! Lan.."
"Tetua ke 7..! Gawat..!"
Mendadak seorang murid perempuan menghampiri Wan Xin dengan nafas yang tidak beraturan.
"Adapa apa..?"
"Murid-murid gerbang 7, mereka di serang saat kembali dari misi.." ujar murid tersebut dengan wajah cemas.
"Apa..?!"
Murid perempuan tersebut tampak sedikit ketakutan melihat ekspresi wajah Wan Xin.
"Itu... Organisasi malam abadi..."
Seketika tubuh Wan Xin terasa dingin setelah mendengar jawaban dari muridnya.
"Apa yang harus kita lakukan guru..? Apakah kita akan menyelamatkan mereka sekarang..?"
"Jangan gegabah, kita harus membicarakan hal ini kepada ketua sakte dan tetua lainya. Kita memerlukan bantuan mereka untuk menghadapi orang-orang ini.."
Keduanya kemudian bergegas meninggalkan tempat tersebut tanpa menyadari bahwasanya Lan wu telah mendengar pembicaraan keduanya.
"Target sebenarnya dari organisasi itu adalah inti dari area terbuang, takutnya mereka akan mengirimkan orang-orang saat sakte ini sibuk menyelamatkan murid-murid dari gerbang 7"
"Lagian, aku ingin mengetahui maksud dari membangkitkan leluhur iblis ini.." pikir Lan wu seraya melangkah dengan tenang menuju gubuknya.
Setelah sampai, Lan wu yang kini berada di belakang gubuknya tampak berdiri seraya memejamkan kedua matanya. Energi hitam yang selama ini tidak ia gunakan tampak bergejolak setelah ia alirkan keseluruh merdian nya.
__ADS_1
Seketika sebelah mata Lan wu yang tertutup mendadak terbuka dengan bola matanya yang berwarna biru bermotif 10 pedang yang saling bersentuhan ujungnya.
"Teknik mata pedang, tidak ku sangka bahwa akan datang dimana aku membangkitkan mata ini.."
Gumam Lan wu dengan wajah biasanya.
"Untuk mendapatkan mata pedang, seseorang harus mengorbankan kepercayaan dan menyimpan dendam begitu lama".
"Menusuk mata ku dihadapan orang-orang yang berarti untuk ku, lalu mengakhiri hubungan dengan mereka adalah satu dari beberapa syarat yang harus dilakukan.."
Sial, mendadak aku mengingat wajah itu..!
Lan wu menutup kembali matanya seraya menghilangkan wajah Yiyi yang terlintas dipikirannya.
"Untuk saat ini ada baiknya aku menyembunyikan kemampuan mata pedang"
Sambung Lan wu seraya menetralkan energinya.
Hari beranjak sore dan Lan wu yang tengah menikmati tehnya mendadak di kejutkan oleh suara ketukan yang berasal dari pintu gubuknya.
Dengan langkah tenang Lan wu menghampir pintu gubuk kemudian membukanya.
"Salam guru Lan, aku Wong Zuguin murid dari gerbang 7 datang untuk meminta bantuan anda.."
Ucap seorang murid pemuda dengan tampilan siap melakukan perjalanan jauh.
Lan wu kemudian mempersilahkan murid tersebut untuk melanjutkan perkataannya.
"Para junior ku saat ini sedang di sandra oleh orang-orang dari malam abadi, ketua sakte dan tetua lainya tidak ingin menyelamatkan mereka dan malah melarang kami untuk bertindak..!"
Murid tersebut berlutut seketika seraya membungkuk kan badannya hingga beberapa jengkal menyentuh tanah.
"Lalu apa yang membuat mu berpikir bahwa aku akan menyelamatkan murid-murid itu, apa kau lupa bahwa saat murid-murid gerbang luar mengalami hal seperti ini dulu?"
Tanya Lan wu yang seketika membuat Wong zuguin terdiam.
"Hmm.. jadi kau tidak memiliki alasan, kalau begitu katakan mengapa kau begitu ingin menyelamatkan para junior mu?"
Sambung Lan wu yang entah mengapa terdengar memberikan kesempatan bagi Wong zuguin.
__ADS_1
"Mereka bukan hanya junior gerbang 7, namun ikatan serta kesulitan yang kita lalui membuat ku merasa sakit jika menutup mata dari permasalahan ini. Aku juga tidak ingin.."