Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
mata yang terbuka!


__ADS_3

Lan wu mendadak membuka mata kirinya bersamaan dengan berpindahnya ia kehadapan ribuan pedang yang bergerak cepat.


Ia kemudian melesat melewati celah-celah dari pedang tanpa terluka ataupun terkena pedang yang dilewatinya.


Lan wu kemudian menangkap dua pedang disisi kiri dan kanannya lalu menarik pedang-pedang tersebut setelah disalurkan energi miliknya.


"Mata pedang, sumon..!"


Lan wu menegaskan pandangannya kearah belakang dua wanita tersebut seraya melemparkan dua pedang yang sebelumnya telah ia salurkan energi hitam miliknya.


Kedua pedang tersebut bergerak keatas berlawanan dengan pedang-pedang kedua wanita tersebut.


Fokus kedua gadis tersebut tertuju pada dua pedang yang melesat mendekat kearah mereka hingga sisi belakang keduanya menjadi sasaran empuk.


Tanpa disadari oleh kedua wanita, dibelakang mereka muncul dua buah lubang hitam yang melontarkan masing 4 pedang kearah mereka.


"Xianli... Xianlu..!"


"Dibelakang kalian...!"


Teriak Yisun yang telah menyadari kemunculan 8 pedang hitam dibelakang kedua wanita tersebut.


Keduanya sontak menutupi tubuhnya dengan sebuah perisai berbentuk bulat sesaat sebelum 8 pedang Lan wu menusuk punggung mereka.


"Mata pedang.." ucapan Lan wu mendadak terputus bersaman dengan hilangnya keseimbangan tubuhnya.


"Uh...!" Lan wu tampak tertusuk dua pedang tepat di bahu kiri dan kanannya saat keseimbangannya tadi terganggu.


"Manipulasi..!" Ucap Lan wu mengeluarkan jurusnya dengan paksa.


Mata pedang miliknya kembali aktif bersamaan dengan kemampuan dirinya melihat pergerakan pedang-pedang yang terus menghujaninya tiada henti.


Lan wu melepaskan seluruh energi hitamnya diiringi dengan bola matanya yang memancarkan energi berwarna biru yang kemudian menyebar menutupi seluruh hujan pedang milik kedua wanita tersebut.


"Balik..!"


Teriak Lan wu bersamaan dengan berhentinya seluruh pedang-pedang tersebut .


Pedang-pedang itu kemudian berbalik arah menuju pada dua wanita yang masih berlindung dibalik perisai.


Ting..! Ting...! Ting...!!

__ADS_1


Pedang-pedang tersebut kini menghujam perisai kedua wanita tersebut tiada henti, perlahan-lahan perisai yang menutupi mereka mulia terkikis seiring dengan banyaknya pedang yang berbalik menyerang mereka.


"Bai xang.. hentikan itu..!"


Dari arah bawah mendadak Cei Hua melesat ke arah Lan wu kemudian mengeluarkan satu pukulan energinya yang menghancurkan asal keluarnya pedang-pedang milik Xianli dan Xianlu.


Hah...hah..hah.." Lan terlihat begitu kelelahan setelah menyadari bahwa pertaruangan tersebut tidak perlu lagi dilanjutkan.


Dilain sisi nampak Xianli dan xuanlu mengalami beberapa luka sayatan dan telah mendapatkan perawatan dari Cei hua yang sedetik sebelum Lan wu berhati telah membawa kedua wanita tersebut ketempat dimana Yisun berdiri.


"Yisun, Xianli, Xianlu.. apa yang terjadi sebenarnya..?"


Tanya Cei Hua yang menyadari perubahan besar pada energi serta aura Lan wu.


"Tuan Bai sebelumnya menolak untuk dibawa ke istana, ia berhasil melepaskan diri dari ikatan kami hingga akhirnya aku meminta Xianli dan Xianlu untuk menangkap tuan Bai."


"Sebelumnya energi serta tingkat kultivasi tuan Bai lebih lemah dari mereka berdua, namun seiring lamanya bertarung.. kemampuan tuan Bai terus meningkat dengan cepat."


