Pendekar Kelana Ll

Pendekar Kelana Ll
Tentang Fei 2.4


__ADS_3

"energi murini telah hilang dari tubuh ku, sungguh mengejutkan aku masih dapat mengeluarkan api suci" ujar lan wu sembari menatap kobaran api di telapak tangannya.


Lan wu melangkah keluar dari ruang pelatihan sembari memikirkan hal-hal mengenai energi hitam yang masih belum berada di tingkat yang cukup. Setidaknya lan wu harus mencapai energi hitam tanah untuk menyamai tingkatan energi murni yang sebelumnya telah berada di tingkat ilahi menengah meskipun saat ini ia masih berada di gerbang ilahi menengah.


"Ini?!" Kaget lan wu melihat ketua teratai putih telah berdiri di depannya sembari tersenyum lebar.


Otak lan wu berputar seraya menerka apa yang membuat pria tersebut seakan bahagia menatap lan wu.


Terlihat juga Lou yu serta Fei yu yang tengah berdiri di samping ketua sakte dengan raut wajah tenang menatap lan wu. Ia segera memberi hormat kepada ketua sakte seraya menanyakan maksud dari pria tersebut.


Sesaat ketua sakte tertawa seraya menunjuk ke arah papan peringkat di menara tersebut.


" Sepertinya pilihan ku untuk menerima mu di teratai putih sangatlah tepat, tak di sangka dalam waktu singkat kau berhasil menduduki peringkat satu di menara ini dan membuktikan bahwa kau merupakan murid dengan bakat luar biasa di sakte teratai putih" jelas ketua sakte dengan nada senang.


Lan wu sendiri begitu aget usai melihat namanya bertengger di peringkat satu. Lan wu khawatir akan memancing kemarahan dari pemilik peringkat satu yang kesal akan perubahan tersebut.


"Mungkin ada kesalahan, selain itu kemampuanku sangatlah tidak layak untuk berada di peringkat satu" lan wu tersenyum canggung sembari menggaruk kepalanya


"Anak ini sungguh mengejutkan" ujar seorang murid yang berada di deretan peringkat di menara tersebut. Sorot mata pria tersebut seakan menyimpan amarah besar.


Dari arah belakang datanglah pemilik peringkat satu sebelum lan wu, yang bernama daochen. Ia terlihat di temani oleh dua pemuda yang membawa sebuah pedang panjang di punggung mereka.


Ketiga orang tersebut menghampiri ketua sakte seraya memberi hormat sesaat sebelum mengutarakan maksud dari kedatangan mereka.


"Aku merasa tidak terima dengan kejadian ini, bagaimana bisa seorang yang bahkan masih berada di tahap gerbang ilahi menengah dapat mengalahkan ku yang berada di tahap dunia ilahi" ujar daochen dengan nada tinggi.


"Saudara chen, apakah kau meragukan papan peringkat di menara ini? Selain itu papan peringkat mengukur bakat seseorang dan tidak menjelaskan tentang tingkatan ataupun kemampuan seseorang" timpal Lao yu tersenyum sinis.


"Hmm..senior Lao, aku mengerti perkataan mu tapi tetap saja aku perlu merebut kembali peringkat milik ku" ujar daochen sembari mendekati lan wu.


Lan wu menatap daochen yang postur tubuhnya lebih tinggi dari lan wu, sehingga membuat lan wu sedikit mendongak ke atas. Pandangan mereka bertemu dan saling melancarkan tekanan satu sama lainya.


Aura mengerikan dari energi hitam bercampur dengan aura neraka membuat daochen sangat waspada.


Tekanan aura keduanya memenuhi seisi menara dan menimbulkan rasa ganjil bagi para murid yang pelatihannya masih rendah.


"Bagus, kau bahkan tidak gentar beradu tekanan dengan ku. Aku harap saat bertarung juga kau akan sehebat tekanan aura milik mu" ujar daochen seraya melangkah berjalan meninggalkan lan wu yang masih merasa heran dengan perubahan emosi dari daochen.


