
Baru beberapa menit memejamkan mata, Lan wu dikejutkan dengan pengawal yang hendak melaporkan sesuatu.
"Maaf yang mulia, diarea sisi kanan kota Zhong muncul sekitar 100 orang tingkat Suci langti akhir yang berbaris didepan tembok kota..!" Ucap pengawal tersebut sontak membuat Lan wu berdiri dari duduknya.
"Apa kau bilang..?! Segera panggil jendral Hugin untuk bergegas kesana, kau dan prajurit istana segera amankan masyarakat menuju tempat perlindungan..!" Perintah Lan wu lalu menghilang dengan cepat dari hadapan pengawal tersebut.
Sesampainya Lan wu disisi kanan kota, ia langsung naik ke tembok yang telah berbaris rapi ratusan pemanah yang siap melepaskan busurnya.
"Yang mulia...mereka ingin masuk kedalam benteng kota, apa yang harus kita lakukan..?" Tanya penjaga kota Zhong dengan nada khawatir.
"Tetap siagakan anak prajurit mu. Aku akan berbicara langsung dengan pemimpin mereka" jelas Lan wu menepuk pundak pria tersebut.
Ia maju ke barisan paling depan di tembok lalu melompat turun kebawah.
"Yang mulia..!" Teriak Hugin dengan nada khawatir dari atas tembok.
"Tenanglah...kalian tetap waspada" balas Lan wu dengan nada tenang.
Lan wu maju beberapa langkah mendekati pasukan berkuda tersebut tanpa mengeluarkan energi ataupun auranya.
"Maaf membuat keributan di tempat anda yang mulia, aku dan pasukan ku mendengar bahwasanya anda sedang mencari orang-orang untuk ditempatkan kedalam pasukan anda.
Kami merupakan kelompok pengelana dari satu kota ke kota lain dan hidup bergantung dari bayaran keluarga besar ataupun orang-orang yang memberikan kami pekerjaan" ujar pria dihadapan Lan wu dengan nada tenang.
"Kami hendak menawarkan diri untuk bergabung didalam pasukan anda dan bersedia melayani kekaisaran Qin selama kebutuhan kami terpenuhi" sambung pria tersebut.
"Kau bekas tentara?" Tanya Lan wu menatap pemimpin rombongan tersebut.
"Anda benar yang mulia, tepatnya kami semua adalah pasukan mandiri dari aliansi 4 kekaisran sewaktu berperang melawan istana naga putih" jawab pria tersebut membuat Lan wu sedikit terkejut.
"Siapa namamu?"
"Nama hamba Mianfei, yang mulia" jawba pria tersebut dengan nada sopan.
"Hugin, segera buka gerbang ini dan bawah mereka ke barak pelatihan. Sediakan pakaian dan senjata lalu latih mereka secara rutin selama 3 bulan" perintah Lan wu yang kemudian dituruti oleh Hugin.
__ADS_1
"Terimakasih yang mulia, nyawa ku kini milik anda..." Ujar Mianfei lalu mengikuti arahan Hugin.
Lan wu merasa sedikit lega dengan bertambahnya beberapa orang yang berpengalaman terlepas dari tujuan sebenarnya kelompok tersebut bergabung, namun selama tidak ada niat buruk terhadap kekaisaran ia tidak mempermasalahkan itu.
Seminggu sejak diumumkan peningkatan pajak, Lan wu banyak mendengarkan suara-suara dari pihak lain yang mempertanyakan keputusannya. Tentu saja sesuai dengan yang dikatakan oleh Lan wu sebelumnya.
Ditengah situasi tersebut, Lan wu menyuruh keluarga Jia untuk memasukkan barang dagangan mereka ke 4 kota tersebut dengan harga pasaran yang normal.
Barang-barang yang dimasukkan kedalam kota-kota tersebut adalah, herbal, pil, bahan pangan, besi, serta senjata - senjata kelas atas.
Bukan hanya di kota tersebut, Lan wu juga menyuruh keluarga Jia untuk menawarkan beberapa bahan kultivasi dan senjata kelas langit kepada sakte-sakte di 4 kota tersebut.
