Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
salah paham


__ADS_3

Lan wu segera melompat ke arah Wu Chen yang tampak begitu lemas. Lan wu mengalirkan api suci untuk memulihkan Wu Chen kemudian berdiri kembali dari posisi jongkoknya.


"Menyerang seorang murid yang tidak sebanding dengan kemampuan nona bukankah itu hal yang memalukan?" Ucap Lan wu dengan wajah datar kearah wanita dihadapannya.


"Cih..! Akhirnya muncul juga tuannya.!"


Wanita tersebut tersenyum sinis kemudian menerjang Lan wu dengan cepat. Hal tersebut membuat keduanya bertarung jarak dekat saling beradu jurus.


Semakin lama keduanya bertukar serangan, terlihat Lan wu yang semakin liar dalam setiap gerakannya.


"Pukulan gelombang.." ia mengarahkan tinjunya beberapa sentimeter dari tubuh wanita tersebut dan seketika wanita itu terpental kebelakang dengan kuat.


"Tenaga macam apa ini..?" Heran wanita tersebut sembari berusaha mengontrol keseimbangannya.


"Tinju gelombang, gerkaan ke 2..!"


Lan wu mendadak muncul dihadapan gadis tersebut kemudian melancarkan serangan keduanya. Wanita tersebut mencoba untuk menahan pukulan Lan wu menggunakan energinya, akan tetapi pelindung energi wanita tersebut hancur dan kembali membuatnya terpental kebelakang.


"Si....sial...! Mengapa bajingan ini begitu kuat..?!" Gumam gadis tersebut dengan wajah tidak percaya.


"Luar bias... Aku belum pernah melihat teknik dasar yang begitu kuat seperti ini..."


Guru Nan yang ikut menyaksikan pertaruangan tersebut tampak mengagumi kemampuan Lan wu. Tidak hanya itu, bahkan Wu Chen sendiri yang sudah mengetahui kemampuan Lan wu dibuat bungkam oleh 2 jurus miliknya.


Sehebat inikah teknik dasar yang diajarkan guru pada ku.?.


"Aku memerintahkan mu untuk menghentikan serangan mu, jika tidak maka.."


Ucapan wanita tersebut terputus seketika.


Lan wu yang mendadak muncul di belakangnya tampak tidak menghiraukan perkataan yang diucapkan oleh wanita tersebut.


"Saat bertarung, jangan mengalihkan perhatian mu.."


"Kau..?!"


"Tinju gelombang..gerkan ke 3, raungan naga.!"


Lan wu mengarahkan tinju miliknya tepat beberapa sentimeter disamping wajah wanita tersebut. Tekanan angin yang tercipta berhasil menghancurkan pagar tembok kediaman tetua.

__ADS_1


Wanita tersebut seketika jatuh kebawah dengan lutut yang bergetar hebat. "Jika, jika aku terkena maka.."


Wanita tersebut menelan ludah seraya menatap Lan wu yang masih berada tepat didepannya.


"Status tinggi milik mu tidak akan berguna dalam pertaruangan hidup mati. Berterimakasihlah pada luka mu yang belum sembuh sepenuhnya, jika tidak maka aku sudah pasti akan benar-benar mengarahkan serangan terkhir ku ke wajahmu"


Ucap Lan wu dengan wajah datar yang terlihat menyeramkan dimata wanita tersebut.


Ia kini mengarhkan pandangannya pada Lingxi guen lalu berjalan mendekatinya.


"Sebaiknya kau memiliki penjelasan bagus untuk murid ku, posisi tetua bukan hanya sekedar akses untuk melakukan semua yang kau inginkan"


"Sepertinya anda salah paham guru Lan, sebenarnya ini.."


"Apa aku meminta mu untuk berbicara guru Nan..?" Potong Lan wu yang menatap tajam kearah wanita disamping Lingxi guen.


"Aku.. sebenarnya.."


"Sudahlah guru Nan, semua ini memang disebabkan oleh keteledoran ku. Aku minta maaf pada anda selaku guru dari Chen'er.."


Lingxi guen tiba-tiba membungkuk kepada Lan wu dimana hal tersebut membuat Wu Chen keheranan.


Wu Chen mendadak mendekati Lan wu seraya menggaruk-garuk kepalanya.


"Hah, maksudku? Bukankah aku sedang membela mu..?" Balas Lan wu yang ikut menjadi heran.


Mereka sontak saling pandang-memandang mencoba mencari tahu situasi apa sebenarnya yang terjadi.


"Aku, ah.. aku hanya sedang di tes oleh saudari pertama Mengyi. Karena kecerobohan ku, aku malah melupakan bagaimana cara menyalurkan energi spiritual ku untuk menggunakan teknik alunan sunyi.."


"Saudari tertua..? Alunan sunyi..?"


Lan wu semakin bingung dengan penjelasan muridnya tersebut.


"Bocah, sebaiknya kau menjelaskan lebih detail kepada ku. Jika tidak maka jangan salahkan aku untuk melipat gandakan latihan mu..!" Teriak Lan wu dengan kesal seraya menggoyang-goyangkan kepala Wu Chen.


"Itu..itu... Guru, jangan menggoyangkan kepala ku terus-menerus. Bagiamana aku bisa berbicara..."


"Bodoh, bukankah kau bicara sekerang..?"

__ADS_1


Lan wu bertambah kesal dan terus menggoyang-goyangkan kepala muridnya tersebut.


"Huf..."


"Sebenarnya, Wu Chen adalah saudara termuda ku, dan juga tujuan ku kota ini ialah untuk menemukan adik bodoh ku ini. Tidak disangka malah bertemu musuh kuat dan akhirnya berada di sakte ini.."


Wanita tersebut mendadak menghampiri Lan wu dan menjelaskan maksud dari perkataan Wu Chen sebelumnya.


"Jadi, kau..." Lan wu tanpa sadar telah mencengkram leher Wu Chen akibat rasa terkejutnya.


Sial, jadi aku salah paham..


"Aku bahkan memukulnya dengan keras, dan juga aku..." Gumam Lan wu mendadak mengalihkan pandangannya kearah lain.


Ia melihat wajah datar Lingxi guen dan juga ekspresi menahan tawa dari guru Nan membuat Lan wu seketika merasa malu dengan perbuatan sebelumnya.


"Uhuk..gu...guru...guru...." Rintih Wu Chen yang kesulitan bernafas akibat cengkraman Lan wu.


"Sialan kau bocah, kenapa kau..?!"


"Eh..!" Lan wu seketika menarik tangannya usai menyadari Wu Chen yang hampir pingsan akibat kesulitan bernafas.


Uhuk..! Uhuk..!


Perhatikan orang-orang kini tertuju kepada Lan wu yang masih tak bergerak ataupun berkata apa-apa.


"Ah...hahahahaha... Cuaca hari ini sangatlah panas, huh... Kenapa ya..?"


Tanya Lan wu dengan ekspresi wajah yang ia paksakan seraya tersenyum lebar memandang arah Lingxi guen.


"Hais.. guru, bukankah ini mendung?" Potong Wu Chen dengan nada polos.


"Mendung kepala mu.! Ini panas..!"


"Iyakan Chen'er..?!"


"Ha..hahaha..iya..i..ii..iya..panas hahaha."


Wu Chen entah mengapa ikut tertawa seraya mengeluarkan ekspresi sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2