
"Selain itu aku tidak akan menerima kehadiran roh lainnya ataupun senjata spirit selain aku, jadi.. aku akan memusnahkan dua roh spirit milikmu..!"
Setelah pedang tersebut berkata, mendadak Lan wu memuntahkan darah segar seraya berlutut menahan sakit yang luar biasa didalam tubuh nya.
"Gawat... Wujud dewa sunyi dan panah surgawi hancur..."
Rintih Lan wu dengan eskpresi kesakitan.
Cei Hua yang menyadarinya segera memeriksa kondisi Lan wu.
Wajahnya mendadak berubah setelah mengetahui adanya ledakan energi yang terjadi didalam tubuh Lan wu.
Ia segera mengalirkan energi miliknya kemudian memerintahkan Yisun dan lainya untuk mencari tempat beristirahat.
"Bai xang... Mohon bertahanlah.."
Ujar Cei Hua dengan wajah khawatir sembari terus mengalirkan energi miliknya.
Dilain sisi Lan wu masih berusaha untuk meredam sakitnya dengan bantuan energi yang diberikan oleh Cei Hua.
Tubuh Lan wu terasa semakin berat dan pandangannya perlahan-lahan kabur.
Dalam situasi tersebut tiba-tiba api iblis menyelimuti tubuh Lan wu bersamaan dengan wujud aura neraka yang mendadak muncul dan menutupi Lan wu juga Cei Hua.
"Ratu.. tidak jauh didepan kita adalah kota petir milik istana Shandian..!
Aku akan pergi terlebih dahulu untuk meminta bantuan dan juga tempat tinggal sementara...!"
Ucap Yisun setengah berteriak.
Ia kemudian menambah kecepatan gagak Jade dan mendahului Cei Hua yang masih membantu Lan wu.
"Bai xang... Apa kau bisa mendengar ku..?..
Jangan melawannya itu hanya akan memperparah tubuh mu dengan benturan energi dari 2 wujud spritual roh mu..!"
Ucap Cei Hua dengan suara keras.
"Ada apa ini...?!"
Mendadak langit menjadi hitam seiring dengan munculnya pusaran awan tepat diatas mereka.
Dari dalam pusaran awan muncul sebuah naga mengerikan menerjang kearah pilar langit yang dinaiki oleh Lan wu dan Cei Hua.
Sontak mereka tersungkur ketanah dengan keras hingga menciptakan sebuah lubang dalam.
Beruntung Cei Hua dengan cepat melompat seraya membawa Lan wu beberapa saat sebelum pilar langit ditabrak oleh naga kiamat.
Lan wu kini sepenuhnya kehilangan kesadaran, dari tubuhnya keluar sebuah pedang disusul oleh pedang yang berada ditangan Lan wu sebelumnya.
__ADS_1
Kedua pedang tersebut beradu di udara saling menyerang dengan kuat hingga beberapa kali terpental kearah berlawanan.
Masing-masing pedang tersebut kini keluar dari sarungnya dan kembali bergerak menghampiri satu sama lainnya.
Melihat kedua pedang yang kini saling bertarung, Cei Hua memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memulihkan Lan wu.
"Ini salah ku... Seharusnya aku tidak memberinya pedang raja hitam.."
Ujar Cei Hua dengan penuh penyesalan.
"Bertahanlah.. aku mohon..."
Perlahan-lahan wajah pucat Lan wu tampak membaik. Diiringi oleh kedua tangannya yang meraih wajah Cei Hua dengan susah payah.
"Kau.. air mata mu asin.."
Ujar Lan wu dengan suara parau.
"Bodoh...! Hiks...Hiks..."
Cei Hua tak kuasa menahan tangisnya.
Ia kemudian memeluk Lan wu yang masih terbaring dan tersenyum senang pada Cei Hua.
"Tenanglah.. aku tidak tidak semudah itu mati.."
"Rupanya mereka masih bertarung.."
Ujar Lan wu menatap pedang naga kiamat yang bertarung melawan pedang raja hitam tidak jauh didepannya.