Lan wu berencana untuk menekan ekonomi ke 4 kota terutama paviliun 5 warna, dan menjalin relasi dengan sakte-sakte dan keluarga besar di ke 4 kota tersebut.
**
Tiga hari kemudian Lan wu dan Yiyi mendapat surat undangan dari pedang dewa untuk menghadiri ujian antar 5 sakte di pedang dewa.
Lan wu tidak melewatkan kesempatan ini untuk berlibur sejenak dari pekerjaannya sebagai seorang kaisar. Ia meminta jendral Hugin dan 20 pasukan naga emas untuk menemaninya menuju pedang dewa.
"Sakte ini semakin besar ya suami ku.." kagum Yiyi seraya memegang erat tangan Lan wu.
"Benar... rasanya sudah sangat lama aku tidak kesini.." balas Lan wu yang sedikit terharu.
Kedatangan Lan wu disambut meriah oleh murid-murid pedang dewa yang telah mengetahui kedatangan mereka.
"Selamat datang yang mulia.." sambut Wulan Sui dengan senyum ramah.
"Apakah aku terlambat?" Tanya Lan wu seraya membantu Yiyi turun dari kereta kuda.
"Belum yang mulia, silahkan ikuti aku ketempat duduk anda" ujar Wulan sui menuntun keduanya.
Setiap tetua dan murid-murid khusus yang melihat Lan wu sontak berdiri dan memberi hormat hingga akhirnya ia sampai di sebuah kursi yang khusus diduduki oleh orang-orang penting.
"Salam kepada ayah dan kakek ketua Jian" ucap Lan wu dan Yiyi memberi hormat kepada kaisar An dan Jian.
__ADS_1
"Hahaha...aku sungguh tidak menyangka bahwa kau bisa hadir kemari, ayo silahkan duduk" tutur Kaisar An.
"Diamana kakak Ling?" Tanya Lan wu yang tidak menemukan keberadaan Ling.
"Ia sedang mengerjakan beberapa urusan bersama muridnya" jelas Jian dengan nada santai.
"Bocah...kau sungguh berbakat dalam memerintah, mengapa kau tidak tinggal saja di istana?" Ujar Jian meledek Lan wu.
"Kakek busuk..! Kau tidak berubah ya..?" Geram Lan wu hendak menarik janggut Jian.
"Hahahaha...kakek Jian..jangan menggodanya lagi, ia sudah cukup tersiksa selama ini" sambung Yiyi tertawa kecil.
"Daripada kau begitu panas, mengapa tidak melihat kearah ketua-ketua sakte di sisi kanan sana?" Suruh Jian seraya meneguk minumannya.
Lan wu refleks menatap kearah dimana para ketua sakte duduk. Ia tidak menyangka bahwasanya sakte elang surgawi telah dipimpin oleh anak dari Jan.
Sementara ketua sakte kuil matahari juga telah digantikan oleh Sun er cucu dari ketua Shu.
"Kemampuan mereka telah berkembang menjadi begitu mengerikan" tutur Lan wu usai mengamati kedua wanita tersebut.
Tetua Feng memulai pertandingan tersebut setelah menjelaskan peraturan dalam pertandingan.
"Semangat lah Xu'er...! Ibu mendukung mu jangan kalah.!" Teriak Yiyi seraya melambai-lambaikan tangannya dari kursi penonton.
Lan wu yang melihat hal tersebut sontak menepuk jidatnya dengan perasaan campur aduk.
Pertandingan berlangsung antar Xuya melawan murid dari gunung persik.
Pertaruangan keduanya berjalan singkat dengan kemenangan Xuya.
Para tetua dan seluruh orang yang menyaksikan pertandingan tersebut memuji kemampuan Xuya yang mengalahkan lawannya dengan satu jurus.
Pertandingan demi pertandingan berlangsung dengan begitu menarik terkecuali ketika Xuya yang bertanding. Tidak peduli siapapun lawannya ia berhasil mendapatkan kemenangan dengan begitu mudah.
Sebenarnya Lan wu tidak begitu memperhatikan pertandingan tersebut melainkan bernostalgia ditempat tersebut.
__ADS_1
Hingga akhirnya sebuah insiden terjadi di arena.