
Usai mandi dan mengganti pakaian, lan wu segera menuju ke ruang makan untuk mengisi perutnya yang sedari tadi berbunyi tak karuan. Ia melihat ayah serta ibunya yang telah terlebih dahulu berada di tempat tersebut. Lan wu memasuki pintu seraya di sambut oleh pelayan-pelayan yang berdiri sedikit jauh dari meja makan.
"Silahkan duduk tuan muda" ujar salah satu pelayan wanita seraya menarik kursi untuk lan wu.
Lan wu tersenyum canggung seraya menggaruk kepalanya."terimakasih, namun bisakah kalian tidak begitu sopan kepada ku? Aku merasa begitu ganjil terlebih lagi kalian lebih tua dari ku" ujar lan wu membuat pelayan di sampingnya segera berlutut.
"Hamba tidak pantas mendapat ucapan terimakasih dari tuan muda, selain itu sudah kewajiban hamba untuk melayani tuan besar, nyonya, dan tuan muda" wajah pelayan tersebut begitu merasa bersalah.
"Haih..kakak ini bukankah sudah ku bilang agar tidak terlalu menghormati ku, aku sedikit berbeda dari ayah serta inu ku. Kakak bisa tetap bersikap seperti ini kepada ayah dan ibu ku, namun jika kepada ku tentu saja aku tidak akan mengizinkan nya. Kaka sekalian boleh bersantai kebetulan ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan orang tuaku" lan wu tersenyum tenang seraya duduk di kursinya.
Para pelayan tersebut mengikuti perintah lan wu dan segera keluar dari ruang makan. Di sisi lain nampak Huang dan Renxing begitu kagum akan sifat lan wu yang menghormati orang lain. Sikap menghargai seperti itu hanya dapat di lihat dari lan wu. Tanpa sadar senyum keduanya terlihat di bibir mereka.
Lan wu memandangi keduanya seraya menatap heran.
"Ayah, ibu, apakah ada hal yang aneh di wajahku?" Tanya lan wu seraya mengunyah makanannya.
"Hahaha tentu saja tidak Chi'er, kami hanya merasa begitu beruntung memiliki putra yang memiliki hati nurani yang besar. Kau sungguh membuat ku sangat senang" ujar Huang seraya tertawa keras.
"Hahahahah.. kakak Huang sudah lama tidak tertawa sekeras ini, namun sejak kedatangan Chi'er ia lebih ceria dari biasanya, bahkan penyakit nya juga tidak pernah kambuh lagi" pikir Renxing seraya tersenyum menyaksikan percakapan antara lan wu dan Huang.
"Chi'er, ibu sudah mendengar mengenai istri dan anak mu. Ibu rasa dari pada mengutus jendral yang begitu asing di mata mereka, mengapa tidak kau saja yang datang menjemput mereka?" Ujar Renxing membuat lan wu sedikit berfikir.
"Ibu, tentu saja aku sangat menginginkan hal tersebut. Tapi aku yang sekarang belumlah cukup kuat untuk menahan tolakan dan seragam dari alam sekitar di alam fana. Itulah mengapa aku hanya bisa mengandalkan ayah dan para jendral untuk membawa yiyi" ujar lan wu kembali.
Renxing merasakan kesedihan yang di rasa oleh putranya tersebut. Ia sendiri telah merasakan sendiri saat ia kehilangan lan wu dalam waktu yang sangat lama.
"Pelatihan mu sudah sangat kuat, menurut ayah ini saatnya agar membuka kembali segel di dalam tubuh mu. Dengan begitu alam fana tidak akan berani lagi menolak tubuh mu" ujar Huang sontak membuat mata lan wu terbuka
Ia melompat kegirangan sesaat sebelum akhirnya terdiam sembari menggeleng pelan." Meskipun itu dapateningkatkan kemampuan ku, namun aku tetap berpegang pada prinsip ku. Aku akan emgandalkan kemampuan ku sendiri untuk bertambah kuat" ujar lan wu kembali duduk di kursinya.