"Bisa dibilang bahwa kekuatannya saat ini tidak lebih lemah dari ku. Dan mungkin jika ia terus bertarung maka tidak mustahil baginya untuk melampaui kekuatan ku.."


Jelas Yisun yang membuat Cei Hua tersenyum senang mendengarnya.


Dilain sisi Lan wu yang saat ini sudah mendarat ditanah. Kini telah menetralkan energi dan mata pedang miliknya. Ia kemudian berjalan menghampiri Cei hua dan lainya.


Tanya Lan wu dengan wajah biasanya.


"Suamiku, kau bahkan berani menindas dua jendral ku dan hampir menghancurkan tempat ini. Apa tidak mustahil jika aku datang melihatnya..?!"


Tanya Cei Hua yang tersenyum kesal sembari menarik telinga Lan wu.


"Aw...! Aw....! Iya... Aku salah, aku salah..."


Rintih Lan wu sembari menahan sakit pada telinganya.


"Hemhh.. kau sudah membuat riasan ku luntur, kau harus bertanggung jawab..!"


Sambung Cei hua yang terlihat ngambek dan memunggungi Lan wu.


"Hais.. pada akhirnya selalu aku yang merasa paling bersalah.."


Gumam Lan wu dengan nada pasrah.

__ADS_1


"Tapi..cei Hua. Suatu saat biarkan aku bertarung dengan mu hingga batas terakhir ku..!"


Lan wu mendadak menarik tangan Cei Hua kemudian menatapnya dari dekat.


Sementara Cei Hua terlihat sedikit malu dengan pipi yang merona.


"Itu.. Bai xang... Kamu hanya bisa melakukannya saat didalam kamar..."


"Kau ini.. memang tidak bisa serius, tapi teruslah begitu. Aku merasa bahwa ketertarikan ku padamu sedikit bertambah.."


Sambung Lan wu yang berjalan terlebih dahulu.


"Tuan Bai.." panggil Yusin dengan suara sedikit berteriak.


"Ada apa?"


"Jalanya kearah sini" sambung Yusin sembari menunjuk kearah yang benar.


"Ngomong-ngomong tuan Bai, teknik apa yang kau gunakan untuk mengendalikan hujan pedang milik kami berdua barusan?"


Tanya Xianli yang masih terpikirkan oleh pertaruangan mereka barusan.


Lan wu hanya tersenyum tipis seraya memegangi mata kirinya yang kembali tertutup setelah pertaruangan mereka berkahir tadi.


"Hadiah yang diberikan oleh orang penting ku dulu. Tidak, lebih tepatnya hadiah yang aku persiapkan untuk dirinya.."


Yiyi.. gumam Lan wu dengan ekspresi sedih sembari memegangi mata kirinya tersebut.


Seandainya Yiyi tidak melakukan hal sebodoh itu. Mungkin saja saat ini mereka masih bersama dan menikmati sisi kehidupan dengan nyaman.


Membayangkan bagaimana Wu Jia dan Xuya tumbuh menjadi sosok kuat, adalah satu-satunya keinginan Lan wu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Saat ini dia sudah hampir berumur 40 tahun dan tidak menyangka bahwa dimasa tersebut ia masih harus bepergian kedunia lain yang tidak dikenalnya.


Jika saja bukan karena penempaan tubuh serta menyatunya roh singa iblis dengan dirinya mungkin saja saat ini penampilan Lan wu tidak berbeda jauh dari ketua sakte cakar macan.


"Hais... Memikirkan bagaimana nantinya aku mati, akan sangat merepotkan jika kedua anakku tidak mengetahui dimana kuburan ayah mereka nantinya.."


Ujar Lan wu dengan ekspresi gundah seraya berhenti sejenak menatap kearah langit.


"Mungkin ada jalan lain untuk mendapatkan umur panjang dengan berkultivasi. Tapi, bukankah hidup terlalu lama hanya akan menyiksa diri.."

__ADS_1


Sambungnya yang kemudian melanjutkan langkahnya.


__ADS_2