
Diluar tenda telah berdiri seorang prajurit yang diutus oleh pangeran ketiga untuk datang dan bergabung dengannya di kediaman jendral penjaga benteng.
Sesampainya di kediaman tersebut, Lan wu dipersilahkan untuk masuk ke ruang jamuan. Ia duduk di sebuah kursi yang terdapat meja kecil dan berdampingan dengan salah satu tetua dari lima pilar pedang.
"Perjalanan kalian semua tentu melelahkan, aku mengucapkan terimakasih atas kemauan kalian untuk melawan musuh kita.
Mari bersulang.!" Ucap pangeran ketiga yang di ikuti oleh orang-orang di ruangan tersebut.
"Apakah anda yang bernama Ruan Kein dari sakte immortal?" Tanya pangeran ketiga seraya menatap Lan wu.
"Benar yang mulai"
"Aku tidak menyangka bahwa kedatangan pertama anda akan membawa kemenangan utama bagi benteng ini. Mengalahkan 5 wakil komandan dari suku bar-bar dan menbunuh salah satu wakil jendral utama tentu akan memberikan pukulan telak bagi musuh" ujar pangeran ketiga yang membuat Lan wu seketika menjadi pusat perhatian.
"Anda terlalu memuji ku. Aku hanya beruntung"
Lan wu meneguk anggur di cangkirnya kemudian meletakkannya diatas meja.
"Apakah ada yang salah dengan ucapan ku tuan Kein?" Tanya pangeran ketiga yang melihat ekspresi wajah Lan wu terlihat berbeda.
"Aku hanya ingin mengetahui apa alasan anda memisahkan rombongan ku menjadi dua bagian. Pengalaman mereka begitu sedikit maka akan lebih baik jika mereka tetap bersama-sama.
Jika tujuan anda hanya ingin menghargai ku maka tidak masalah jika bersikap selayaknya" jelas Lan wu yang mengejutkan wajah Huoli dan jendral penjaga benteng
"Tuan kau sedikit lancang dengan pangeran..!" Ucap jenderal yang duduk paling dekat dengan pangeran seraya mengeluarkan tekanan energi
Tekanan energi jenderal tersebut tertuju kepada Lan wu dengan maksud agar Lan wu menjaga sikapnya.
"Jika sesuatu terjadi kepada anggota ku, maka jenderal seperti mu akan merasakan balasannya dari ku.!" Balas Lan wu yang mengeluarkan singkat niat membunuhnya.
Niat membunuh Lan wu membuat wajah jendral dan pangeran ketiga seketika memucat. Perasaan mengerikan dan ancaman dari Lan wu membuat hawa seisi ruangan tersebut menjadi tidak enek.
"Anak ini hanya mengeluarkan sesaat niat membunuhnya namun bisa menciptakan kengerian seperti ini, tidak bagus jika memprovokasi nya" gumam tetua disebelah Lan wu.
"Ehem... Kita adalah sekutu tentu saja akan saling menjaga satu sama lainnya. Junior tidak perlu khawatir akan keselamatan teman-teman mu. Beberapa murid inti dari sakte ku juga berada di sana tentu saja akan sulit bagi musuh membunuh mereka" ujar tetua lima pilar pedang berusaha menenangkan Lan wu.
"Aku akan tenang jika senior mengatakan itu, selanjutnya maafkan aku atas kelancangan tadi"
"Tidak perlu.. tidak perlu.. jika aku berada di posisi yang sama dengan tuan Kein maka aku juga akan melakukan hal itu. Sekarang mari kita ganti topik pembicaraan" jawab pangeran ketiga dengan wajah yang bercucuran keringat.
Pangeran ketiga membuka pembicaraan mengenai rencana akhir jika benteng berhasil ditembus oleh musuh. Pangeran berniat memancing musuh hingga ke pinggir sungai tempat dimana suku tersembunyi berada dan menggunakan alasan penyusup kepada suku tersebut kemudian bekerja sama dengan suku tersembunyi untuk melawan pasukan musuh.
__ADS_1
"Tapi itu hanya rencana akhir, aku percaya bahwa kemampuan kita lebih baik ketimbang pasukan dari suku bar-bar. Jika kita kalah dalam pertempuran ini, maka dinasti darah putih akan diuntungkan.." ujar pangeran ketiga.
"Bagaimana jika kita mengajukan kerja sama dengan pihak suku bar-bar? Bukankah itu juga menguntungkan.." tanya Huilo yang membuat pangeran ketiga terdesak minumannya.
"Uhug..ehem..jika seperti itu maka kita akan kehilangan tambang kristal dan separuh wilayah di benteng ini. Tujuan mereka tentu tidak sederhana, terlebih lagi pihak dinasti darah putih telah menyuap mereka"
Lan wu yang telah puas minum, pamit kembali lebih awal untuk beristirahat.
**
Keesokan harinya seluruh pasukan dan aliansi dinasti dewa pedang telah bersiap posisi masing-masing dan menunggu kedatangan pasukan suku bar-bar.
