
"Jari langit...." Ucap Lan wu bersamaan dengan munculnya 10 tangan besar berwarna emas dari balik awan.
"Ini adalah bentuk evolusi, ada beberapa orang yang sanggup mengeluarkan wujud lain dari jari langit, perhatian..!" Tegas Lan wu bersamaan dengan berubahnya 10 tangan tersebut menjadi 3 jenis senjata yang memancarkan aura yang kuat.
Juending dan lainya yang menyaksikan hal tersebut hampir tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bahkan sampai Lan wu telah kembali kedalam pondok, mereka masih mematung tanpa suara.
"Senior...mohon jadikan aku murid mu..!" Pinta Juending dan lainya serya membungkuk dihadapan Lan wu.
"Tidak. Aku tidak tertarik untuk mengambil murid, lagian status ku kelak akan membuat kalian kehabisan kata-kata.." tolak Lan wu dengan wajah acuh.
"Apakah kami tidak masuk dalam kualifikasi anda?" Tanya Juending.
"Ya, namun ada alasan lain mengapa aku tidak menerima kalian. Lakukan apa yang aku jelaskan kepada kalian untuk meningkatkan kemampuan jurus kalian" jawab Lan wu.
"Jika anda memerlukan sesuatu jangan ragu untuk mengatakannya kepada kami. Selama kami bisa melakukannya maka pasti akan kami lakukan" tutur Juending.
"Ketua...apakah kau mengetahui perihal topeng darah?" Tanya Lan wu.
"Iya tuan Hu, apakah anda ingin kami berurusan dengan mereka?" Jawab Juending yang menebak maksud Lan wu.
"Benar, aku ingin sakte mu menekan mereka, cukup tangkap pemimpin cabang organisasi itu di kota ini. Jika kalian berhasil maka aku akan memberikan hadiah" jelas Lan wu tersenyum tipis.
"Bukan masalah tuan, kami akan melakukannya meskipun anda tidak memintanya.." balas Juending seperti yang diharapkan oleh Lan wu.
"Baiklah...aku akan melanjutkan perjalanan ku sekarang, jaga baik-baik saudari ku.." ucap Lan wu yang melangkah ke luar dari pondok.
"Hati-hati tuan Hu, semoga bisa bertemu kembali.." lepas Juending seraya menatap kearah Lan wu yang terbang menjauh dari tempat tersebut.
**
Perjalanan Lan wu selama hampir seminggu telah membawanya sampai ke kota Ziyou. Saat itu kota Ziyou tengah diguyur hujan deras hingga membuat Lan wu terpaksa harus berteduh di rumah bunga.
__ADS_1
Tempat tersebut dipenuhi oleh gadis-gadis cantik dan para lelaki mata keranjang. Lan wu mengambil tempat di sudut ruang tingkat dua.
Kota Ziyou merupakan surga bagi perdagangan budak dan istana bagi orang-orang yang memiliki kemampuan. Yang lemah akan ditindas oleh yang kuat,
Yang kuat akan tunduk pada yang kaya dan seterusnya. Lan wu teringat sewaktu ia hendak memasuki kota Ziyou dimana ia melihat beberapa wanita dilucuti pakainya dimuka umum.
Mendadak pandangan Lan wu tertuju kearah bawah dimana terdapat rombongan berjumlah kurang lebih 80 orang sedang mengarah ke kediaman walikota.
Dibelakang pasukan tersebut terdapat kelompok lain yang mengenakan jubah hitam dan caping berwarna merah juga mengarah ketempat yang sama.
"Tingkat pelatihan mereka yang terendah adalah tahap langit akhir, aku dengar-dengar kalau suku bar-bar dan lembah dasar akan bergabung bersama dengan walikota untuk memberontak.." tutur beberapa orang di sekitar Lan wu dengan ekspresi yang terlihat bahagia.
"Dengan adanya dua pihak ditambah paviliun 5 warna maka akan besar kemungkinan walikota bisa menang.."
"Tapi aku dengar kalau kaisar yang sekarang sedang berada di luar istana, jadi kepemimpinan diambil alih oleh kaisar yang lama.." timpal yang satunya.
"Heheheh... walaupun hal tersebut disembunyikan oleh pihak istana namun informan milik walikota sangatlah akurat"
"Bodoh..! Kau ingin mati..?!" Ancam mereka.
Di sisi lain terlihat Lan wu yang memperlihatkan wajah kesalnya seraya mengepalkan tangan begitu kuat.
"Sudah cepat kembali untuk berjaga..!" Perintah seorang pria yang merupakan ketuanya.
3 orang tersebut berjalan meninggalkan tempat tersebut, dilain sisi Lan wu ikut bergerak diam-diam.
Hingga ketiga orang tersebut berada di tempat yang sunyi, dengan cepat Lan wu membunuh dua orang dengan pedangnya dan menyusahkan satu orang yang ketakutan oleh aura Lan wu.
"Kau..ka..kau...siapa...?!" Tanya pria tersebut seraya menyeret dirinya untuk menjauhi Lan wu.
"Jelaskan semua rencana walikota jika kau ingin hidup..!" Ancam Lan wu dengan nada dingin.
__ADS_1
"Tidak akan....kau jangan macam-macam dengan ku, aku adalah...?!" Ujar pria tersebut yang berganti menjadi teriakan kesakitan usai Lan wu menebas jari tangan pria tersebut.
"Argh..! Bajingan..!"
"Katakan pada ku..!" Perintah Lan wu kembali menebas jari tangan lainnya.
Ia terus-menerus memotong anggota tubuh pria tersebut dengan pandangan mata yang tak berperasaan. Hingga saat Lan wu akan mencongkel bola mata pria tersebut, barulah pria tersebut menyerah.
"Baik...baik...jangan siksa lagi..!" Teriak pria tersebut dengan seraya menggeram menahan rasa sakit.
"Walikota berniat memberontak kepada kekaisaran, ia telah mengumpulkan ribuan pasukan dan beberapa kelompok kuat dipihaknya"
"Berapa banyak pasukan yang berada di kota ini?" Tanya Lan wu menodongkan pedangnya.
"Sekitar 900 orang yang berada di 4 tempat yang berbeda di kota ini. Sementara yang lain telah bergerak diam-diam menuju istana.."
"Apa maksud mu? Apakah kau ingin menipu ku..?!" Tanya Lan wu sedikit terkejut.
"Kau pasti telah mendengar bahwa kaisar beberapa waktu lalu menerima sekumpulan orang untuk bergabung di pasukannya, orang-orang itu adalah pasukan milik walikota..." Jelas pria tersebut kini membuat wajah Lan wu tidak tenang.
"Mereka bertugas memata-matai istana, mencari dukungan dari dalam, dan tujuan utama ialah menculik keluarga kaisar.."
"Katakan dimana persembunyian kelompok tersebut?!" Nampak wajah Lan wu memerah akibat emosi.
"Aku tidak tau...yang pasti mereka telah menyusup diantara pasukan kekaisran.." jawab pria tersebut sesaat sebelum pedang Lan wu menebas kepalanya.
Ia membakar ketiga mayat tersebut lalu meninggalkan tempat itu. Kini ia bisa mengerti mengapa rencana menaikan pajak hanya berlangsung sebentar bagi tiga kota tersebut.
Alasannya adalah terdapat penghianat didalam istana yang mengatur hal tersebut.
Lan wu secepatnya mengirimkan surat khusus kepada kaisar An dan Hugin,
__ADS_1
Ia menceritakan semua yang diketahui perihal rencana walikota Ziyou dan meminta keduanya untuk menangkap secara diam-diam orang yang baru bergabung kedalam pasukan.