Sekali lagi Huang dan Renxing di buat kagum akan sikap lan wu. Sulit bagi seseorang yang di hadapkan dengan kesempatan emas tersebut namun sebaliknya malah menolak. Mereka berdua menatap jeli lan wu seraya menati kejutan lain yang akan di eeikan oleh lan wu.
Nampak dari arah belakang terdengar sebuah langkah kaki yang berjalan mendekat ke arah meja makan tersebut.
"Salam untuk ayah dan ibu" ujar seorang gadis dengan penampilan yang begitu elegan.
"Kau sudah kambali ya, Le'er" ujar Huang seraya lan wu berbalik dan menatap ke arah belakanganya.
__ADS_1
"Ayah siapaka orang ini? Mengapa bisa ia duduk dan makan bersama dengan kalian" tanya Aile sembari duduk di dekat Renxing.
"Dia adalah bocah kecil yang beberaoa tahun lalu aku kirim ke alam fana, dan selanjutnya kau pasti sudah tau" ujar Huang sontak membuat mata Aile melebar.
Mulutnya hendak mengucapkan sepatah kata namun entah mengapa tak sanggup ia katakan.
"Salam untuk kakak Aile" lan wu menatap Aile dengan senyum tenang.
"Adik Chi, hahaha aku sungguh senang melihat mu. Bagaiamana kau bisa kembali?" Tanya Aile seraya berpindah kursi dan duduk di samping lan wu.
"Ceritanya sangat panjang, tapi yang jelas semua berkat bantuan Hui" ucap lan wu seraya mendorong kepala Aile agar menjauh dari samping wajah nya
"Hey, kita bahkan baru bertemu dan kau malah ingin menjauhi ku" Aile menepis tangan lan wu seraya melingkarkan tangannya di bahu lan wu.
"Bukan begitu kak, hanya saja kau terlalu dekat dengan ku. Aku bahkan kesusahan untu bernafas" balas lan wu terus berusaha mendorong Aile menjauh.
"Ayah lihatlah Adi Chi, ia Bahakan ingin menjauhi ku" adu Aile membuat Huang dan Renxing tersenyum menatap tingkah keduanya.
Lan wu merupakan anak yang paling di sayang oleh seluruh saudaranya. Jika mereka tak mendengae secara langsung dari kaisar, mungkin orang-orang akan mengggap bahwa Aile dan lan wu bukanlah saudara kandung.
"Hais.. Le'er jangan terus mempermainkan adikmu" lerai kaisar.
"Sial..meskipun dia adalah saudara ku, tapi tetap saja ini melebihi batas" pikir lan wu seraya mengalirkan api suci yang sontak membuat Aile melepaskan pelukannya.
Api tersebut membaluti tubuh lan wu seraya mengelukan aura yang begitu menekan.
"Akar api" ujar lan wu bersamaan dengan api iblis yang menjalar cepat kearah kaki Aile yang kini menghindar dengan mudah.
"Chi'er hentikanlah, mengapa kau begitu marah?" Huang dengan nada cemas melihat tekana api iblis yang kian menguat.
"Maaf ayah,aku bukan bermaksud menyerang kakak Aile, namun entah mengapa aku merasa ada sedikit hawa petarung di bayangan nya. Selin itu melihat dari direspon kakak Aile aku emastikan bahwa kak Aile tidak mengetahui kehadiran hawa tersebut" uja lan wu bersamaan dengan munculnya seorang tetua berpakaian puti dengan janggut panjang.
"Jendral yingxu?" Kaget Aile seraya sedikit melompat.
"Hmmm..sepeti dugaan anda kaisar, kemampuan tuan muda Chi sangatlah tinggi. Bahkan putri Aile tidak dapat merasakan kehadiranku di bayangan nya, namun tuan Cho bisa merasakannya" ujar jendral yingxu.