Wajah orang-orang tersebut terlihat begitu tegang dengan nafas yang lebih cepat dari biasanya.
"Mereka datang" ucap jenderal benteng seraya bersiap membeo komando.
Perlahan-lahan terlihat ratusan ribu pasukan suku bar-bar mulai mendekat dengan deru langkah kaki yang terdengar begitu berat.
Nyali para prajurit dinasti dewa pedang sedikit ciut setelah melihat postur tubuh suku bar-bar yang lebih besar dari mereka.
Namun berkat beberapa kata dari pangeran ketiga yang menyemangati, akhirnya semangat para prajurit tersebut meningkat.
Seterusnya hanya tinggal menjalankan rencana dan strategi semula.." ucap Lan wu yang berdiri di tembok bentang berdampingan dengan pangeran ketiga.
"Apa maksudnya.. mengapa harus mengikuti.."
Ucapan pangeran ketiga terputus seirama dengan Lan wu yang menerjang kearah pasukan bar-bar seorang diri.
"Apa yang dia lakukan..? Dasar idiot..!" Teriak Huoli begitu kesal.
Disis lain pasukan bar-bar mulai menerjang Lan wu yang semakin mendekat
"Hanya sekumpulan semut, mati saja.!" Ucap Lan wu yang mengeluarkan pedang sunyi lalu menebasnya kearah puluhan prajurit yang hendak menghentikan Lan wu.
Tebasan tersebut menimbulkan ledakan hebat yang manjang kearah belakang pasukan bar-bar hingga memisahkan pasukan tersebut menjadi dua bagian.
Hal tersebut membuat pasukan musuh terkejut, jenderal pasukan bar-bar dengan nada geram menyerukan kepada beberapa wakil jendral miliknya untuk menghadapi Lan wu.
3 orang ditingkat abadi akhir menerjang Lan wu dari arah yang sama.
Lan wu melompat keatas seraya menahan senjata ketiga orang tersebut.
__ADS_1
Akan tetapi dari belakang Lan wu mendadak muncul seorang lainnya yang berhasil memukul mundur Lan wu dan menghempaskan tubuhnya ketanah.
"Hahaha..! Rupanya hanya lalat yang begitu sombong" teriak orang tersebut bersamaan dengan 3 lainnya.
Mereka bergerak cepat kearah Lan wu yang masih terbaring ditanah. Akan tetapi sebelum ketiga orang tersebut berhasil memukul Lan wu. Dengan cepat 2 tetua dari lima pilar pedang muncul dan membunuh 3 dari 4 wakil jendral yang hendak menerjang Lan wu.
"Cih.. kupikir kalian tidak akan datang" tutur Lan wu yang membersihkan debu dipakainya.
"Rencana mu butuh waktu untuk kami pahami" jawab tetua tersebut dengan senyum tipis.
Ratusan panah api melesat kearah pasukan bar-bar yang terfokus kepada Lan wu dan 2 tetua lima pilar pedang. Serangan panah tersebut berhasil membunuh sekitar 40 prajurit musuh.
"Sekarang, pasukan kavaleri..serang.!" Perintah jendral benteng yang melihat pasukan bar-bar telah melakukan formasi bertahan.
Kepanikan kini melanda pasukan bar-bar yang telah kehilangan banyak prajuritnya.
Jendral pasukan bar-bar memerintahkan agar pasukan berat milik mereka untuk maju.
Pertempuran antara pasukan berkuda dinasti dewa pedang dan pasukan berat suku bar-bar tidak terelakkan. Lan wu dan kedua tetua juga ikut bergabung ke tengah-tengah pertaruangan setelah melihat beberapa orang yang kuat.
Tebasan pedang Lan wu dalam waktu sebentar sudah memakan banyak nyawa dari pasukan suku bar-bar. Ia terus menerobos maju hingga melewati pasukan berat.
"Celaka.!" Gumam Lan wu melihat prajurit pasukan bar-bar yang siap menembakkan pelontar api.
"Tebasan pedang sunyi.." ujar Lan wu seraya melompat keudara dan menebas 4 batu api yang ditembakkan oleh pasukan musuh.
"Menyebar..!" Teriak jendral benteng yang memulai starategi mereka.
Pasukan dewa pedang yang semula disatu titik kini terbagi menjadi tiga dan menyerbu secara bersamaan layaknya gerakan sayap dan kepala burung saat menukik.
**
"**saudara Kein..mengapa wajah anda terlihat kusut?" tanya Qinde keheranan.
"bagaimana tidak, aku melakukan banyak kegiatan melelahkan namun sangat sedikit orang yang meninggalkan komentar dikolom.."
"jangan sedih saudara, yakin saja bahwa mereka mungkin lebih pendiam, atau mungkin tidak tau kegunaan dari kolom komentar.."
"hemm..kau benar.."
"Yo..! komen dibawah untuk menyenangkan ku, jangan sampai api iblis membakar jiwa kalian.!" ucap Lan wu bersamaan dengan Qinde**.
__ADS_1