"Apa yang terjadi..? Kenapa pedang raja hitam mendadak seperti itu..?"
Tanya Cei Hua.
"Entahlah, mungkin dia tidak suka dengan keramaian. Dua roh spritual ku telah dihancurkan oleh nya. Adapun wujud aura neraka ataupun naga kiamat tidak mampu ia hancurkan dengan mudah.."
Jelas Lan wu dengan eskpresi serius.
"Naga kiamat adalah sosok mengerikan yang mengendalikan dua ras naga di alam utuh. Sementara wujud aura neraka adalah iblis langit yang merupakan keberadaan misterius. Tentu saja tidak mudah untuk dihancurkan.."
Pikir Lan wu yang kini mampu berdiri dengan stabil.
"Akan tetapi hal yang menarik adalah, pedang raja hitam sama sekali tidak menunjukkan adanya penolakan terhadap pilar langit dan kekuatan singa iblis..."
"Cei Hua, bisakah kau membantuku satu hal?"
Tanya Lan wu yang sedikit mengejutkan Cei Hua.
Akan tetapi wanita tersebut menyetujui permintaan Lan wu, ia segera bergerak kearah dua pedang tersebut kemudian melepaskan serangan miliknya dan membuat kedua pedang tersebut terpental kearah berlawanan.
__ADS_1
"Tenanglah kalian bajingan..!"
Teriak Lan wu yang kini telah berada tepat didepan kedua pedang tersebut.
Mata kiri Lan wu memancarkan aura yang kuat bersamaan cahaya biru yang menyelimuti kedua pedang dihadapannya.
"Jangan harap aku membiarkan mu menyakiti suami ku untuk kedua kalinya..!"
Cei Hua mendadak muncul sesaat sebelum kedua pedang tersebut hendak menyerang Lan wu yang kemudian dipukul mundur oleh Cei Hua.
Dilain sisi cahaya biru yang menyelimuti kedua pedang tersebut mendadak berubah menjadi rantai yang melilit keduanya secara bersamaan.
"Aku akan memberikan kalian ruang untuk bertarung, nikmatilah hukuman kalian...!"
Kedua pedang tersebut kini tersedot masuk kedalam sebuah lubang hitam yang diciptakan Lan wu dari mata kiri miliknya.
"Hah...hah... Sial, dengan peningkatan energi hitam ku.. aku masih bisa bisa kelelahan akibat penggunaan mata pedang.."
Ujar Lan wu yang ngos-ngosan usai menyegel kedua pedang tersebut didalam domain pedangnya.
"Bai xang.. jangan terlalu memaksakan dirimu.."
Cei Hua kembali mendekati Lan wu sembari membantu memapahnya.
"Terimakasih.."
Ucap Lan wu yang berjalan menuju kesebuah pohon bersama dengan Cei hua.
Keduanya duduk bersandar di batang pohon menunggu Yisun untuk menjemput mereka.
"Cei Hua... Bisakah aku meminjam paha mu?"
Tanya Lan wu yang terlihat begitu kelelahan.
Tanpa menjawab, Cei Hua langsung menarik lembut kepala Lan wu kearah pahanya.
"Terimakasih, kau sangat baik.."
Tutur Lan wu bersamaan dengan terlelap nya ia dipangkuan Cei Hua.
Beberapa saat kemudian Lan wu dibangunkan oleh Cei Hua setelah Yisun bersama seorang pria datang menjemput mereka.
Keduanya naik kedalam kereta kuda yang ditarik oleh dua hewan spritual menuju kota petir.
Sesampainya di kota, mereka dibawa kesebuah penginapan khusus tamu istana Shandian yang sebelumnya telah dipersiapkan oleh Cei Hua.
Pria tersebut kemudian menyampaikan perkataan pemilik istana untuk menghadiri acara sambutan di istana yang akan diadakan sebentar malam.
Dilain sisi, Lan wu telah berjalan masuk kedalam peginipan untuk mandi. Tubuhnya terasa begitu gerah terlebih lagi usai mengalami cidera akibat ledakan energi.
__ADS_1