Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
energi hitam tingkat akhir 2.71


__ADS_3

Beberapa saat fenomena tersebut lenyap tanpa jejak hanya menyisakan kebingungan di pikiran semua orang. Mata Zun terus menatap kearah pintu kamar tempat dimana Lan wu berada.


"Krek.." pintu tersebut terbuka bersamaan dengan Lan wu yang nampak pebih segar dari sebelumnya.


Aura wibawa nampak jelas terasa dari Lan wu, aura yang menenangkan serta mendamaikan siapa saja yang berada di dekatnya.


"Rasanya aku seperti bertemu dengan saudara yang sangat ku kenali" pikir Zun yang nampak begitu tenang berada di dekat Lan wu.


"Apa yang terjadi? Apakah kau menerobos tingkat?" Tanya Zun dengan wajah penasaran.


Lan wu hanya mengangguk sembari tersenyum. Pada dasarnya Lan wu tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya apa lagi menutupi hal yang terlihat begitu jelas.


Zun hanya tersenyum tenang seraya mengajak Lan wu untuk keluar dan bersiap untuk berangkat.


Diluar kediaman, Lan wu begitu terkejut melihat banyaknya orang yang berdiri di depan gerbang yang di jaga ketat oleh pengawal Zun.


Melihat ekspresi Lan wu, Zun akhirnya menjelaskan apa yang terjadi saat Lan wu tengah naik tingkat. Lan wu hanya tersenyum sembari mengucapkan terimakasih.


Setelah kondisi tenang, Zun dan Lan wu di temani oleh ular larva akhirnya berangkat menuju kediaman para keluarga bangsawan yang di maksud oleh Zun.


Mereka menaiki kereta kuda dan di kawal oleh 20 prajurit di setiap Sisi kereta kuda.


Di depan terdapat seorang jendral menengah yang memimpin rombongan tersebut.


Perjalan yang tidak memakan waktu lama, serta gangguan yang hampir tidak ada akhirnya mereka memasuki kediaman sapu satu dari 5 keluarga bangsawan saat menjelang petang.

__ADS_1


Kedatangan mereka nampak telah di ketahui oleh kepala keluarga tersebut yang telah menyiapkan jamuan kecil di kediaman tersebut.


Dengan kawalan para prajurit, Zun dan Lan wu memasuki sebuah ruang besar tempat keluarga tersebut menyambut tamu dari kalangan orang-orang penting.


Zun dan lainya di persilahkan untuk duduk di jejeran meja kecil dan beralas karpet lembut dari bulu singa. Mereka tidak duduk di sebuah kursi, melainkan di atas karpet yang di alas dengan rapi.


Zun tidak begitu memperdulikan hal tersebut pikir Lan wu mungkin Zun sudah sering mengunjungi tempat jamuan seperti ini.


Lan wu sendiri tidak keberatan selama ia tidak mendapat sindiran atau di provokasi.


Kepala keluarga tersebut juga ikut duduk namun di meja paling depan. Posisi meja dan tempat mereka duduk bersam tamu lainya membentuk serupa huruf U.


Sembari menikmati hidangan tersebut, kepala keluarga membuka pembicaraan dan menanyakan maksud dari kedatangan orang-orang tersebut termasuk Zun.


Mereka hendak meminta bantuan kepala keluarga tersebut untuk menyuplai bahan kultivasi yang nantinya akan mereka gunakan guna meningkatkan kemampuan dari murid-murid di sakte mereka.


Sebagai balasannya, mereka akan menjaga keluarga dan menjadi sekutu tetap seandainya kepala keluarga mendapat kesulitan.


"Aku sungguh senang mendengar tawaran kalian. Kalian pergilah ke kebun milik keluarga ku dan ambil bahan-bahan yang kalian butuhkan" ujar kepala keluarga dengan wajah tenang.


Mendengar ucapan tersebut, para ketua sakte segera berterimakasih dan pamit undur diri menyisakan rombongan Zun di ruang jamuan tersebut.


"Pangeran mahkota.. maaf sudah membuat anda menunggu, aku tau apa yang akan kau katakan sangatlah rahasia jadi aku memutuskan untuk membuat para ketua sakte itu pergi terlebih dahulu" ucap kepala keluarga sembari menghela nafas.


"Aku mengerti maksud anda paman Thung. Kita bukan hanya sekali ini bertemu" jawab Zun dengan sedikit senyum.

__ADS_1


"Baikalah.. baiklah.. aku tidak ingin membahas masa kecil mu, akan tetapi apakah tujuan dari kedatangan mu ialah untuk meminta ku menjadi pendukung mu?" Tanya Thung yang kini mulai terdengar serius.


Zun nampak meneguk cepat arai di gelasnya dan meletakkan kembali cangkirnya di meja.


"Benar.. aku hanya bisa meminta bantuan kepada paman, dan 4 keluarga bangsawan lainya.." jawab Zun dengan nada harap.


"Ternyata benar... Aku beberapa Minggu ini tidak bisa tidur nyenyak setelah mendengar ayah mu mengumumkan dirimu sebagai pangeran mahkota. Aku sedikit heran mengingat dulu di hadapan pertemuan besar para petinggi di seluruh wilayah ayah mu menunjuk adik mu untuk meneruskan tahtanya.." Thung menghentikan sejenak ucapannya.


"Aku tidak keberatan jika harus mendukung mu, namun bagaimana nantinya jika adik mu malah salah sangka kepada ku? Aku sangat menyayangimu dan adik mu.. tidak pernah terpikirkan oleh ku jika harus memilih salah satu dari kalian" sambung Thung seraya menggeleng kepala.


"Paman.. ini bahkan hanya perebutan tahta, bukan berarti aku hendak melenyapkan adik ku.. aku hanya ingin menghentikan rencana konyol nya untuk menguasai dunia iblis" nampak Zun sedikit meninggikan suaranya.


Suasana nampak menjadi hening beberapa saat. Thung nampak tengah berpikir sementara Zun terlihat menunggu jawaban Thung.


"Suatu hari kau akan menghadapi situasi dimana kau di hadapkan oleh 2 pilihan.. membunuh atau di bunuh.." ujar Thung nampak tidak mengagetkan Zun.


"Aku tau itu paman.. namun aku akan tetap pada pendirian ku.." Zun menekankan ucapannya.


"Baiklah.. aku akan berada di pihak mu.." ujar Thung terpotong oleh Zun.


"Sungguh.. aku sungguh berterimakasih paman.." ucap Zun dengan nada senang.


"Aku belum selesai bicara" ujar Thung.


"Aku bersedia mendukung mu jika kau dapat meyakinkan sakte pedang iblis untuk berada di pihak ku.. sebab jika mereka berhasil kau yakinkan. Maka, untuk membuat 4 keluarga lainya di pihak mu itu tidak akan sulit" jelas Thung nampak membuat raut wajah Zun berubah.

__ADS_1


__ADS_2