
Sesampainya ia di pintu kediaman jendral Lan wu disambut secara langsung oleh Hugin yang saat itu sedang makan malam bersama keluarganya.
Lan wu bergabung dengan keluarga Hungin dimeja makan dan mulai mengenal satu-persatu keluarga Hugin.
"Yang mulia, ini adalah istriku Qingqing. Ia berasal dari kota San dan merupakan putri dari walikota disana" jelas Hugin memperkenalkan istirnya.
"Salam kenal nona Qingqing, maaf atas kedatangan ku yang mendadak ini" ujar Lan wu dengan nada ramah.
"Yang mulia tidak perlu begitu sopan, kedatangan yang mulia merupakan sebuah kehormatan bagi kami" balas istri Hugin dengan nada yang terdengar anggun.
"Kau pasti anak pertama dari Jendral Hugin" tanya Lan wu seraya menatap pemuda yang duduk disamping kiri jendral Hugin.
"Benar yang mulai, nama hamba Haiyang. Hamba merupakan pemimpin dari divis kecil pasukan pelindung kekaisaran" jawab pemuda tersebut memperkenalkan dirinya.
"Sejujurnya kedatangan ku kesini dikarenakan ingin meminta pendapat dari jendral Hugin mengenai kandidat pemimpin pasukan naga merah" jelas Lan wu seraya tersenyum.
"Seperti yang kita tau bahwasanya jendral Axe telah begitu tua dan sudah seharusnya ia menikmati masa pensiunnya. Disisi lain aku membutuhkan pasukan naga merah.." sambung Lan wu.
"Apakah dalam waktu dekat anda akan melakukan penyerangan?" Tanya Hugin dengan ekspresi serius.
"Benar, aku merasa kota Ziyou telah dibiarkan begitu lama hingga membuat mereka merasa kebal terhadap hukum kekaisran.
Selain itu aku mendapat informasi bahwa dibelakang kota Ziyou didukung oleh paviliun 5 warna yang akhir-akhir ini begitu tenar di kekaisaran Qin" jawab Lan wu seraya meletakan cangkirnya di meja.
"Paviliun 5 warna memiliki latar belakang yang misterius. Selain itu mereka dapat bergerak leluasa di 4 kota besar serata memiliki banyak pendukung dari pihak sakte-sakte" tambah Haiyang disertai dengan anggukan Lan wu.
"Jika begitu bukankah sedikit gegabah bagi kita untuk menyerang?" Tanya Hugin.
"Benar, namun dengan pergerakan kita pihak lain tentu akan mulai bergerak juga. Dengan begitu kita dapat mengetahui orang-orang yang selama ini bersembunyi begitu baik" jelas Lan wu kini dipahami oleh keduanya.
"Aku berencana untuk menjadikan anak anda sebagai jenderal dari pasukan naga merah bagaimana pendapat kalian?" Tanya Lan wu sontak membuat Haiyang berdiri dari duduknya kemudian berlanjut.
"Hamba bersedia selama yang mulia menganggap kemam hamba pantas" jawab Haiyang dengan nada lantang.
"Bagus...dengan begini aku bisa tenang"
"Oh iya... mengapa kau menerima tanggung jawab yang berbahaya ini tanpa berpikir panjang?" Tanya Lan wu sedikit penasaran.
"Hahahaha...anu... sejujurnya anak hamba begitu mengagumi yang mulia. Setelah mendengar anda menjadi kaisar, dia segera meninggalkan sakte dan meminta ku untuk memasukkan nya kedalam pasukan.." jelas Hugin seraya tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana jika kita berlatih sebentar? Kebetulan aku sudah lama tidak bergerak" ajak Lan wu nampak membuat Hugin terdiam dengan ekspresi ngeri.
__ADS_1
"Baik yang mulia, sungguh hal yang langka bisa mendapatkan arahan langsung dari anda"
Mereka kemudian keluar menuju halaman depan kediaman Hugin. Lan wu melepaskan jubah kaisarnya dan ia berikan kepada anak perempuan Hugin yang berumur 7 tahun.
Kini Lan wu dan Haiyang berdiri saling berhadapan dalam jarak tiga langkah.
Hiyang membri hormat lalu mulai menyerang Lan wu dengan seluruh kemampuannya.
Setiap serangan Haiyang begitu cepat dan kuat. Lan wu bahkan menjadi sedikit bersemangat untuk melihat gerakan selanjutnya dari Haiyang.
"Hmm... kekuatan tinjunya dapat menghancurkan sebuah batu dengan mudah.." gumam Lan wu seraya menahan tinju Haiyang lalu mendorongnya mundur.
Disisi lain Hugin terlihat begitu kagum akan kemampuan Lan wu. Ia tau dengan pasti bahwasanya Lan wu sama sekali tidak menggunakan energi miliknya.
Bahkan untuk menahan serangan Haiyang ia hanya menggunakan gerakan dasar.
"Tinju Gelombang..!" Ujar Haiyang melepaskan salah satu jurus andalannya.