Lan wu menghela nafasnya usai mengetahui jika pria tersebut bukanlah musuh nya. Lan wu begitu gegabah dalam menunjukan kemampuannya. Tapi ia tidak punya pilihan. Lan wu mengira jika sosok di bayangan tersebut merupakan mata-mata dari luar ataupun pembunuh yang berniat mengincar nyawa Huang.
__ADS_1
"Hahahhaha kau benar jendarl yingxu. Chi'er memiliki kemampuan yang tidak kalah dari saudara-saudara nya" balas kaisar.
Lan wu pamit keluar seraya menghabiskan makanannya. Ia mencari sebuah halaman kosong di sudut istana khusus. Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya lan wu menemukan tempat yang cocok untuk melatih kembali jurus pedang sunyi yang di ajarkan oleh gurunya.
"Jangan menggenggam dengan keras" gumam lan wu seraya menggerakan pedangnya dengan lembut.
"Ubah arah pedang dengan cepat" sambung lan wu seraya menggerakan pedangnya secara acak.
Ia terus mengeluarkan setiap gerakan dengan kelembutan dan memastikan genggamannya tidak mengeras ketika ia mengeluarkan jurus kejutan dari arah berlawanan.
"Badai acak" ujar lan wu mengeluarkan jurusnya yang di aliri dengan energi.
Serangan tersebut mampu menciptakan angin tajam dalam jumblah yang banyak. Nampak tanah yang terkena jurus lan wu kini terlihat dipenuhi oleh puluhan bekas sayatan yang sangat dalam akibat efek dari jurus lan wu.
"Serangan ini sangat cocok untuk menghadapi kepingan musuh" gumama lan wu seraya menyarungkan Pedangnya.
Dari arah belakang nampak mendadak 2 orang yang memakai baju zirah mendarat tetap di belakang lan wu.
Lan wu tersenyum tipis usai tak menyangka bisa ia di temukan secepat ini.
"Pangeran Chi, kaisar memanggil anda ke ruang pengangkatan untuk menghadiri pelantikan anda sebagai pemimpin dari pasukan elit kerajaan" ujar salah satu dari pria di belakang lan wu.
"Hmm..katakan kepada kaisar aku menolak untuk hal ini" lan wu tersenyum seraya menggunakan penggeser waktu dan menghilang dari pandangan kedua pria tersebut.
"Tuan Chi memang sangat berbakat seperti kabar yang beredar" ujar keduanya.
Lan wu bergerak cepat menuju penginapan yang di tempati oleh gurunya. Ia hendak menunjukan hasil latihanya seraya membahas beberapa hal mengenai portal kenaikan.
Lan wu masih terfikir akan ucapan Huang yang memintanya untuk menjadi pemimpin pasukan elite yang bergerak secara rahasia dan merupakan pasukan khusus dengan beranggotakan pendekar hebat yang di seleksi secara ketat oleh kaisar. Meskipun hal tersebut merupakan kebanggan bagi lan wu, namun ia sangat tidak menyukai rasa hormat berlebihan yang di tujukan untuknya.
Lan wu mendengus kesal usai melihat sepucuk surat yang tergeletak dia atas sebuah kitab berwarna biru laut.
"Sial..guru begitu cepat bergerak" keluh lan wu usai membaca pesan dari gurunya tersebut.
Lan wu membuka kitab yang di tinggalkan oleh gurunya seraya tersenyum lebar.
__ADS_1
"Jurus lengkap dari pedang sunyi, selain itu guru juga menambahkan beberapa penjelasan yang mudah ku pahami."gumam lan wu seraya menyimoan kitab tersebut di balik jubahnya.
"Entahlah kapan aku akan bertemu dengan guru lagi.." lan wu kini beranjak duduk seraya memulai peningkatan energi hitam yang telah tertunda beberapa hari.