"Sungguh tekanan yang mengerikan" gumam lan wu sembari menghembuskan nafasnya.


"Suadara lan memang sangat mengejutkan" ujar Lao yu sembari tersenyum kearah lan wu.

__ADS_1


Lan wu hanya tertawa canggung menutupi kegelisahannya mengingat seandainya jika tadi ia bertarung melawan daochen.


"Aku mengetahui kekhawatiran mu, tenanglah aku akan melindungi mu hingga kemampuan mu cukup" kini Fei mengalihkan pandangannya usai mengatakan hal tersebut.


"Pfuuuuhahahahaha, apakah kau bercanda? Bahkan saat di perjalanan menuju Kamri bukankah aku yang selalu melindungi mu?" Lan wu tertawa lepas tanpa menyadari perubahan mimik wajah dari Lou yu yang terlihat begitu khawatir.


"Bernainya kamu?!" Terlihat hanzeng melesat dengan cepat seraya memukul kepala lan wu


"Kau...beraninya memukul ku..!" Geram lan wu hendak membalas.


Hanzeng segera menarik kerah baju lan wu seraya berlari menyeretnya untuk meninggalkan ruangan menara tersebut. Ketua sakte hanya tertawa usai melihat tingkah hanzeng yang jarang di lihat oleh matanya secara langsung. Lou yu menatap Fei yang masih terdiam seraya menatap lan wu yang di bawa pergi oleh hanzeng.


"Orang itu..." Gumam Fei terlihat sedikit kesal.


"Hahahahaha, tenanglah fei. Dia bahkan tidak mengetahui apa-apa tentang hak ini" ujar ketua sakte menepuk bahu Fei.


......


Di sisi lain nampak hanzeng yang menghela nafasnya usai berlari begitu cepat sembari menyeret lan wu.


"Untunglah..kalau tidak pasti akan gawa..." Ucapan hanzeng terputus bersamaan dengan pukulan lan wu yang mendarat di atas kepalanya.


"Siapa suruh begitu?! Siapa suruh menyeret ku begitu?!" Lan wu melepaskan kekesalannya seraya melancarkan pukulan di kepala hanzeng


"Kau ini bodoh atau apa, apakah kau tidak tau jika kau tidak ku bawa pergi dari menara itu mungkin sekarang kau akan menjadi seperti telur yang jatuh ketanah" ujar hanzeng seraya mengelus kepalanya.


Lan wu menaikan sebelah alisnya seraya mencerna perkataan dari hanzeng.


"Apakah maksud mu bila Fei itu sangat menakutkan?" Tanya lan wu


"Kau benar, sebaiknya jangan membuatnya marah atau kau akan merasakan sendiri akibatnya" ujar hanzeng yang kini menatap ke arah restoran di depannya.


Lan wu sedikit tidak percaya akan perkataan hanzeng, namun terlihat jelas bila hanzeng tidak bercanda mengenai perkataannya barusan. Lan wu sendiri sebelumnya juga melihat ekspresi Lou yu yang di Liputi oleh kekhawatiran usai lan wu tertawa mendengar perkataan dari Fei.


"Hmm..aku akan meminta maaf padanya nanti" pikir lan wu seraya mengangguk pelan.


"Hey bocah kecil, bagaimana jika kita pergi memeriksa arak di restoran itu" ucap hanzeng tersenyum seraya menunjuk ke arah restoran di depan mereka.


Lan wu tersenyum dengan ekspresi nakal seraya mengangguk cepat.


**

__ADS_1


Nampak di ruang utama milik ketua sakte. Terlihat Lou yu dan ketua sakte tengah mendiskusikan sesuatu mengenai Fei. Ekspresi keduanya begitu serius dalam menyikapi pembicaraan satu sama lainya.


"Darah empat ras?!" Nada Lou yu di penuhi oleh keterkejutan usai mendengar penjelasan dari ketua sakte.


