
"Ehmm.. aku disuruh langsung oleh ketua sakte untuk menyerahkan mu ini"
Lan wu mengambil sebuah surat yang diberikan oleh tetua ke 7 kemudian membacanya.
"Pertandingan antara murid sakte?"
Ucap Lan wu dengan nada penuh tanya.
"Tapi tetua... Bukankah dari dulu gerbang luar tidak memiliki hak untuk ikut dalam partisipasi ini..?"
Tanya guru Nan yang keheranan.
"Hehehe.. jika bukan karena aku maka siapa lagi.."
Batin tetua ke 7 seraya tersenyum lebar.
Lan wu tampak telah mengetahui hal tersebut, secara tidak langsung ketua sakte memberikan situasi dimana Lan wu harus mengambil beberapa murid sebagai perwakilan nanti.
"Bagiamana jika aku menolak?"
Tanya Lan wu.
"Maka gebang luar akan ditiadakan, dan kau akan dijadikan sebagai tetua penjaga sakte selama 50 tahun.."
"Baiklah.. jika tidak ada lagi, aku akan kembali untuk beristirahat"
Balas Lan wu yang berjalan meninggalkan aula dengan tenang.
Tetua ke 7 ikut pergi beberapa saat setelah Lan wu. Sementara para guru masih berdiskusi dan menyusun beberapa rencana untuk merekrut setidaknya 5 murid yang akan mewakili kompetisi sakte.
Mereka sepakat untuk melakukan seleksi dalam waktu beberapa hari dan memanfaatkan wilayah terbuang sebagai tempat ujian para murid.
"Hey.. apa kalian para guru gila? Bagaimana bisa kalian mengirimkan murid-murid kita ketempat berbahaya itu tanpa pengawasan?"
Sergah guru Nan.
Ia tidak setuju dengan keputusan guru lainnya. Menurut guru Nan, dibutuhkan setidaknya 3 pengawas untuk menjamin keselamatan para murid.
"Aku benci mengakuinya, namun ucapan guru Nan benar. Tiga diantara kita harus pergi dan mengawasi mereka"
Sambung guru Ciu hugo seraya memegang dagunya.
"Bagaimana jika meminta saran tetua Lan.?"
"Kau benar guru Nan, aku akan menemui nya besok.."
Beralih ketempat lain dimana terdapat seorang anak berusia 14 tahun terlihat sedang berlatih di bukit belakang gerbang luar.
Tubuh anak tersebut tampak dipenuhi oleh luka lebam, tangannya masih mengalirkan darah segar seiring dengan tinjunya yang menghantam dinding bukit tiada henti.
Lan wu yang tidak sengaja melihatnya dari atas bukit, seketika teringat akan Wu Jia.
__ADS_1
Postur tubuh dan wajah anak tersebut memiliki kemiripan dengan putra Lan wu.
Hanya saja bakat anak tersebut jauh lebih rendah dari Wu Jia.
"Meridiannya hancur, dan bahkan kekuatan fisik anak ini begitu buruk..
Tapi keteguhan hati dan semangatnya melebihi perkiraan ku.."
Gumam Lan wu yang takjub melihat sosok anak yang berlatih dibawahnya.
"Aku membantunya untuk memperkuat fisik menggunakan api suci dan petir pengadil.
Mari kita lihat keberuntungan mu.."
Lan wu kemudian mengeluarkan api suci dan mengarahkannya tepat ke anak tersebut.
"Apa ini..?!"
Arghh..!!
Tubuh anak tersebut melayang beberapa meter diatas tanah seraya terus berteriak keras menahan sakit.
Kini Lan wu menggerakkan telunjuknya kearah anak itu disusul dengan Sambaran petir yang menghantam bocah tersebut dengan cepat.
Ledakan keras seketika menghancurkan tanah dibawahnya dan mengikis sedikit dinding bukit tersebut.
Arghh..!
Teriakan bocah tersebut semakin terdengar keras di udara.
Tubuhnya terselimuti oleh cahaya putih kemerahan berbentuk bola besar sebelum akhirnya perlahan-lahan anak tersebut jatuh ketanah dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Si..siapa anda.?"
Gumam bocah tersebut sekilas melihat sosok pria berjubah tetua yang datang menghampirinya.
Lan wu mengangkat bocah tersebut dan membawanya menuju kediaman.
Sudah hampir 3 hari semenjak anak tersebut tidak sadarkan. Selama itu ia mendapatkan perawatan dari pelayan di kediaman Lan wu, hingga pada suatu pagi anak tersebut sadar dari komanya.
Dengan rasa panik, ia hendak melarikan diri dari tempat tersebut melalui jendela. Namun ia tidak menyangka bahwa ketika dirinya berhasil keluar dari kamar tersebut, ia mendapati sosok pria yang sedang berdiri memunggungi nya sembari memegangi pedang.
Anak tersebut seketika tak mampu bergerak. Ia menyaksikan sendiri bagaimana sosok pria tersebut mengeluarkan jurus pedangnya yang begitu mengagumkan.
"Bagaimana kondisi mu?"
Tanya pria tersebut usai berlatih jurus pendangnya.
"Aku.... Iya."
Bocah tersebut tampak sedikit tegang menjawab pertanyaan Lan wu.
__ADS_1
"Penguatan tubuh memang terasa menyakitkan, namun hasilnya juga memuaskan"
"Jadi anda adalah orang yang membantu ku di bukit..?!"
Tanya anak tersebut dengan nada terkejut.
"Ya... Kau mengingatkan ku dengan diriku saat seumuran dengan mu.."
"Saat ini kau memiliki fisik yang bagus untuk melakukan kultivasi, berlatih lebih giat lagi agar mendapatkan hasil yang maksimal.
Jika kau sudah pulih sepenuhnya, silahkan pergi"
Tutur Lan wu dengan nada datar.
Bocah laki-laki tersebut tampak terdiam sejenak. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Tetua... Bisakah aku menyembah mu sebagai guru..?"
Dengan nada ragu-ragu, anak tersebut berucap seraya tetap menunduk.
"Ho... Apa kau memikirkan nilai mu hingga berani meminta ku untuk menjadi gurumu?"
Balas Lan wu.
"Tentu saja tetua, aku sadar bahwa diriku tidak lebih dari sampah yang menjijikkan..
Namun, aku akan berlatih keras dan membuktikan bahwa aku mampu menjadi murid mu.!"
Tukas anak tersebut penuh keyakinan.
"Bisakah anda memberikan ku kesempatan itu..?"
Mendadak hembusan angin menerpa kedua orang yang sedang berdiri tenang di halaman depan kediaman tersebut.
Keduanya masih diam tak bergerak seakan-akan tengah menunggu seorang diantaranya berbicara.
"Apa tujuan mu untuk menjadi kuat?"
Tanya Lan wu yang sedari tadi diam cukup lama.
Ia melirik anak dibelakangnya sembari memutar tubuhnya hingga akhirnya mereka saling berhadapan.
"Membunuh orang-orang yang menjebak ayah dan ibuku..! Aku ingin membunuh mereka..!"
Anak tersebut dengan tatapan geram mengangkat kepalanya dan menatap Lan wu secara langsung.
"Hmmph... Tidak salah kau begitu berusaha"
"Baiklah, aku akan menerima mu sebagai murid pertama ku disini. Latihan mu akan dimulai hari ini, ambillah kitab ini dan pelajari"
Sambung Lan wu yang tersenyum senang seraya menepuk pundak anak tersebut.
__ADS_1
Dilain sisi, anak tersebut memberikan penghormatannya kepada Lan wu dan berjanji untuk tidak mempermalukan gurunya.