Lan wu kini menggunakan energi miliknya untuk menahan tinju kuat milik Haiyang.
"Menarik.." gumam Lan wu yang merasakan kesemutan ditangannya.
"Kemampuan mu sungguh tinggi, pusatkan energi mu pada kepalan tinju dan lepaskan dalam satu tarikan nafas" jelas Lan wu seraya mengeluarkan sebuah tapak berukuran sedang kearah Haiyang.
Pemuda tersebut melakukan seperti yang diperintahkan oleh Lan wu.
"Tinju gelombang..!" Ujar Haiyang mengeluarkan jurusnya menerjang tapak api Lan wu.
"Ada apa dengan jurus yang'er...mengapa energi yang dipancarkan puluhan kali lipat dari biasanya..?" Pikir Hugin yang menyaksikan pertaruangan tersebut.
Ledakan hebat tercipta seirama dengan terlihatnya ribuan pedang energi yang menutupi seluruh kediaman Hugin agar tidak terkena efeknya.
"Kau memiliki potensi besar untuk menjadi lebih kuat selama kau memahami karakteristik dari teknik yang kau pelajari" ujar Lan wu sembari menetralkan energinya.
"Terimakasih atas pelajaran dan nasehatnya yang mulia. Anda telah mencerahkan ku" jawab Haiyang seraya membungkuk.
"Paman....paman...tadi pedang milik siapa?" Tanya Putri Hugin dengan suara menggemaskan.
"Anu Que'er...jangan bersikap tidak sopan kepada yang muli.." sergah Hugin dengan perasaan tidak enak.
"Tidak apa-apa jendral Hugin, lagian salahnya Que'er mengapa begitu menggemaskan" jawab Lan wu kemudian berlutut didepan anak kecil tersebut.
__ADS_1
"Jika Que'er mau...paman bisa mengajarkan nya.." tutur Lan wu seraya mengusap rambut gadis kecil dihadapannya.
"Emmm...tapi ibu bilang kalau anak perempuan harus belajar memasak bukan bermain pedang..." Balas gadis tersebut dengan ekspresi lugu.
"Hahahaha...ibu Que'er memang benar, namun paman akan mengajarimu secara diam-diam bagaimana?" Balas Lan wu sembari tersenyum senang.
"Oke.." ucap gadis tersebut.
"Hahaha...maafkan perkataan anak ku yang mulia" ucap Hugin seraya mencubit lembut pipi gadis tersebut.
"Oh ya...ini hadiah dari ku untuk mu Haiyang...anggap saja sebagai ucapan selamat atas posisi barumu" ujar Lan wu seraya memberikan sebuah pedang milik kaisar langit yang beberapa tahun lalu diberikan kepada Lan wu.
"Ini...ini...bukanya pedang kuno dalam legenda..? Kristal bintang..!" Keget Haiyang bercampur senang.
"Tapi yang mulia...benda berharga ini.."
"Itu milik mu, jika kau tidak mau maka berikanlah kepada ayah mu" jawab Lan wu dengan nada malas tau.
"Hem..aku menerimanya" ucap Haiyang dengan cepat menyembunyikan pedang tersebut usai melihat tatapan aneh Hugin.
"Kau hanya perlu memurnikan pedang tersebut dengan darah mu. Adapun teknik pedang tersebut akan dengan sendirinya masuk kedalam pikiran mu"
"Baiklah sudah begitu larut, aku pamit dulu" sambung Lan wu kemudian berjalan tenang meninggalkan kediam Hugin.
"Nak, kamu harus berusaha keras dan jangan mengecewakan yang mulia. Siapapun yang melihat hal ini tentu tau bahwa dia begitu menghargai mu" ujar Hugin menasehati anaknya.
"Tentu ayah, aku pasti akan melindungi yang mulia dengan nyawa ku"
"Keadaan ini cepat atau lambat akan membuat yang mulia turun tangan secara langsung" sambung Hugin seraya menatap jubah milik Lan wu yang diberikan kepada putrinya.
"Apakah itu mungkin ayah..?"
"Aku berharap itu tidak terjadi. Namun berdasarkan ucapan yang mulia kaisar An maka cepat atau lambat yang mulia Lan wu akan turun tangan..
Namun tentu saja tidak ada yang tau bahwa saat ia bertindak, maka hatinya akan tersakiti dengan sendirinya" jelas Hugin dengan tatapan tidak tega.
"Ayah...yang mulia begitu kuat, siapapun di kekaisaran Qin yang menjadi musuhnya pasti akan binasa"
"Memang, tapi semenjak ia menjadi kaisar secara tidak langsung seluruh orang-orang di kekaisaran ini telah menjadi keluarganya. Hati yang mulai Lan wu dengan hati tetua Lan sangatlah berbeda...
Kau seterusnya akan berada disamping yang mulia, nantinya kau akan paham apa yang aku bicarakan" sambung Hugin seraya berjalan masuk kedalam rumahnya.
__ADS_1