"Benar, Fei memiliki darah dari tiga ras alam dewa dan satu ras legenda yang keberadaanya tidak di ketahui oleh siapapun. Untuk saat ini darah di dalam tubuh Fei belum terbangun secara penuh, tapi kemampuan Fei meningkat dengan pesat hanya dengan berapa persen dari darah yang terbangun di tubuhnya. Fei mungkin akan menjadi seseorang yang membawa teratai putih menuju kejayaan, namun sebaliknya juga dapat menjadi kehancuran dari tertai putih jika Fei tidak dapat mengendalikan kekuatan besar di dalam dirinya" jelas ketua sakte


Lou yu terdiam sejenak sebelum akhirnya kembali menanyakan beberapa hal kepada ketua sakte.


"Apakah guru dapat mengontrol kemampuan Fei? Dengan kemampuan guru aku sangat yakin jika Fei dapat di selamatkan dari kekuatan besar di dalam dirinya itu" Lou yu sedikit berharap


"Untuk saat ini aku masih dapat mengontrolnya, namun ketika darahnya terbangun secara penuh bahkan aku sendiri takan bisa berbuat banyak. Satu-satunya harapan kita hanyalah pada Fei menara energi hitam yang telah tersegel lama" ujar ketua sakte meneguk minumannya.


"Ta..tapi itu dapat menghancurkan tubuh dan jiwa Fei.." Lou yu terlihat begitu gusar


"Hanya itu cara yang tersisa untuk menyelamatkan sakte dan seluruh murid di sini" sambung ketua sakte.


...


Di sisi lain nampak Fei tengah berjalan menuju restoran tempat lan wu dan hanzeng berada. Fei melihat lan wu dan hanzeng yang tengah tertawa gembira seraya meneguk arak sembari bertukar cerita. Ia masuk ke restoeamg tersebut dan segera menghampiri lan wu dan hanzeng.


"Paak....palk.." tamparan mendarat di pipi lan wu dan hanzeng secara bergantian.


Lan wu menoleh ke arah Fei bersamaan dengan hanzeng dan sontak keduanya melompat mundur kebelakang.


"Hey bocah, sepertinya kita harus bekerja sama" ujar hanzeng setengah berbisik


"Mmmm.. kau benar bocah tua, kita setidaknya bisa melarikan diri darinya kalau kita bekerja sama" jawab lan wu mengangguk sekali.


"Hey...bocah tua?! Sejak kapan kau menyebut ku seperti itu?" Hanzeng menatap lan wu dengan tatapan jengkel


"Hah? Memang kenapa? Bukankah kau juga menyebut ku dengan bocah kecil?" Lan wu membalas perkataan hanzeng dengan nada yang di buat


"Tapi mengapa harus di tambahkan kata tua di depan bocah.! Mana ada bocah yang telah tua..!" Hanzeng berteriak tepat di depan wajah lan wu.


Lan wu menutup matanya dan merasakan hujan air liur yang terpancar di mukanya.


"Air liur mu tidak baik untuk wajah tampan ku.!" Lan wu balas meneriaki hanzeng.


Mereka berdua kembali bertengkar hingga melupakan Fei yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran konyol keduanya. Semakin lama, Fei bertambah semakin kesal usai mendengar beberapa perkataan lan wu dan hanzeng yang sedikit menyakiti pendengarannya. Fei segera mendekati keduanya seraya melayangkan pukulan dari ke dua tangannya tepat di kepala lan wu dan hanzeng.


"Siapa yang berani melakukan hal ini kepada ku?!' ujar lan wu bersamaan dengan hanzeng yang kini menatap ke arah Fei

__ADS_1


Fei mengeluarkan auranya sembari menatap ke arah lan wu dan hanzeng dengan tatapan tajam.


"I..i..ibu.." ucap lan wu bersaman dengan hanzeng yang kini saling berpelukan tanpa sadar.


__ADS_2